Debu Cintayana – Bab 8 Hari Keenam

Debu Cintayana – Bab 8 Hari Keenam

Debu Cintayana – Bab 8 Hari Keenam.

Ada kitab suci dan buku-buku sejarah kuno maupun mitos-mitos dari berbagai budaya di belahan bumi, yang mengatakan bahwa manusia diciptakan Tuhan pada hari keenam semenjak awal penciptaaan jagad raya. Mengapa hari keenam? Mengapa tidak hari pertama? Atau kedua? Apakah memang manusia dianggap tidak terlalu penting bagi jagad raya ini hingga baru hari keenam diciptakan Tuhan?

debu cintayanaMungkin Tuhan menciptakan yang penting-penting dahulu. Lihat saja ukuran dari manusia jika dibandingkan dengan ukuran jagad raya ini. Manusia hanya makhluk yang hidup di sebuah planet biru kecil yang dinamakan bumi. Bumi sendiri hanya sebuah benda kecil di jagad raya nan luas ini. Bak sebuah debu di samudera, langsung hilang tanpa ada jejak. Seperti itukah?

Atau mungkin manusia hanya menjadi pelengkap untuk mengisi jagad raya nan luas ini, seperti boneka-boneka yang mendiami rumah-rumahan kecil mainanku waktu semasa kecil dulu. Mungkin seperti itu, sebab sebagus apapun rumah-rumahan itu, tidak akan terasa lengkap untuk dimainkan tanpa boneka-boneka kecil di dalamnya. Seperti itukah?

Atau justru manusialah yang paling penting bagi jagad raya ini, sehingga Tuhan menciptakan di hari keenam. Bukankah yang terpenting selalu hadir belakangan, saat segala sudah dipersiapkan dengan sempurna. Mungkin saja jagad raya ini semacam fasilitas dan hidangan yang memang dipersembahkan untuk manusia. Seperti itukah?

Atau bisa jadi, jika manusia diciptakan terlebih dahulu, tentu manusia akan langsung mati. Karena belum ada langit, belum ada bumi, bagaimana manusia makan? Bagaimana manusia mencari oksigen untuk dihirup? Oleh karena itulah manusia diciptakan pada hari keenam, agar manusia langsung bisa hidup dengan nyaman tanpa kesusahan, karena semua kebutuhan manusia sudah terhidang dalam jagad raya nan luas ini. Seperti itukah?

Dan walaupun sama sekali tidak berkaitan, kemiripannya juga hanya sebatas pengakuan saja, hari ini juga hari keenam. Inilah hari keenam sekaligus hari terakhir PENKAM, hari terpenting bagi maba sebelum siap untuk dipanggil mahasiswa, seperti kakak-kakak panitia itu. Hari terpenting bagi maba, karena besok sudah tidak akan ada lagi bentakan, takkan ada lagi hukuman yang aneh-aneh. Juga hari terpenting bagi kakak-kakak panitia, sebab inilah hari terakhir mengeluarkan tenaga yang besar untuk menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan PENKAM.

Acara hari ini tidak akan seketat hari-hari sebelumnya. Hanya pengenalan panitia PENKAM fakultas, mengunjungi pameran minat bakat dan acara penutupan yang pasti akan penuh dengan acara musik.

Pagi tadi waktu aku datang, tentu karena tidak ingin telat, para kakak-kakak panitia sudah langsung terlihat sedikit kelabakan. Mereka seperti kaget dengan kehadiranku, bahkan ada yang sempat menanyakan padaku kenapa masuk. Padahal tentunya sebagai mahasiswa baru kan harus mengikuti PENKAM; lagipula aku sudah merasa sehat dan baik-baik saja. Aku juga belum sempat bertemu secara langsung dengan Sakura. Tapi mereka tidak percaya, aku tidak diperbolehkan ikut berbaris mengikuti apel pagi seperti maba-maba yang lain.

Entah mengapa, perlakuan mereka kali ini tidak segarang hari-hari kemarin, tak ada bentakan dan perintah yang dibuat-buat. Oleh Kak Moldy, seorang sie-acara, aku digiring ke pos sastra yang tak jauh dari lapangan. Awalnya kupikir seperti pos kamling, ternyata jauh sekali perbedaannya.

