Ketika se-merah dengan batas paha minimalis bisa dihantui oleh perempuan pemuja ayunan

Ketika se-merah dengan batas paha minimalis bisa dihantui oleh perempuan pemuja ayunan

Ketika se-merah dengan batas paha minimalis bisa dihantui oleh perempuan pemuja ayunan.

Cinta adalah sebuah perasaan positif yang menimbulkan kasih sayang yang berlebihan pada seseorang atau sesuatu. Jika tidak positif, saya berani berkata bahwa itu bukan cinta (eng ing eng..).

Saya bukanlah seorang laki-laki yang sempurna, bahkan saya juga bukan laki-laki yang bisa setia pada 1 perempuan, itu dulu (hmm.., berarti sekarang setia donk? Eits tunggu dulu, baca dulu cerita saya ya).

kim ha yul(Tuh mata jangan mlototin tros photo di sebelah ini yak, baca dolooo..) Sebenarnya baru ketika bersekolah di bangku kuliah, saya baru bisa menumbuhkan rasa percaya diri. Secara fisik saya bukanlah sosok laki-laki idaman, bahkan jauh dari kata ganteng. Namun sekali lagi, rasa percaya diri itulah yang bisa mendekatkan saya pada sosok-sosok perempuan, Mungkin sama saja dengan laki-laki yang lain, ketika melihat perempuan yang menarik hati. Namun sekali lagi saya katakan (sudah dua kali dink..) rasa percaya diri itulah yang bisa membedakan.

Dengan cepat, mungkin disebut reflek, ketika ada sosok perempuan bening, sexy, atau apalah namanya. Yang pasti menarik hati seperti photo di samping ini, sosok merah dengan gaun sepaha sambil membawa tongkat stick billyard (wow, ini hanya contoh gambaran saja ya). Jika saya pasang photo sosok-sosok perempuan yang  dulu pernah menarik hati saya, dikhawatirkan akan menjadi fitnah tersendiri (ngelez, padahal ndak punya photonya, hehehe..), atau malah saya dianggap sedang black campaign seperti yang sedang marak akhir-akhir ini. Tapi sepertinya photo yang jadi korban penggambaran di samping ini terlalu berlebihan ya (ya iyalah, yang aslinya kan ndak se-merah itu, nak seminimalis itu, wekekeke..).

Kalau sudah diberi penampakan se-merah itu, dengan batas paha minimalis seperti itu, dipastikan mata saya langsung berkunang-kunang. Tujuh per sembilan detik kemudian otomatis mata saya langsung ter-up grade layaknya android kit-kat (7/9 detik? Apapula nih..). Nah, dari situlah awal mula fokus pengejaran layaknya mengejar teroris saya lancarkan. Mengendap-endap, gerilya sedikit-sedikit, begitu ada kesempatan langsung tembak (dar der dor..).

Singkatnya, saya adalah laki-laki yang tidak bisa dipertanggungjawabkan (dulu..?). Bahkan ketika sudah bertunangan dan hampir menikah pun, saya masih menyempatkan untuk ‘bersilaturahmi’ dengan perempuan yang lain (waduh, kebangetan nih orang..). Namun anehnya, sampai sekarang tidak ada satu pun perempuan yang melakukan protes, apalagi sampai bikin demo besar-besaran di jalanan. Itu semua karena saya tidak pernah memperlakukan mereka dengan kasar, bisa dibilang, saya selalu memperlakukan perempuan-perempuan itu layaknya seorang ‘first lady’. Ya setidaknya itu pendapat saya (Hehehehe..).

Tapi ternyata pepatah yang mengatakan bahwa ‘sepandai-pandainya tupai melompat akan jatuh juga’ memang benar, bahkan ‘batu sekeras apapun bisa berlubang bila terus ditetesi air’ itu memang terbukti, apalagi ‘habis lempar batu sembunyi tangan’ (nah loh, nyambung dimananya nih?). Akhirnya ada sebuah moment, atau kalau boleh saya menyebutnya ada sebuah ‘cinta monumental’ yang terjadi. Hingga hingar bingar acara silahturahmi mata saya pun bisa terhenti, ada sosok perempuan terakhir yang ternyata bisa melakukannya. Apakah perempuan yang sekarang saya nikahi alias isteri saya? Ternyata bukan (wekekeke..).

coretAdalah sosok perempuan yang ketika untuk pertama kali bersua dengan saya (28 Nopember 2011, 16.30 wib), dia menampakan bibir besar nan sensualnya. Pernah di suatu saat, saya semakin shock ketika wajah imut-nya terdapat tattoo yang sangat jauh dari permanen, yang ternyata dia sendiri yang mencoret-coretnya, penuh makna yang sangat ‘menyayat hati’. Itu pun saya ketahui ketika dia sedang rebahan menggoda di ranjang pink-nya (wow..).

vanessa in ayunanSudah begitu, semakin hari semakin kelihatan bahwa perempuan bidadari ini sangat mengagumi ayunan. Yup, ayunan menjadi benda yang sangat ranum di matanya. Dimanapun berada, tempat yang masih asing baginya langsung ditujunya, dengan tebaran kata-kata ‘dimana ayunannya?’. Sinar matanya langsung berbinar-binar dengan indah begitu bayangan ayunan sudah terlihat, bahkan mungkin bau ayunan juga bisa tercium olehnya.

Lalu bagaimana mungkin sosok semacam semerah dengan batas paha minimalis diatas bisa kalah. Lebih tepatnya sosok perempuan pemuja ayunan itu berhasil menghantui saya. Setiap sosok semacam semerah itu muncul, dimana saja, kapan saja, otomatis penampakan sosok perempuan pemuja ayunan itu selalu muncul mendampingi. Dan itu hanya terlihat oleh mata saya (nah loh?!), itulah sosok penampakan yang selalu menghantui saya. Dan dahsyat, akibatnya, saya jadi kehilangan libido ketika sesosok semacam semerah dengan batas paha minimalis itu muncul di hadapan saya. Libido itu langsung terserap oleh penampakan sang perempuan pemuja ayunan tersebut (wow..!!!).

vanessa in ballJadi, inilah cinta monumental yang terus menghantui saya (wekekeke..), perempuan dengan bibir tebal sexy-nya, perempuan yang pernah rebahan dengan coretan di wajah imutnya. Perkenalkan, inilah sang perempuan pemuja ayunan, anak saya.. Vanessa Hawa Alexandria (Hehehe..).

Catatan : Sumber photo dari Google dan Facebook. Ayo yang mau marah, ketawa atau kritik setelah baca postingan ini, jangan malu-malu untuk komen, langsung aja coy..

“Blogpost ini diikutsertakan dalam Lomba Blog CIMONERS”

Incoming search terms:

  • paha bening

Use Facebook to Comment on this Post