Sampai jumpa Ibuk

Hari ini terasa matahari belum bersinar dengan terangnya, mungkin matahari juga baru saja terbit. Malah terasa hawa dingin nan sejuk mengantarkan saya memasuki rumah kakek buyut saya di Blitar. Bahkan pandangan saya terasa sedikit berkabut, yang benar saja, ada kabut di kota.

Pintu depan hanya saya pandangi sambil terus berjalan ke samping. Sengaja saya masuk melalui lorong samping yang tembus pintu belakang. Sejak kecil memang saya dibiasakan oleh nenek ketika berkunjung ke rumah kakek buyut di Blitar, selalu lewat lorong samping. Katanya pintu depan hanya untuk tamu saja, sedangkan kita keluarga.

Lorong samping memutari rumah hingga melewati sebuah sumur, sumur tua dengan lubang yang besar dan terawat, bibir lubang sumur sekitar 3 meteran. Sejak dulu saya selalu berandai-andai dengan kedalaman sumur itu, air yang tampak jernih di dalamnya saja bisa sedalam 30 meteran, belum dasarnya. Sumur yang selalu terasa misterius bagi saya. Melewati sang sumur, tak jauh di depan terlihat pintu belakang rumah yang disampingnya terdapat pintu dapur.

Tepat di pintu belakang, saya tidak langsung masuk, saya masih berdiri memandangi suasana dalam rumah. Rumah Jawa yang terasa luas dan bersih, pilar-pilar rumah dari kayu terlihat kokok berdiri di tengah ruangan sana. Tidak ada langit-langit rumah layaknya rumah kebanyakan di jaman sekarang. Ruangan terasa tinggi, bahkan genting rumah berderet-deret rapi terlihat dari sisi dalam. Meja makan dari kayu berwarna hitam legam tak jauh dari tempat saya berdiri, seperti menyapa seperti biasanya. Rumah kakek buyut ini terasa luas dan bersih, serasa di jaman saya masih balita dulu. Yup, saya ingat betul beberapa kali berkunjung kesini saat itu, dan memang saat itu saya belum sekolah.

Entah kenapa? Masih berdiri tertegun di pintu belakang, memandangi nuansa dalam rumah hingga terasa air mata meleleh. Sesenggukan saya tahan agar tidak terburai layaknya anak kecil kehilangan mainan kesayangannya. Disana di tengah ruangan, duduk di deretan kursi panjang terbuat dari kayu tanpa pelapis bantal, terlihat Lek Yono berbincang santai dengan Mbah Kasir Putri, ibunya yang sekaligus nenek buyut saya. Mereka terlihat kaget ketika saya datang tertegun sambil menahan air mata yang bahkan tidak bisa ditahan.

Entah kenapa? Serasa diburu oleh waktu, saya hanya sekilas memandangi mereka berdua. Langsung saja saya menoleh ke samping kiri, ke ruang dapur. Yakin saya melangkah perlahan, lagi-lagi dapur itu terasa luas dan bersih. Terus berjalan sekilas di sebelah kiri sana di meja dapur tampak Pakde Untung berdiri berbincang berhadapan dengan Mbah Kasir, kakek buyut saya sekaligus sang pemilik rumah. Kembali hanya sekilas saya pandangi mereka, sambil terus melangkah menuju 2 sosok perempuan kakak beradik yang sedang duduk santai di lantai.

Ibuk Momo, itu nama yang biasa saya panggilkan, anak kedua dari kakek nenek buyut saya. Dia berbincang akrab berdua bersama kakaknya, Ibuk, panggilan saya untuk nenek saya, perempuan yang merawat dan mendidik saya sejak lahir hingga usia sekolah dasar. Jadi jangan heran jika beliau saya panggil Ibuk.

Ibuk terlihat lebih gemuk dari biasanya,  bahkan dulu dulu usia mudanya tidak pernah segemuk ini. Malah kulitnya terlihat bersih, muda dan kuning langsat bak bangsawan Jawa. Memakai baju dan jarik Jawa, dengan rambut bagian belakang di udeng seperti yang dulu biasa beliau lakukan bila berkunjung ke rumah saudara atau di acara undangan perkawinan. Masih dengan tangisan yang berusaha ditahan, yang bahkan semakin sulit saja ditahan, saya jatuhkan diri ini ke lantai dan langsung saya peluk Ibuk. Segera saya cium pipi sisi kanan, bahkan mulut ini seperti susah bersuara, mungkin karena menahan air mata. Entah kenapa? Saya merasa seperti anak kecil yang akan ditinggal ibunya di hari pertama sekolah. Padahal hanya ditinggal keluar kelas saja, nanti siang pulang sekolah juga ketemu lagi kan?

Entah kenapa? Baru 1 pipi yang tercium, bahkan panggilan Ibuk pun belum saya ucapkan, sebuah tenaga yang sangat kuat telah menarik saya menjauh. Menjauh hingga sosok-sosok tadi sudah tampak lagi, rumah Jawa yang luas dan bersih itu pun sudah sirna. Berganti dengan sesenggukan dan air mata yang keluar layaknya bendungan air yang jebol. Sendiri saya terjaga di ranjang yang hangat, namun perasaan anak kecil di hari pertama sekolah itu masih saja menggelayut.

Termenung sesaat selepas mengendalikan bendungan yang jebol tadi, mengingat kembali nuansa trans ruang dan waktu yang terjadi barusan. Bahkan sosok-sosok yang lama tak jumpa itu pun seperti menyapa kedatangan saya tadi. Lek Yono, meninggal ketika saya menjalani kuliah. Mbah Kasir Putri, meninggal ketika saya belajar di akhir Sekolah Dasar. Pakde Untung, meninggal tak lama setelah saya tamat SMA. Mbah Kasir, meninggal sebelum saya didaftarkan di Sekolah Dasar. Ibuk Momo, meninggal belum ada setahun yang lalu. Sedangkan Ibuk, belum ada 100 hari beliau wafat. Sampai jumpa Ibuk, sampai jumpa, bahkan saat ini budi sudah sangat merindukanmu!

Baca: Film kisah perjuangan seorang ibu dari Gunung Kidul membesarkan anaknya.

Mohon doa-nya, Al Fatihah!
“Setialah pada isterimu, berjuanglah untuk anakmu, maka Tuhan kan selalu membantumu..”
Ibu Koestinah
Pebruari 1928 – 27 Oktober 2017

Use Facebook to Comment on this Post