Aku juga belum sempat bertemu dengan Sakura, dari kejauhan kucoba mencarinya. Akhirnya aku menemukannya, dari kejauhan seorang perempuan berbaju putih dan roknya pun putih sedang melambai-lambaikan tangannya ke arahku, sedikit teriakan panggilan namaku juga sampai terdengar di telingaku. Sakura, apa dia tidak takut dimarahi kakak panitia. Tuh kan, seorang kakak panitia terlihat mendekatinya, mungkin juga memarahinya sebab setelah itu Sakura terlihat berbalik tubuh ke arah semula. Benar, pasti dia kena damprat kakak panitia. Dasar Sakura.

Sebuah pos tidak permanen yang dibuat sengaja untuk mendukung semua kegiatan PENKAM Fakultas Sastra, dijaga oleh kakak-kakak panitia dari sie konsumsi, di pos inilah aku disuruh untuk duduk tenang sampai ada perintah berikutnya. Di sini tersedia juga makanan kecil dan minuman ringan. Tapi pagi ini entah kenapa sepertinya hanya dijaga seorang panitia.

“Benar kamu sudah sehat?” tanya Kak Anggun, penjaga pos sastra pagi ini.

“Sudah, Kak.”

“Bener?”

“Benar, Kak, Ev ndak bohong,” jawabku menyakinkannya, sepertinya kakak ini cukup mengkhawatirkan keadaanku. Tapi kucoba untuk mengakrabkan diri, sepertinya kakak panitia ini tidak segarang panitia yang lain, sesuai dengan namanya mungkin.

“Kak Anggun jaga sendirian di sini?” tanyaku, karena hanya dia yang ada di pos.

“Tentu saja tidak, sie-konsumsi yang lain sedang mengambil snack.”

Snack, sepaket makanan kecil dan segelas plastik air mineral yang selalu dibagikan untuk maba di pagi hari sesudah acara apel pagi. Dari kejauhan terlihat beberapa panitia sedang mendampingi maba yang sedang berbaris.

Apel pagi selalu menjadi acara yang cukup meriah di pagi hari, di situ seluruh maba dari semua fakultas dikumpulkan. Memang masih dalam barisan fakultas masing-masing, tapi aku jadi tahu akan keberadaan maba-maba yang lain, ramai sekali. Jadi mirip barisan tentara yang pernah kulihat di televisi. Apel pagi juga jadi ajang untuk menunjukan yel-yel masing-masing fakultas. Pokoknya meriah, sayang pagi ini aku hanya bisa melihat dari kejauhan saja.

“Sudah kamu di sini saja sama Kakak,” kata Kak Anggun tiba-tiba, sepertinya sedari tadi dia memperhatikanku hingga seperti bisa membaca pikiranku yang sedang ada di apel pagi sana.

“Ah, iya, Kak,” jawabku sedikit kaget, tapi mungkin ini saatnya kutanyakan tentang hal kemarin, “Kak Anggun, boleh Ev bertanya?”

“Boleh saja, tapi ini rahasia antara kita aja, ya,” kata kakak panitia di depanku ini sambil tersenyum manis.

“Soal kemarin, Kak.”

“Ya, kenapa?” jawabnya masih dengan senyum manisnya.

“Sebenarnya apa yang terjadi dengan Ev kemarin?”

“Pingsan, kan.”

“Iya, Ev tahu, tapi kenapa sampai ambulans repot-repot mengantar Ev?”

“Oh itu.”

“Iya,” ucapku sambil berharap mendapatkan jawaban yang memuaskan dari kakak panitia berambut panjang dikuncir ini.

“Oke, ini hanya antara kita saja, yah,” katanya sambil sedikit menoleh ke kanan dan ke kiri, wajahnya jadi terlihat lebih serius, aku hanya mengangguk.

“Sebelumnya Kakak tanya dulu, apa kamu punya penyakit dalam?”

“Tidak, Kak.”

“Bener?!” kata Kak Anggun, sepertinya dia kurang percaya.

“Benar Kak, Ev tidak punya penyakit dalam, hanya…”

“Nah kan, bohong.”

“Ev ndak bohong, Kak, Ev hanya kurang normal saja.”

“Hah? Maksudmu?”

“Ev waktu bayi pernah mengalami kecelakaan.”

“Wah, ada yang terluka?”

“Ev tidak apa-apa, tapi tulang dada Ev yang sebelah kiri jadi sedikit menjorok ke dalam.”

