Perjalanan ke timur, menyapa salah satu calon ibukota baru

Perjalanan ke timur, menyapa salah satu calon ibukota baru

Di akhir Juli 2017 yang lalu, saya mendapat tugas untuk melakukan perjalanan traveller ke kota Palangka Raya di Kalimantan Tengah. Kota yang konon menjadi salah satu kandidat calon ibukota Indonesia di masa depan. Yup, dari Pontianak saya akan menggunakan jalan darat, karena memang rencananya bukan hanya Palangka Raya saja yang akan saya kunjungi.

Kabar tentang sudah tersambungnya jalan raya trans Kalimantan ternyata tidak hanya isapan jempol belaka, memang jalanan yang membelah hutan belantara di Kalimantan ini sungguh luar biasa. Sensasi misteri, menegangkan dan sekaligus membanggakan selalu tersaji selama perjalanan. Kenapa misteri? Tentu saja, ini pengalaman pertama saya menuju Kalimantan Tengah. Dan menegangkan, bagaimana tidak? Hutan yang dipenuhi dengan pohon-pohon setinggi gedung perkantoran itu selalu menyapa saya dengan anggunnya. Membanggakan?! Ya iyalah, ini hutan asli bro, hutan yang sudah jarang terlihat bahkan ketika saya masih di pulau Jawa. Konon dunia akan selalu memperhatikan jika sesuatu terjadi dengan hutan di Kalimantan, yang memang dianggap sebagai salah satu paru-paru dunia selain hutan Amazon di Amerika Selatan.

Selama saya menjelajahi Kalimantan, saya selalu bermodal pada map atau peta, apalagi sekarang dengan smartphone yang menyediakan aplikasi map online, jelas sangat membantu. Akurasi lokasi dan jarak sudah sangat tajam, mendekati realita, sehingga saya bisa memperkirakan tindakan yang diperlukan selama perjalanan. Misalnya,  saat itu saya sengaja berangkat Minggu, sebab perkiraan sebelum matahari tenggelam saya akan berada di kota terakhir sebelum memasuki hutan perbatasan Kalbar dan Kalteng. Sekedar informasi, disini di jalan trans Kalimantan yang membelah hutan belum ada lampu penerangan. Jadi saran saya jika belum berpengalaman dengan perjalanan dalam hutan di malam hari sebaiknya sebelum gelap segera hentikan perjalanan dan menginap di hotel atau guess house yang ada di kota kecamatan sekalipun.

Salah satu jembatan terpanjang di Indonesia.
Dari Pontianak saya bergerak ke arah timur, menelusuri wilayah sungai Ambawang hingga berbalok ke arah selatan. Oya, tadi sekitar 3-4 jam perjalanan setelah berangkat dari Pontianak, saya sempat lewat di Jembatan Tayan. Sebuah jembatan yang di awal tahun 2017 ini baru saja diresmikan oleh Presiden Jokowi, dengan desain yang unik jelas saja mengundang yang lewat untuk berhenti sejenak untuk ber-selfie ria. Saya pun tentu tak bisa menahan godaannya, dan sebuah video singkat penampakan dari Jembatan Tayan pun jadi sekilas oleh-oleh perjalanan saya menuju Palangka Raya berikut ini.

Kabarnya Jembatan Tayan menjadi salah satu jembatan terpanjang di negeri ini. Tepatnya ketiga setelah Jembatan Suramadu di Jawa Timur dan Jembatan Pasupati di Bandung. Untuk cerita lebih lanjut selama di Jembatan Tayan, insha Allah akan saya ceritanya di tulisan saya selanjutnya, untuk tulisan kali ini saya akan fokus pada perjalanan saya menuju kota Palangka Raya.

