Debu Cintayana – Bab 9 Hari-hari yang Indah Bersama Sakura

Debu Cintayana – Bab 9 Hari-hari yang Indah Bersama Sakura

Debu Cintayana – Bab 9  Hari-hari yang Indah Bersama Sakura.

Acara penutupan PENKAM waktu itu sangat meriah, semua panitia dan maba bercampur menjadi satu. Mereka seperti sudah melupakan enam hari kemarin, melupakan lelahnya para panitia yang sudah berusaha menyiapkan acara PENKAM selancar ini. Para maba juga seperti sudah tidak merasakan lagi dampak bentakan dan hukuman yang pernah mereka terima. Semua bergembira, semua seperti bercampur dan bersama-sama meneriakkan satu kata, mahasiswa. Benar, mulai saat ini sudah tidak ada lagi maba, sudah tidak ada lagi kakak panitia. Yang ada hanya mahasiswa.

Copy of debu cintayanaDimulai dengan pentas drama komedi yang diperankan oleh perwakilan dari semua UKM yang ada, drama yang cukup membuatku ikut tertawa lepas seperti yang lain. Katanya sih, digagas oleh UKM teater, sutradaranya sendiri juga dilakukan oleh sang ketua teater, seseorang berambut panjang dan terlihat sedikit gimbal, kumis dan jenggot yang cukup tebal juga terlihat di wajahnya. Sebuah ciri-ciri fisik yang kata orang-orang itulah seseorang yang berdarah seni. Aku sendiri sebenarnya ingin protes tentang hal ini. Mengapa orang yang terjun di dunia seni selalu berciri seperti itu? Apakah harus seperti itu? Atau memang itulah seni. Mungkin ciri-ciri itu hanya penerjemahan dari pola pikir mereka yang seperti terbang bebas di angkasa, tak terikat, dan selalu mencari sesuatu yang berbeda dengan kebanyakan orang.

Bukan hanya drama, tapi juga beberapa band dari mahasiswa kampus ini juga tak mau ketinggalan untuk unjuk gigi. Band, selalu menjadi tontonan yang ditunggu oleh para generasi muda, tentu termasuk mahasiswa juga. Musik memang selalu bisa menjadi daya tarik terbesar dalam dunia muda. Tidak hanya saat ini, tapi semenjak musik modern ditemukan selalu menjadi favorit bagi kaum muda, walaupun awal kemunculannya sering selalu menjadi kontroversi dan pertentangan dengan kaum tua. Pernah kubaca di sebuah buku, bagaimana kemunculan Elvis, legenda pembawa musik rock ‘n roll di dekade enam puluhan, awalnya sangat dibenci oleh generasi tua zaman itu. Mereka menganggap musik yang dilantunkan dengan gerakan yang lincah dan dinamis seperti itu adalah musik sesat. Tapi sejalan dengan waktu, juga dengan pantang menyerahnya para seniman musik untuk terus memperdengarkan musik-musik mereka, akhirnya musik rock ‘n roll bisa diterima. Ya, semuanya memang berasal dari generasi muda, bagaimanapun generasi tua harus merelakan pada generasi muda bersama kegemarannya tentunya, yang sedikit demi sedikit akan mengambil alih porsi hidup di bumi ini. Hal ini selalu terjadi di semua zaman, sekalipun dalam permasalahan yang berbeda.

