Sensasi pengalaman pertama Donor Darah Apheresis

Sensasi pengalaman pertama Donor Darah Apheresis

Sensasi pengalaman pertama Donor Darah Apheresis.

Kamis 24 Desember kemarin, saya kembali berkunjung ke PMI, sudah waktunya bagi saya untuk donor darah.

Ternyata gedung PMI Surabaya di kawasan monumen bambu runcing ini sedang direnovasi, terutama bagian luarnya. Perubahan mencolok terasa ketika saya sampai di depan pintu utama, wah sekarang pintunya kaca bening, sempat kaget karena dari luar terlihat tembus pandang hingga terlihat aktifitas di dalam gedung. Belum reda kaget, pintu langsung terbuka otomatis ketika saya hendak membuka, wah keren.

Seperti biasanya ada proses pemeriksaan alias cek kesehatan bagi pendonor. Sekedar informasi saja, saya baru rutin donor darah sekitar 7 tahunan terakhir, dalam 1 tahun bisa donor antara 4-5 kali. Bahkan donor darah pertama dulu, tujuannya bukan untuk berbagi darah, namun untuk menantang ketakutan saya pada jarum suntik. Dan inilah saya, akhirnya jadi keranjingan rutin donor darah seperti ini. Karena jika sudah waktunya donor, badan ini seperti terasa capek dan pegal-pegal.

Cek hemoglobin pun lancar dengan kadar HB 135, cek kesahatan pun berlanjut ke ruang cek tekanan darah. Tekanan darah 130, sehat kata dokter yang memeriksa saya.

“Pak Budi sudah pernah donor darah apheresis?” tanya sang dokter.

Hah, apapula nih? Sekilas penjelasan dokter yang saya tangkap ternyata donor darah apheresis adalah donor darah khusus. Tidak seperti donor darah umumnya, hanya diambil trombositnya saja. Dan proses pengambilannya memakai mesin khusus. Sang dokter juga mengatakan bahwa saat ini ada bayi usia sekitar 40 hari yang sedang menderita kanker, dan sangat membutuhkan trombosit untuk kelangsungan hidupnya. Dan kebetulan spesifikasi darahnya sama dengan saya.

“Tapi proses donor darah apheresis berbeda, Pak Budi” sahut sang dokter.

Walaupun sudah lolos tes HB dan tekanan darah, pendoroh apheresis memerlukan 1 tes laboratorium secara langsung. Bahkan waktu pengambilan darah juga tidak seperti donor darah biasa, diperkirakan total waktunya sekitar 1-2 jam.

“OK, tidak masalah dok” sahut saya antusias, walau ribet namun kalau mendengar seorang bayi sakit kanker begitu, saya hanya berharap bisa membantu meringankan penderitaannya saja.

Singkat cerita di ruang pengambilan darah, diambilah sedikit darah saya, untuk diperiksa dulu di lab yang ada di lantai atas kata sang suster. Menunggu sekitar setengah jam, dan sang suster lalu memberitahukan bahwa darah saya sehat dan cocok dengan pasien, lega rasanya mendengarnya. Proses pengambilan donor darah apheresis pun dimulai, sekotak mesin sudah ada disamping saya. Terlihat banyak selang, ribet memang, sambil menyiapkan sang suster pun menjelaskan soal mesin apheresis itu.

Sebenarnya sama saja, lengan tangan kanan saya tetap ditusuk dengan 1 jarum khusus donor saja, pembedanya hanya pada selang yang bercabang, 1 untuk penyedotan darah dan 1 untuk pengembalian darah. Yup, yang diambil hanya trombosit saja, bagian darah yang lain akan dikembalikan ke tubuh. Tenang, semua peralatan jarum dan selang hanya sekali pakai dan steril.

Proses pengambilan darah bervariasi pada setiap orang, mesin akan mengkalkulasi sendiri berapa waktu yang diperlukan. Dan menurut suster, kalkulasi mesin untuk darah saya bisa selesai sekitar 45 menit. OK, siapa takut. Sensasi seperti pengalaman pertama donor dulu seperti menyapa saya kembali. Ada 2 hal yang bisa terasa selama proses donor darah apheresis ini, bibir bisa terasa seperti menebal, yang saya rasakan seperti kata orang jawa bilang ‘gringgingen’ pada bibir. Tidak terus-terusan koq, hanya sesaat. Rasa yang lain adalah ketika menjelang selesai pengambilan darah, sejenak terasa rasa dingin yang lebih, seperti habis mandi air dingin di malam hari di gunung pula. Tapi sebentar saja koq, oya selama proses pengambilan sang suster juga sempat memberi saya segelas minuman kalsium vitamin c, katanya untuk membantu melawan efek rasa bibir menebal dan rasa dingin.

Ribetnya proses donor darah apheresis langsung hilang ketika melihat hasil sekantung trombosit yang sudah terambil, tidak merah tapi berwarna kuning pudar. Apalagi mengingat trombosit ini diperlukan seorang bayi yang sakit kanker, ah semoga bermanfaat dan bisa membantu. Trombosit yang dihasilkan ini lebih berkualitas dibandingkan trombosit yang diolah dari donor darah pada umumnya, sebab 1 kantung trombosit dari pendonor apheresis ini sama seperti 10 kantong dari pendonor umum. Apalagi semakin fresh pengambilannya akan semakin berkualitas, makanya donor darah apheresis biasanya diperlukan secara per kasus. Jadi ketika ada pasien yang membutuhkan baru segera dicarikan pendonornya.

Saran saya untuk anda yang ingin menjadi pendonor darah apheresis, persiapkan diri dengan kesehatan yang terbaik, persiapkan mental juga sebab lamanya proses bisa melemahkan keyakinan. Dan jangan lupa untuk makan lebih dulu, sudah tidur yang cukup alias jangan sampai ketiduran selama proses pengambilan darah, dan buang air kecil sebelumnya.

Semoga bermanfaat, hanya segini yang bisa saya bagikan. Semoga cepat sembuh ya nak.

Informasi: Hari Minggu 27 Desember 2015 ada kegiatan donor darah ketika Car Free Day tepat di depan Hotel Mercure Mirama Surabaya. Silahkan datang ya.

Incoming search terms:

  • donor darah apheresis
  • apheresis adalah
  • donor apheresis
  • cara donor darah trombosit

Use Facebook to Comment on this Post