Warna warni Kampung Wisata Tepian Sungai Kapuas di Pontianak

Warna warni Kampung Wisata Tepian Sungai Kapuas di Pontianak

Warna warni Kampung Wisata Tepian Sungai Kapuas di Pontianak. 

Sejak tinggal di kota Pontianak, tentu saja sebuah destinasi wisata kota nan unik juga saya kunjungi. Terkenal dengan sebutan Kampung Wisata Tepian Sungai Kapuas yang ternyata bermula dari program CSR yang diterapkan Bank Indonesia di Pontianak ini.

Program CSR dari Bank Indonesia. 
Corporate Social Responsibility atau CSR secara kasar bisa diartikan sebagai suatu konsep atau program yang menjadi bentuk tanggung jawab dari organisasi atau perusahaan terhadap seluruh stakeholder-nya, termasuk lingkungan sekitarnya. Di Pontianak, Bank Indonesia pun memilih sebuah kampung di tepian sungai Kapuas untuk di upgrade dalam bingkai CSR. Tentu saja dengan semangat gerakan pemuda dan masyarakat sekitarnya, akhirnya Kampung Wisata Tepian Sungai Kapuas pun telah nampak kinclong.

Kampung Wisata Tepian Sungai Kapuas di Pontianak

Warna warni di ujung gang Kuantan. 
Berlokasi di jalan Imam Bonjol gang Kuantan, termasuk di Kelurahan Benua Melayu Laut, Kampung Wisata Tepian Sungai Kapuas langsung bisa terlihat karena warna warni cat pada rumah dan jalanan kampung. Sekilas mengingatkan saya pada sebuah kampung wisata di kota Malang, mungkin saja warna warninya terinspirasi dari sana. Bukan hanya warna warni cat saja, tentu saja kebersihan dan kerapian penataan kampung juga telah dilakukan. Bagaimanapun program CSR bukan hanya manfaat sesaat saja, ada unsur manfaat yang berkelanjutan.

Dengan tampilan kampung yang penuh warna, dampak yang terlihat jelas saja banyak warga Pontianak yang berkunjung ke Kampung Wisata Tepian Sungai Kapuas ini, mulai sekedar berfoto ria hingga nongkrong di cafe-cafe yang ada di sekitar kampung wisata ini. 

Dampak berkelanjutan. 
Kampung Wisata Tepian Sungai Kapuas ini mulai dibentuk di awal tahun 2017, dan di pertengahan tahun 2017 ini di mata awam saya mulai terlihat kelunturannya. Saya berharap agar Bank Indonesia bisa tetap melakukan pendampingan di kampung wisata ini, tentu sebagai bentuk program CSR berkelanjutannya. Karena jika langsung dilepas tanpa ada pendampingan, bisa saja pola warga sekitar kampung wisata yang masih belum sepenuhnya sadar lingkungan seperti membuang sampah sembarangan hingga kurangnya maintenance penataan dan perawatan akan membuat luntur semangat upgrade di Kampung Wisata Tepian Sungai Kapuas ini. 

Baca juga kunjungan saya di Tugu Khatulistiwa Pontianak

Semoga dampak berkelanjutan terus bersedih di kampung wisata kota yang unik ini, bahkan semoga juga menular pada Kampung-kampung lain di sekitarnya. Saya tak bisa membayangkan jika di seluruh tepian sungai Kapuas bisa berubah menjadi destinasi kunjungan wisata, yang tentu saja bisa menghebohkan kota Pontianak di dunia internasional. 

Use Facebook to Comment on this Post