Para mahasiswa terlihat hanyut dalam alunan nada yang menghentak, sejalan dengan aliran darah muda yang menghentak juga. Apalagi pada saat malam semakin dalam, bintang tamu sebuah band yang cukup mempunyai nama di negara ini juga dihadirkan. Suasana semakin meriah saja, suara teriakan perempuan-perempuan muda terdengar bercampur dengan alunan musik sang band. Aku sendiri ikut hanyut dalam dendangnya bersama Sakura, lebih-lebih Sakura, tentu dia sudah lebih terbiasa dengan acara semacam ini daripada aku. Bersamanya, aku merasa sedikit melupakan rasa kangen terhadap kota G. Bersamanya, aku merasa bisa diterima di kota ini. Bersamanya, aku merasa tidak sendiri. Bersamanya, aku merasa seperti di dalam acara yang diciptakan memang hanya untuk kami. Dunia milik kami berdua, itu kata orang-orang. Walaupun beberapa kakak panitia telah mencoba untuk mendekat dan mengajak kami ngobrol, hanya kami tanggapi sekedarnya, selebihnya kami tetap larut berdua dalam kemeriahan acara penutupan ini.

Hingga sebelum tengah malam, acara pun diselesaikan. Sang bintang tamu pun sudah pergi menghilang kembali, ada yang sedikit kecewa juga sepertinya. Tapi memang cukup melelahkan juga, meskipun kegembiraannya tidak bisa ditukar dengan kelelahan ini sekalipun. Bubar, sebentar lagi lapangan ini akan kembali sepi, karena para mantan maba sudah berangsur-angsur pergi meninggalkan kampus. Mungkin yang tersisa hanya para mantan panitia yang harus menyelesaikan semua pernak-pernik acara PENKAM yang masih tertinggal.

“Gue antar lo sampai kos, Ev,” kata Sakura waktu itu, kami berjalan bergandengan seperti dua anak kecil yang kegirangan setelah bermain.

“Ah, hanya deket aja kok diantar,” jawabku sambil tersenyum.

“Sekalian gue pengen tahu kos lo.”

“Begitu, okelah, thanks ya.”

Tepat di gapura kampus terlihat para penjemput para mantan maba banyak bertebaran di tepi-tepi jalan, semua rela menunggu tentu demi anak mereka, adik mereka, atau mungkin majikan mereka, seperti sopir Sakura yang selalu setia menanti hingga Sakura keluar. Hari yang semakin malam ini masih terasa ramai, di sekitar kami masih terlihat manusia-manusia berbaju putih-putih berseliweran, entah dengan berbagai urusan seperti apa, mungkin sama seperti yang aku lakukan saat ini, pulang.

Sakura menghampiri sopirnya sesaat dan terlihat sopir itu mengangguk-angguk seperti mengerti akan melaksanakan perintah majikannya. Setelah itu Sakura kembali menghampiriku lalu menarik tanganku.

“Yuk.”

“Loh, bagaimana dengan supirmu?” tanyaku kemudian.

“Oh, drivergue?”

Aku tersenyum mendengar sebutan yang terasa terdengar lebih menghormati itu, manis juga Sakura menyebut sopirnya. Tapi dia lalu menarik tanganku sambil mulai melangkah, dan berkata, “Tenang saja, dia sudah gue suruh menunggu di depan gerbang kampung sana, gue pengen sekali-sekali jalan menyeberang jalan.”

Kata-kata yang terdengar jujur olehku, bahkan menyeberang jalan saja sangat jarang dia lakukan. Seorang anak manusia yang unik, dari sini sedikit bisa kugambarkan bagaimana kehidupan Sakura. Kami saling tersenyum sambil berjalan pelan-pelan, digoyang-goyangkannya tanganku ke depan dan ke belakang seperti ayunan. Kemeriahan acara tadi sepertinya masih menempel di Sakura. Tapi tiba-tiba dari belakang, sebuah panggilan terdengar, panggilan yang sepertinya pernah kudengar beberapa hari belakangan.

“Evelyne…Sakura…!” panggilan itu kembali terdengar. Kami menghentikan langkah dan melihat ke arah panggilan itu. Seseorang yang sudah tidak asing bagi kami, terlihat sedikit berlari mengejar kami dan sekarang sudah tepat di depan kami.

“Wah, Kak Nicho ternyata,” kata Sakura seperti terhenyak. Aku hanya tersenyum memandang kakak yang satu ini.

