Facebook beli WhatsApp milik Jan Koum yang dahulu adalah seorang gelandangan

Facebook beli WhatsApp milik Jan Koum yang dahulu adalah seorang gelandangan

Facebook beli WhatsApp milik Jan Koum yang dahulu adalah seorang gelandangan.

Jan Koum adalah pendiri WhatsApp, dab berita terbaru mengabarkan bahwa Facebook sudah membeli WhatsApp dengan nilai 209 Triliun Rupiah. Tapi tahukah anda, ternyata Jan Koum dulu adalah seorang anak muda yang hidup sebagai gelandangan bersama ibu tercintanya.

Jan-Kaum-Pendiri-WhatsAppJan Koum yang sekarang menjadi triliyuner, setelah pembelian Facebook pada WhatsApp, Jan Koum menyempatkan diri untuk melakukan suatu proses ritual untuk mengenak masa-masa gelandangan dirinya dulu. Secara tidak diduga dan mengejutkan banyak orang, Jan Koum melakukan ritual yang sangat mengharukan.

Jan Koum datang ke tempat dimana dirinya dulu setiap pagi antri untuk mendapatkan jatah makan saat ia masih remaja miskin berusia 17 tahun. Sambil mengenang masa-masa sulit hidupnya kala itu, Jan Koum menyandarkan kepalanya ke dinding tempat ia dulu antri hanya untuk mendapatkan makanan. Jan Koum mengenang saat itu yang bahkan untuk makan saja ia tidak punya uang.

Saat mengenang masa-masa sulit itu, tak terasa air mata Jan Koum mengalir deras dalam kelopak matanya. Jan Koum, Pemuda yang teramat sangat miskin dahulunya ini tidak pernah menyangka perusahaannya dibeli dengan harga Rp 209 triliun.

Ritual Jan Koum tidak berhenti sampai situ saja, Jan Koum yang dikenal sebagai seorang yang sangat berbakti dan mencintai Ibunya itu lalu mengenang Ibuunya yang sangat dicintainya yang sudah meninggal karena serangan kanker. Jan Koum ingat betul bagaimana perjuangan Ibunya yang saat itu rela menjahit baju buat dirinya demi menghemat karena tak ada uang nak.

Jan Koum pun sangat menyesal dan terpukul karena kesuksesanya hari ini yang dia perjuangkan dahulu bersama Ibunya ternyata hanya ia nikmati sendiri dan tak pernah bisa mengabarkan berita bahagia ini kepada ibunya yang telah lebih dahulu meninggal. Saat melakukan ritual di masa-masa sulit hidupnya itu, dalam hati Jan Koum yang terdalam, mungkin hatinya akan berucap, “Di tempat antrian jatah makan inilah, nasib hidup saya pernah dipertaruhkan…”

Use Facebook to Comment on this Post