“Iya ta?” kata Kak Anggun sambil berusaha memperhatikan dada kiriku, tapi tentu saja tak terlihat ada keanehan di dadaku jika dilihat dari luar seperti ini.

“Memang tak terlihat, Kak,” jawabku sambil tersenyum melihat tingkah lucu kakak satu ini.

“Lalu?”

“Tulang dada ini agak menjorok hingga sedikit menekan jantung Ev,” kataku sambil menunjukkan letaknya dengan tangan kananku.

“Bahayakah?” tanya Kak Anggun seperti penasaran.

“Tidak Kak, hanya pada saat Ev merasa tertekan akan membuat aliran darah ke jantung jadi sedikit tersendat.”

“Ooo, begitu.”

“Otomatis napas jadi lebih berat, hingga membuat badan jadi lemas.”

“Trus pingsan.”

“Ya begitulah,” jawabku sambil tersenyum.

“Tapi kenapa kamu tidak tulis di lembar data diri?”

“Lembar yang diedarkan waktu Pra-PENKAM ya, Kak?”

“Ya.”

“Kan bukan penyakit.”

“Benar juga, yang diminta ditulis kan penyakit dalam, di kasus kamu memang bukan penyakit, repot juga jadinya,” kata Kak Anggun sambil memegang dagunya yang lancip seperti ada sesuatu yang gatal.

“Tapi buktinya Ev sekarang sehat-sehat saja kan, Kak.”

“Iya, tapi jujur aja, kemarin kamu membuat kami para panitia jadi kebingungan.”

“Apa benar, Kak?”

“Iya, bahkan kami mengira kami bakal di penjara.”

“Loh, kenapa?” tanyaku keheranan.

“Maaf ya, misalnya kalau kamu sampai meninggal kemarin, tentu kami panitia sastra harus bertanggung jawab.”

“Tapi tidak kan, Kak, trus kenapa sampai ke rumah sakit segala?” tanyaku mengejarnya.

“Itu karena UKM kesehatan sudah angkat tangan waktu itu.”

“Wow, sampai segitunya, ya.”

“Iya, kamu selamat karena tidak sampai telat, berkat Arist.”

“Telat? Arist siapa?”

“Ah, tidak kok. Untung kami tidak telat memberi pertolongan.”

“Itu kan karena kekompakan panitia ini, Kak.”

“Iya, dong,” jawabnya dengan penuh kebanggaan.

“Kakak-kakak sudah lama berteman, yah,” tanyaku mencoba keluar dari ketegangan sesaat tadi.

“Memang sembilan puluh persen dari panitia ini teman satu angkatan.”

“Wah, wah, pantas kompak.”

“Juga karena tahun kemarin kebanyakan dari kami satu organisasi di himajur.”

“Hmm, sudah pengalaman semua ya, Kak.”

“Ah, kamu bisa saja,” jawab Kak Anggun sedikit tersipu. Terlihat apel pagi sudah selesai dan barisan maba sudah digiring menuju kelasnya masing-masing. Termasuk teman-temanku sesama maba sastra.

“Tuh, kamu dipanggil Kak Moldy untuk masuk, buruan, gih.”

“Terima kasih ya, Kak, buat obrolannya,” jawabku, ku berdiri dan hendak bergerak untuk menuju lantai dua gedung C, tapi Kak Anggun lalu menyentuh telapak tangan kiriku.

“Eh, ingat ya, Ev, ini rahasia antara kita,” katanya sambil kembali menyebarkan senyum manisnya. Sepertinya kakak yang satu ini sangat menyukai kata rahasia, terbukti dari obrolan barusan saja sudah tiga kali dia menyebut kata rahasia. Tapi, it’s OK, she is a nice sister.

“Tentu, Kak, kita kan pren,” jawabku sambil berlalu dari pos sastra.

* * *

“Nggak ada yang marah, nih?”

“Ada deh,” jawabnya. Matanya sesaat menerawang jauh entah ke mana, sepertinya ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Sepertinya pertanyaanku soal pacar cukup membuat keriangannya sedikit berkurang, walaupun Sakura sudah berusaha menutupinya, tapi bagaimanapun tetap bisa kutangkap perbedaannya di raut wajahnya.