“Kalian mau pulangkah?”

“Iya, Kak,” jawab Sakura. Aku masih hanya diam dan tersenyum saja mengiyakan, rasa capek masih menghantuiku.

“Mau diantarkah?” ujar Kak Nicho, tawaran yang kembali terdengar sudah tidak asing lagi bagiku.

“Ini juga gue lagi ngantarin Ev, tapi kalau Kak Nicho mau nganterin juga boleh.”

“Boleh, bener boleh?”

“Tentu boleh, Kak. Ya kan, Ev?” kata Sakura sambil mengayun-ayunkan tanganku yang masih digenggamnya.

“Boleh saja, kalau Kakak tidak capek,” jawabku.

Kami bertiga lalu berjalan beriringan, sedikit memakan jalan memang, tapi suasana jalan saat itu sudah tidak seramai sorenya. Sakura terlihat bertambah semangat dengan adanya Kak Nicho, dia terus bercerita tentang kemeriahan acara penutupan tadi. Aku lebih banyak diam saja dan memperhatikan tingkah Sakura. Sedangkan Kak Nicho seperti mencoba mengimbangi celoteh Sakura, sesekali kulihat mata Kak Nicho memperhatikan tangan kami yang sedari tadi masih erat bergandengan. Ada sinar kecemburuan yang kutangkap di matanya, mungkin dia berandai-andai… kalau saja dia yang seharusnya bergandengan tangan dengan Sakura. Silakan saja, tapi tidak untuk malam ini, sebab kegembiraan masih menaungi hati kami.

Jalan sudah terseberangi, bahkan gerbang kampung sudah kami lalui. Beberapa orang masih terlihat lalu-lalang, rumah bercat putih itu pun sudah terlihat di depan mata.

“Jadi di sini kamu kos ya, Ev?” kata Kak Nicho kemudian.

“Iya, Kak.”

“Setauku di sini banyak anak sastranya, loh.”

“Apa bener, Kak?” tanya Sakura seakan tidak percaya.

“Iya, Sakura, kata ibu kosku memang begitu, cuman sekarang masih pada pulang kampung,” kataku meyakinkan.

“Tapi beberapa hari ke depan pasti pada balik, kok, sebab minggu depan kan perwalian, kalian juga jangan sampai telat perwaliannya.”

“Kan untuk angkatan baru, perwaliannya sudah diatur, Kak.”

“Memang angkatan baru sudah dipaketin, tapi kalau kalian ingin pindah kelas juga boleh, ke kelas sore misalnya.”

“Oke deh, gue pulang dulu ya, Ev,” kata Sakura kemudian. Sambil menyelesaikan perkataan barusan Sakura lalu mencium pipi kanan dan kiriku. Aku pun melakukan hal serupa.

“Gue akan sering-sering ke sini,” bisiknya. Aku tersenyum mendengarnya, Kak Nicho seperti semakin cemburu saja melihat keakraban kami.

“Kak Nicho mau tinggal di sini?” tanya Sakura saat sudah membalikkan badan. Kak Nicho terlihat kikuk, sepertinya sesaat pikirannya entah terbang ke mana.

Bye, bye, hati-hati di jalan, Sakura. Kak Nicho tolong dijagain Sakura, yah,” kataku.

“Eh, iya, iya tentu, selamat malam, Ev,” jawab Kak Nicho yang sepertinya masih belum keluar benar dari dunia pikirannya sendiri. Sejurus kemudian bayangan mereka hilang di kejauhan. Aku pun segera masuk. Sejak saat itu Sakura makin sering datang ke kosku, hampir tiap hari.

Perwalian untuk mahasiswa angkatan baru dilangsungkan hari Senin, kuliah reguler baru akan dimulai minggu depan. Praktis dua minggu setelah PENKAM ini hanya bersenang-senang yang kulakukan, bersama Sakura tentunya.