Menyapa hutan di perbatasan.
Semalaman saya menginap di sebuah kota kecamatan bernama Tayap, secara geografis masuk dalam wilayah kabupaten Ketapang. Itu artinya masih ada di provinsi Kalimantan Barat, dan ternyata ada sebuah, iya hanya sebuah saja hotel, sekalipun bukan berbintang namun sangat layak dan bersih untuk persinggahan melepas capek semalaman. Senin pagi-pagi sekali, sengaja selepas subuh saya melanjutkan perjalanan, tentu agar mencapai wilayah Kalimantan Tengah tidak terlalu siang. Sesuai Map Online, pagi ini saya akan melintasi dan membelah hutan di perbatasan. Benar saja, begitu selepas kota Tayap, langsung saja pemandangan hutan sudah menyapa dengan anggunnya. Hijau dan tinggi besar, bahkan tanah yang dipijak terasa mulai berkelok-kelok. Naik turun, kanan kiri, ternyata bukan sekedar hutan tapi wilayah perbukitan yang sedang saya lewati. Perlu kita ketahui, di Kalimantan tidak ada gunung berapi alias gunung yang aktif dengan lava di dalamnya, mungkin ribuan atau milyaran tahun dulu pernah ada gunung aktif. Jadi tentu saja tak ada gempa vulkanis yang pernah dirasakan oleh masyarakat di Kalimantan ini.

Gerombolan pohon-pohon besar dan tinggi layaknya gedung-gedung terus menyapa saya selama sekitar 2 jam, hingga gerbang batas provinsi Kalbar dan Kalteng pun tampak. Jangan dikira sang gerbang akan berada di kota atau pemukiman pedesaan, tidak, ini masih ditengah hutan. Namun disekitar gerbang berdiri berderet-deret kedai atau warung makanan, ya setidaknya juga bisa menjadi tempat melepas lelah sejenak. Dan ternyata bukan hanya saya saja yang melakukannya. 

Sekitar 2 jam selepas memasuki wilayah hutan Kalimantan Tengah, akhirnya kota Nanga Bulik menyapa. Kota asri dengan lalu lalang kendaraan yang sangat jarang. Maklum dulu Nanga Bulik hanya sebuah kota kecamatan, namun sejak pemekaran wilayah Kabupaten di Kalimantan Tengah, sekarang telah menjadi ibukota dari Kabupaten Lamandau. Inilah Kabupaten pertama di Kalimantan Tengah yang bisa ditemui sejak memasuki gerbang perbatasan Kalbar Kalteng tadi.

Bundaran Rusa dan Adipura.
Seharian saya melaksanakan tugas saya di kota yang tenang ini, bahkan Rumah Sakit juga masih ada 1 yaitu RSUD Lamandau. Dengan mudah saya bisa temukan, tentu saja dengan bantuan aplikasi map online di handphone saya. Bahkan secara tak sengaja terlihat suatu lokasi dengan nama unik di peta, Bundaran Rusa namanya. Terletak di area perkantoran pemerintah daerah kabupaten Lamandau. Kombinasi nama Nanga Bulik dan Bundaran Rusa mengusik ingatan saya, walaupun masih asing bagi telinga saya, namun sepertinya saya pernah membaca nama ini disuatu waktu dulu. Benar juga, dari mbah Google saya bisa tau bahwa kota Nanga Bulik pernah mendapatkan penghargaan Adipura di tahun 2014 bersama kota kelahiran saya, Surabaya. Dengan kategori Taman Kota, sudah tentu taman Bundaran Rusa inilah taman yang dimaksud, karena taman inilah satu-satunya taman yang ada di kota Nanga Bulik.

Ternyata dari Nanga Bulik menuju Pangkalan Bun hanya sekitar 2 jam. Cukup ramai karena ternyata Pangkalan Bun sudah terbentuk sejak jaman Kerajaan Banjar di Banjarmasin, bahkan Kesultanan disini konon adalah anak turun dari Sultan Banjar. Kesultanan Kutaringin nama kerajaannya, bahkan dulu wilayahnya mencakup hingga kota Sampit. Saat ini kota Pangkalan Bun menjadi ibukota dari Kabupaten Kotawaringin Barat, berbeda dengan Sampit yang berada di Kabupaten Kotawaringin Timur.

