Jangan dipanggil pak donk

Jangan dipanggil pak donk.

Sudah 2 pertemuan ini saya melakukan pelatihan web SastraUntag.com di Fakultas Sastra Untag Surabaya. Ada banyak rasa tercampur yang saya rasakan di pelatihan ini.

bFakultas Sastra Untag Surabaya adalah alamater saya, setidaknya sudah sekitar 9 tahun saya meninggalkan kampus di Semolowaru itu dengan sebutan alumni. Bertemu dengan bapak ibu dosen yang dulu mengajar saya menimbulkan flashback kenangan dalam otak saya. Saya dulu memang aktif berorganisasi, jadi hubungan saya dengan para dosen lebih dari sekedar antara dosen dan mahasiswa, karena kadang-kadang ada saja konflik yang tergesek diantara pengurus organisasi kemahasiswaan saat itu dengan para dosen sebagai pengurus fakultas. Tapi sudahlah yang dulu biar menjadi pembelajaran bagi saya.

Anehnya ketika kembali bertemu, beberapa dari mereka, para dosen itu memanggil saya pak. Wow, bukan bangga yang saya rasakan, tapi terasa aneh didengar telinga. Reflek langsung saya protes mereka.

“Jangan dipanggil pak donk, bu.”

“Lha tros apa,” sahut seorang ibu dosen.

“Panggil saja seperti dulu, bu.”

“Bud, begitu.”

“Yup, begitu bu,” kata saya meng-iya-kan sambil menunjukan jempol tangan kanan saya.

Seorang ibu dosen itu hanya tersenyum, lalu dengan santunnya segera menghilang di ruangan para dosen.

Saya tertegun, apa memang sudah sejauh itukah saya hingga terpantaskan untuk dipanggil pak. Ah, saya rasa itu hanya sikap santun seorang dosen yang menghargai seorang manusia, walaupun itu dulu muridnya.

Tapi, memang benar terasa aneh bagi saya bila harus dipanggil pak. Anehnya seperti dihidangkan segelas es degan tanpa sendok.

Use Facebook to Comment on this Post