Bersama driver setianya, Sakura selalu mengajak aku ke berbagai tempat di kota metropolitan ini. Mall-mall dengan ukuran yang mungkin dua atau tiga kali lipat dari mall yang terbesar di kotaku, banyak bertebaran di sini. Mungkin kota ini suatu saat nanti akan mempunyai julukan kota mall, kataku pada Sakura saat itu. Sakura hanya tertawa ceria, mungkin keluguan ini terlihat lucu baginya. Di sini belum ada apa-apanya, katanya kemudian. Di ibukota sana, mall-mallnya lebih menggila lagi. Wah, ternyata pikiranku salah kiranya, mungkin inilah ciri-ciri dari kota yang layak disebut kota metropolitan, mall-mall yang bejibun.

Tidak hanya mall-mall saja yang dia pamerkan padaku, Tugu Pahlawan dan Jembatan Merah, monumen-monumen perjuangan kota ini pun kami datangi. Tempat yang dulu sebenarnya adalah daerah gedung-gedung pemerintahan penjajah Belanda sekaligus ajang pertempuran antara tentara Belanda dengan para pejuang Indonesia ini, terletak sedikit ke utara kota. Entah berapa ribu atau juta mungkin, nyawa orang yang telah meregang di sana waktu itu.

Tak jauh dari Tugu Pahlawan, aku diajak Sakura ke Kya Kya, daerah pecinan di kota S ini. Kalau di siang hari mungkin terlihat biasa-biasa saja, hanya sebuah jalan besar yang sangat padat dengan aktivitas toko-toko grosir. Tapi bila malam menjelang, jalan yang panas itu akan disulap berubah menjadi daerah bebas kendaraan yang penuh dengan pedagang-pedagang makanan. Memang kebanyakan makanan chinese food, tapi ada juga beberapa penjual makanan jajan pasar terlihat. Souvenir-souvenir berciri masyarakat Tionghoa banyak kujumpai, bahkan atraksi barongsai pun seperti tak mau ketinggalan untuk unjuk kebolehan.

Memang semenjak presiden keempat negara ini membebaskan etnis Tionghoa untuk bisa lebih berekspresi dalam hidup, banyak kesenian-kesenian yang semakin dikenal oleh masyarakat dari etnis yang lain. Sangat ironis, justru yang melegalkan keberadaan etnis Tionghoa di negara ini adalah orang yang berasal dari kaum yang terlihat seperti di adu domba dengan etnis Tionghoa di zaman Orde Baru. Inilah kemajuan menurutku, bukan kemajuan yang baru tapi kemajuan yang dengan tulus kembali jauh ke belakang untuk memandang dan melaksanakan falsafah dari bangsa ini. Bukankah Bhinneka Tunggal Ika sudah ada berabad-abad yang lalu, mengapa harus dilupakan?

Pernah suatu ketika aku diajaknya ke pelabuhan Tanjung Perak yang tersohor itu, pelabuhan yang sudah sejak zaman kerajaan Majapahit sudah menjadi sentra pelayaran untuk kapal-kapal yang akan berlayar ke Nusantara bagian timur. Hingga kini pun kapal-kapal besar dan kecil terlihat masih banyak merapat di pelabuhan ini.

Dari kejauhan terlihat patung Jelesveva Jayamahe berdiri kokoh memandang Selat Madura. Bersosok seorang perwira angkatan laut dengan baju kebesarannya dan lengkap dengan pedang yang ditancapkan ke tanah, terlihat seperti seseorang dengan segala keberanian dan kegagahannya yang siap untuk mengarungi lautan, tak ada sinar ketakutan yang tampak di matanya. Hanya satu hal yang sedikit mengurangi keindahan di sekitar sini. Pantai terlihat seperti kurang dirawat, airnya terlihat keruh dan banyak sampah yang berserakan, sangat jauh bila dibandingkan dengan pantai di dekat kota asalku. Yang bening dan bersih, bahkan lautan tak jauh dari kota M menjadi taman laut yang sudah diakui sebagai taman laut dunia yang harus dijaga keasliannya. Sayang sekali jika warga kota metropolitan ini kurang merawat pantainya.