Istana Kuning yang eksotik.
Setelah mengunjungi RSUD Sultan Imanuddin, saya pun tergerak mengunjungi keraton dari Kesultanan Kutaringin. Letaknya ditepian bukit kecil, tetap di dalam kota. Sebuah tulisan besar terpampang, Istana Kuning. Nama yang membuat penasaran, karena keratonnya pun tidak berwarna kuning. Semakin penasaran, saya pun segera berkunjung, ternyata tidak ada yg berkunjung selain saya. Bahkan gerbang istana pun masih terkunci, seorang abdi istana pun dengan ramah mempersilahkan saya masuk.

Istana seluruhnya terbuat dari kayu ulin, pohon yang terkenal dengan julukan kayu besi. Masih ingat dengan kunjungan Raja Arab Saudi ke Indonesia beberapa bulan yang lalu? Masih ingat apa yang diberikan Presiden Jokowi kepada Raja Arab Saudi, yup sebuah bibit pohon ulin. Tentu saja filosofinya agar hubungan persahabatan kedua negara bisa sekeras kayu pohon ulin yang laksana besi itu.

Di dalam istana saya selalu didampingi sang abdi istana, sambil menceritakan seluk beluk istana Kesultanan Kutaringin yang penuh kental dengan nuansa sejarah dan spiritual. Saya janji, insha Allah di tulisan selanjutnya saya akan bercerita lebih detail selama berkunjung di Istana Kuning. Dan ternyata nama Sultan Imanuddin adalah nama salah satu Sultan yang terkenal dari Kesultanan Kutaringin.

Keesokan hari saya langsung menuju Sampit, ibukota Kabupaten Kotawaringin Timur, sekitar 3-4 jam saja dari Pangkalan Bun. Inilah kota yang di awal era 2000an pernah terjadi kerusuhan hingga banyak nyawa yang terhilangkan. Namun itu dulu, sekarang semua pihak sudah duduk bersama, membuka lembaran baru dan berjanji untuk hidup harmony dalam berbangsa dan beragam.

Semangat lembaran harmony dari Tugu Perdamaian di Sampit.
Bahkan menjelang memasuki kota, sebuah monumen sudah menyambut dengan gagahnya. Tugu Perdamaian namanya, bahkan ornamen monumen banyak memperlihatkan kisi-kisi budaya dari pihak-pihak yang dulu bertikai. Tugu yang dikelilingi dengan taman yang sedang dalam renovasi pembentukan, saya rasa jika monumen dan taman bisa dibentuk dan dirawat dengan baik akan bisa mendapatkan Adipura kategori Taman Kota seperti yang pernah diraih Bundaran Rusa di Kabupaten Lamandau.

Palangka Raya hanya sekitar 3 jam dari Sampit, sepanjang jalan memang nampak banyak tanah yang masih belum dikelola. Padang ilalang dan rawa-rawa seperti berkata siap untuk dikelola dan dibentuk untuk memperkokoh kota Palangka Raya. Memasuki kota yang konon jadi salah satu calon ibukota Indonesia di masa depan ini, membuat saya seperti ada di kota yang berbeda. Yup, ada nuansa yang berbeda dari kata-kata yang lain.

Kota yang sudah dipersiapkan.
Sekedar informasi saya lahir dan tumbuh dewasa di kota besar, bahkan metropolitan malahan, Surabaya adalah yang saya maksud. Nah, kota Palangka Raya secara fisik seperti lebar jalan maupun tata kota seperti di wilayah pusat kota metropolitan. Bedanya di Palangka Raya jumlah penduduknya masih jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan kota metropolitan. Seberapa jauh bedanya? Kalau perkiraan saya bisa mencapai sepersepuluh, wow!

