Terik siang vs es teh manis

Terik siang vs es teh manis.

Seperti biasa, kegiatan saya sebagai seorang marketing adalah keliling kota, tentu saja untuk memasarkan produk yang saya jual. Walaupun sedikit dingin akibat hujan semalam, ternyata di siang hari kota Surabaya kembali di sapa panas pancaran sang mentari.

budi hermantoSejenak di siang hari saya mampir di sebuah warung pinggir jalan di daerah Kutisari, sebuah es teh yang sangat menggiurkan tak lama pun tersaji dengan segarnya di meja di depan saya. Di warung yang tak terlalu besar ini sudah banyak orang-orang yang memang terlihat sudah biasa kongkow. Saya sapukan pandangan, tidak ada seorang perempuan pun, bahkan sang penjual pun seorang laki-laki.

Bersama seorang teman lama yang sudah lebih dulu sampai di warung, saya pun berbincang melepaskan penat di siang yang cukup panas ini. Apapun kami bincangkan, mulai dari dunia sales marketing hingga makna makrifat. Sales yang berdiskusi tengtang makrifat, ini yang salah tempatnya atau orang, hehehe..

Kesana kemari kami berdiskusi, sesekali kupandangi segelas es teh di depan saya. Embun yang menembus gelas terlihat sudah ada yang turun mengalir hingga menggenangi meja. Sejenak terlintas di pikiran saya, teh. Yup, teh! Daun tanaman yang dikeringkan dan kemudian diseduh di air panas itu bernama teh. Rasanya sangat khas, apalagi ketika dicampur dengan sesendok dua sendok gula pasir dan beberapa butir es batu, hmmm yummy. Manis dan segar rasanya, cukup bisa menghipnotis saya dari teriknya siang ini.

Lalu timbul sebuah gejolak pikiran, siapa yang pertama kali menjadikan daun teh sebagai minuman nikmat seperti ini? Ya sekalipun bisa saja saya bertanya langsung pada eyang Google, namun sebagian diri saya mencegahnya, sebab sebagian itu ingin bertanya pada orang-orang sekitar saya.

So, taukah engkau sobat blogger?

Budi Hermanto on blog

Posted from WordPress for Android on Xperia Pro

Use Facebook to Comment on this Post