Menurut Sakura, dari bibir pantai ini hanya sekitar lima belas atau dua puluh menit saja sudah mencapai Pulau Madura dengan kapal Potre Koneng, kapal yang setiap hari lalu-lalang melayani penyeberangan pulang balik kota S dengan pulau M. Dan memang dari kejauhan tampak sebuah pulau, walaupun terlihat tipis saja di mataku.

Bahkan pada Sabtu malam kemarin aku diminta menginap di rumah Sakura, sekali-sekali katanya. Sakura sendiri yang meminta ijin pada bapak kosku. Dari sore hingga malam, kami berkeliling menghabiskan waktu dengan bersenang-senang di sebuah mall yang kata Sakura tidak terlalu jauh dari rumahnya yang ada di daerah barat kota ini. Dia cukup banyak berbelanja malam itu, aku pun dibelikannya sebuah mantel tebal berkerudung, sengaja memang aku tidak minta yang lain. Pada awalnya aku tidak mau, tapi dia memaksa, hingga akhirnya mantel bermerk dari luar negeri itu menjadi milikku. Pakaian bermerk luar negeri pertama dan satu-satunya yang aku punya. Padahal jangankan merk luar negeri, merk dalam negeri saja sudah lebih dari bagus bagiku.

Waktu kutanyakan apa tidak akan dimarahi orangtuanya karena menghabiskan uang sebanyak itu, Sakura hanya tertawa riang. Ini uang jajan bulanannya katanya. Wah, uang jajan bulanan sebanyak ini, beruntung sekali dia. Dari sini sudah bisa kubayangkan bagaimana kekayaan orangtua Sakura. Tidak sekedar orang kaya pasti.

Dan benar saja, saat kami sampai di rumah Sakura, di bilangan kompleks perumahan elit, yang kalau dilihat dari namanya sudah pasti milik raja real estate dari ibukota itu. Saat memasuki gerbang saja sudah terasa tidak seperti di Indonesia, jalan dua arah yang rapi, mulus, dan bersih. Taman kecil memanjang membelah jalan, lampu-lampu jalan berdiri anggun di tengahnya dengan model seperti di zaman renaissance saja. Bahkan tak kulihat kabel-kabel listrik yang menjuntai di tepian jalan seperti biasanya, semua dipasang di dalam tanah, kata Sakura. Malu juga aku, seperti orang yang baru keluar dari hutan saja.

Rumahnya bercat krem, megah dengan pintu gerbang yang besar dan tinggi. Seorang satpam sudah siap membuka gerbang saat mobil van yang kami tumpangi tiba. Begitu memasuki pintu depan yang terdengar berat saat dibuka, terlihat sebuah ruangan kecil yang berisi lemari tanpa pintu, pendek dan memanjang. Ini pasti lemari untuk menyimpan sepatu dan sandal. Beberapa sepatu dan sandal terlihat berjajar rapi seperti gigi seri.

Suasana sepi-sepi saja saat kumasuki rumah megah itu, ku berjalan melewati sebuah aula. Kenapa kubilang aula, sebab kalau kubilang ruang tamu atau ruang tengah sepertinya terlalu kecil. Ruang ini seperti aula, luas, dan berbagai perabotan terlihat. Ada tiga gugusan kursi-kursi bermeja dengan model yang berbeda terhampar di tiga sudut aula ini. Lukisan besar bergambar perempuan Jepang yang sedang mengagumi pohon bunga Sakura yang sedang mekar terlihat indah di mataku. Guci-guci berukuran besar dan kecil dengan tulisan yang entah Jepang atau Mandarin tersusun dengan rapi di tepian aula. Bukan Mandarin, tapi kanji Jepang, kata Sakura saat kutanyakan. Sebuah lampu hias nan megah menggantung di tengah-tengah aula, seperti di film-film bangsawan kerajaan Eropa yang pernah kutonton.