Coba bayangkan, kota Surabaya saja hingga akhir 2016 berpenduduk sekitar lebih dari 3 juta jiwa, sedangkan Palangka Raya ditempati hanya sekitar 300 ribu jiwa saja. Padahal dengan fisik luas dan tata kota yang mirip. Jalan Raya di Palangka Raya dibentuk 3 ruas, minim dengan 2 ruas yang masih memiliki tanah kosong dipinggir sekitar 1 meteran. Bahkan jalanan di gang-gang perumahan lebarnya muat untuk 2 mobil yang bersinggungan. Padahal sekali lagi, semua tatanan itu dengan jumlah masyarakat yang masih minim. Ya kasarnya saya cuman bisa berkata, lengang bro!

Satu lagi yang cukup mengejutkan adalah ketika saya berada di traffic light, ketika lampu menyala merah dan berhenti, saya khusus perhatikan nih, tak ada pengendara yang berhenti melebihi garis batas putih. Tidak ada polisi, suasana pun lengang, bahkan gilanya lagi tak ada pengendara motor yang menerobos lampu merah, sekalipun jalanan lengang. Ah mungkin kebetulan saja, oo tidak ternyata. Saya kelilingi kota yang konon didirikan sengaja oleh para pendiri bangsa ini, dan ternyata sama. Keren!

Palangka dalam bahasa Dayak berarti tempat atau wadah yang suci, sedangkan dalam budaya Sunda adalah tahta penobatan sang raja. Raya sendiri bisa berarti besar, jadi silahkan artikan sendiri arti dari Palangka Raya. Konon kota ini dulu awalnya tiang pancang pertamanya disematkan sendiri oleh salah satu sang proklamator negeri ini, yup Presiden Soekarno dulu yang melakukannya, tepatnya pada 17 Juli 1957. Bahkan monumennya masih terawat hingga saat ini, dinamakan Tugu Soekarno. Sekali lagi, dengan mudah saya temukan lokasinya, melalui aplikasi map online di smartphone saya.

Ada nuansa yang berbeda, tepat di depan monumen yang bersejarah itu. Bahkan konon dulu begitu Soekarno menancapkan sang tiang pertama, beliau pun langsung berujar bahwa disini kelak akan menjadi ibukota Republik Indonesia. Gila atau visioner tuh?! Diucapkan di tempat yang masih hutan dengan penduduk yang masih bisa dihitung tidak kurang dalam beberapa jam saja. Menjadi ibukota atau tidak di masa depan, selayaknya anda sekalian kalau sempat kunjungilah Tugu Soekarno di kota Palangka Raya ini, dan rasakan nuansa sensasi yang eksotik penuh sejarah.

Aplikasi peta atau map online dalam smartphone sungguh sangat bermanfaat, bahkan bagi saya yang belum pernah menjelajahi pulau Kalimantan seperti ini. Segala bentuk informasi dan data hingga terbentuknya peta yang akurat koordinat maupun bentuk lokasi atau disebut informasi geospasial, tentu saja tidak asal buat. Ada badan instansi di tiap negara yang bertanggung jawab, di Indonesia namanya Badan Informasi Geospasial (BIG). Ya paling tidak saya juga harus berterimakasih pada BIG juga, selain pada mbah Google tentunya.

Inilah sekilas perjalanan saya membelah ranumnya pulau Kalimantan, dari Pontianak di Kalimantan Barat menuju kota yang konon bisa menjadi ibukota Indonesia di masa depan, Palangka Raya di Kalimantan Tengah. Dengan jarak sekitar lebih dari 1000 km atau hampir jarak pulang pergi Surabaya – Jakarta, tak pernah ada kata cukup, karena jika harus mengulangi akan saya ulangi perjalanan ini. Karena sesungguhnya Indonesia itu luas dan beragam, penuh sejarah dan budaya. Yang bahkan luasnya bisa membanggakan dan menyemangati kita yang dalam darahnya mengalir tanah, air dan udara dari negeri tercinta ini.

Use Facebook to Comment on this Post