Indahnya Danau Biru di Singkawang, seandainya dikelola lebih serius

Indahnya Danau Biru di Singkawang, seandainya dikelola lebih serius

Indahnya Danau Biru di Singkawang, seandainya dikelola lebih serius.

Beberapa waktu yang lalu saya singgah di kota Singkawang lagi, yup ini kunjungan saya yang kedua kalinya di kota yang aroma ke-bhineka-annya tercium sangat harum. Tentu selain menyelesaikan tugas-tugas, kembali saya mengunjungi Danau Biru. Entah kenapa rasa penasaran itu masih terasa.

Danau Biru terletak sedikit keluar dari kepadatan kota Singkawang, sekitar 4 km kearah timur laut. Melewati daerah pinggiran hingga menuju ke tempat pembuangan sampah. Memang Danau Biru sebenarnya daerah bekas pertambangan yang akhirnya oleh pemerintah dijadikan tempat pengolahan sampah. Danau Biru sendiri terletak dibelakang instansi pengolahan sampah tsb. Kota Singkawang sendiri sekitar 3 jam perjalanan darat dari Pontianak.

Baca juga penampakan titik 0° di Tugu Khatulistiwa Pontianak.

Konon Danau Biru adalah bekas tambang emas, sudah bertahun-tahun tak terpakai. Hingga air hujan pun menggenangi bekas pertambangan dan entah proses kimiawi seperti apa yang kemudian membuat air genangan menjadi berwarna biru. Kalau menurut saya tidak biru benar, lebih ke arah hijau, atau mungkin warna turquis ya. Itu mirip warna rambut Super Saiyan Blue di serial anime Dragon Ball Super.

budihermanto.com

Jadi bisa dikatakan Danau Biru di Singkawang adalah bekas ‘pemerkosaan’ pada alam, ditinggal begitu saja, namun alam masih saja begitu baik pada manusia. Danau Biru pun muncul, hingga sangat menarik di mata manusia. Disini menjadi objek wisata photograpy, alias bisa ber-selfy atau ber-grouphy. Bukan untuk ajang menceburkan diri, kabarnya dulu pernah ada yang jadi korban hingga meninggal karena tergiur untuk berenang di air Danau Biru. Jelas saja, ini bekas tambang, struktur tanah yang ada di dalam Danau Biru bisa jadi sangat rentan. Belum lagi faktor kimiawi dari perubahan warna air yang bisa jadi berbahaya jika terminum. Ya intinya disini cukup berfoto saja, sepuasnya tentunya. Banyak spot-spot penuh ukiran yang terbentuk secara tak sengaja dari penambangan yang bisa dipamerkan di media sosial. Sudah saatnya kita pamerkan wisata alam Indonesia, bukan mall-mall saja.

Sayangnya Danau Biru tidak dikelola dengan cukup baik, hanya seorang penjaga portal pintu masuk yang menyapa saya ketika datang. Dikenakan biaya masuk 5000 Rupiah saja. Tidak masalah, anggap sebagai biaya keamanan, sebab di area ini masih sepi. Jarak dengan perumahan di desa juga lumayan, sekitar ratusan meter. Semua masih serba apa adanya, apa yang alam berikan itu yang nampak.

@ Danau Biru Singkawang

Menyempatkan lagi ke Danau Biru di Singkawang

Saya sempat berandai-andai, jika saja Danau Biru di Singkawang ini bisa dikelola dengan lebih profesional, saya yakin akan banyak menguntungkan bagi masyarakat sekitar. Coba bayangkan, tanpa dikelola saja bisa setenar ini lho, karena sekarang media sosial di internet sangat marak. Penyebaran info dan poto dari orang-orang yang pernah datang sudah tersebar. Tinggal dikelola dengan serius, maka Danau Biru bisa jadi salah satu tujuan wisata di kota Singkawang ini. Bisa terbayang di sekitaran komplek wisata Danau Biru Singkawang terdapat food court, stand-stand makanan untuk oleh-oleh dan barang kerajinan khas Singkawang. Bahkan bisa jadi bermunculan homestay bernuansa pedesaan khas Danau Biru Singkawang sebagai pengganti hotel, perekonomian mikro akan semakin marak bukan.

Berikut video singkat saya selama di Danau Biru Singkawang, dan semoga pemerintah bisa mengelola dengan lebih serius di masa depan.

Use Facebook to Comment on this Post