Sakura langsung menggandengku dan sedikit berlari kecil menaiki tangga yang dihiasi karpet di tengahnya. Di dinding di dekat tangga menempel sebuah jam kuno besar dengan tenangnya, mungkin kalau jarum panjangnya sampai di angka dua belas, suaranya akan terdengar menggema. Terus kuikuti langkah Sakura, karena tangannya masih erat menggenggam tanganku.

Ada beberapa kamar terlihat di lantai ini, semua daun pintunya tertutup rapat. Tapi Sakura masih melangkah menuju kamar yang berada paling pojok sepertinya. Akhirnya kami tiba di sebuah daun pintu yang bertuliskan tulisan Jepang, tertulis secara vertikal. Unik dan penuh dengan misteri, semakin besar keinginanku untuk lebih bisa mengenal lebih jauh tentang Sakura. Inilah sosok anak manusia yang baru kali ini aku saksikan dengan langsung, sangat berbeda dengan manusia-manusia yang pernah aku temui.

“Ini kamar gue,” kata Sakura setelah membuka kamarnya. Aku masih tertegun di depan pintu sambil memandangi tulisan yang sama sekali tidak kutahu artinya, aku hanya terpesona dengan guratan tinta yang terlihat indah itu.

“Itu bacanya ‘Sakura Putri Kecilku’, itu tulisan Mama gue.”

Aku masuk ke dalam kamar yang terlihat terawat, kamar yang besar bagiku, dilengkapi dengan perabotan mewah di sana-sini. Ada seperangkat komputer di sudut sana, juga sebuah televisi LCD empat puluh inci menempel di dinding, seperti lukisan saja. Dua lemari besar-besar berdiri seperti bodyguard yang menjaga kamar ini. Satu berwarna cokelat kokoh, mungkin terbuat dari kayu jati pilihan. Dan satu lagi berbentuk kaca-kaca, transparan hingga terlihat apa yang ada di dalamnya. Lemari boneka, puluhan, atau mungkin ratusan boneka besar dan kecil berada di dalamnya. Ranjangnya besar juga, mungkin kalau digunakan untuk lompat-lompat di atasnya asyik juga. Bahkan di sudut yang paling jauh di sana ada sebuah pintu, ruangan apa lagi di sana, masih kurang besarkah kamar ini hingga diperlukan ruangan tambahan lagi.

“Bentar ya, Ev, gue mau gosok gigi dulu.” Tanpa menunggu jawaban dariku, Sakura langsung ngloyor berjalan ke arah ruangan yang membuatku penasaran sedari tadi, Oh, ternyata itu kamar mandi, bahkan kamar mandi pun tersedia di kamar Sakura. Mungkin enak juga kalau seandainya di kamar kosku ada kamar mandi sendiri, jadi tidak perlu ngantri lagi kalau bangun agak kesiangan.

Tak lama kemudian seorang pembantu perempuan masuk sambil membawa barang-barang bawaan yang tadi ada di mobil, dia letakkan di lantai berkarpet di samping ranjang. Aku tersenyum, dia membalas senyumanku sambil menanyakan ingin minum apa. Wah, bahkan minuman saja sampai bisa memilih di rumah ini.

“Terima kasih, sekarang tidak haus,” jawabku. Pembantu muda itu hanya mengangguk, lalu pergi meninggalkan kamar. Belum ada setengah jam di rumah ini, aku seperti ada di sebuah istana kerajaan lengkap dengan jamuan-jamuan yang menanti untuk dihidangkan, mungkin tinggal menjentikkan tangan maka hidangan akan berduyun-duyun mendatangi.

Use Facebook to Comment on this Post