Sindiran barusan kulontarkan karena sedari tadi kami di sini banyak maba atau kakak panitia yang menyapa dirinya. Masih maba saja sudah segini banyak kenalannya, apalagi nanti kalau sudah kuliah reguler. Tapi aku takkan menanyakannya lebih lanjut, sebab setiap orang berhak memiliki suatu rahasia dalam hidupnya, lagian juga tentu butuh waktu baginya untuk bisa mempercayaiku sepenuhnya, walaupun aku sendiri tidak pernah meminta pada siapapun.

Saat ini kami para maba diberi waktu yang cukup panjang untuk istirahat siang, tidak seperti kemarin-kemarin yang hanya setengah jam, kali ini setidaknya hampir dua jam diberikan pada kami. Mungkin karena ini hari terakhir PENKAM, dan juga sepertinya seluruh panitia dari tiap fakultas diperbantukan untuk menyiapkan panggung yang sebenarnya sudah berdiri dari tadi pagi.

Entah acara penutupan seperti apa yang sedang disiapkan. Panggungnya cukup besar, berdiri kokoh di lapangan utara, lapangan terbesar dari kampus ini. Dikelilingi oleh gedung-gedung perkuliahan dan aula, di aula saat ini juga sedang ada pameran dari UKM-UKM yang ada. Mereka menyebut pameran minat dan bakat, katanya ada sekitar tiga puluhan UKM yang sedang dipamerkan. Suasana memang sangat ramai, mahasiswa dengan baju bebas bercampur dengan maba-maba yang tentu berbaju putih-putih. Banyak maba yang penasaran sekaligus tertarik, di pameran ini UKM-UKM berusaha menjaring maba-maba untuk ikut dalam kegiatannya, yang pasti dengan kegiatan positif tentunya.

Aku dan Sakura sendiri sedang duduk di dudukan panjang yang ada di tepian sebuah jalan pemisah antara lapangan utara dan aula. Sepertinya memang diciptakan untuk menjadi tempat tongkrongan bagi mahasiswa-mahasiswa yang beristirahat setelah berjibaku di kelas. Sedikit capek setelah berputar-putar barusan untuk melihat UKM-UKM yang ada di pameran. Karena kelelahan, akhirnya di sinilah kami sekarang.

Di sini semua terlihat lebih jelas dan lapang, juga tidak terasa panas karena jalan dan aula berada tepat di lantai dasar dari sebuah gedung. Gedung tertinggi dari kampus, bahkan dengar-dengar di lantai paling atas dari gedung ini biasa digunakan untuk mengadakan acara-acara semacam seminar atau acara yang mengundang tokoh dan orang yang terkenal. Sama sekali tidak terasa panas, ditambah angin yang sepertinya ingin membagi kesejukan bersama kami.

“Kalau lo sendiri, Ev?” tanya Sakura mencoba mencairkan suasana yang sempat membeku sesaat, sambil memandangi taman kecil yang ada di pinggiran lapangan.

“Ev belum pengen menjalin hubungan yang serius, untuk saat ini.”

“Sekedar pacaran aja, Ev.”

“Belum ada yang pas, kalau sekedar teman, lumayan.”

“Teman tapi mesra, yah.”

“Ndak, lah.”

“Jadi lagi jomblo, nih.”

“Kalau Ev kurang suka disebut jomblo.”

“Nah, TTM ndak, jomblo ndak mau juga, kenapa Ev?”

“Sebab jomblo bisa berarti konotasi.”

“Wah, konotasi? Maksud lo?”

“Jomblo bisa berarti orang yang tidak punya pacar, atau orang yang sedang berusaha mencari pacar.”

“Iya juga sih, tapi emangnya lo ndak mau punya pacar?” tanya Sakura tiba-tiba dengan mimik wajah yang agak serius.

“Tentu pengen, Sakura.”

“Nah, nah, gue jadi bingung neh. Apa jangan-jangan…”

“Ha?”

“Jangan-jangan lo lesbi, yah. Trus lo sekarang lagi ngincer gue, nih,” canda Sakura.

“Ya ndaklah,” jawabku sambil mencubit tangannya, suara tawa-tawa kecil pun langsung keluar dari bibir kami. Beberapa mahasiswa yang kebetulan lewat di depan kami pun menoleh ke arah kami dengan pandangan yang bermacam-macam, ada yang keheranan tapi ada juga yang memandang kami layaknya sedang melihat dua bidadari yang bercengkrama di taman surga.

“Tapi kalau emang lo lagi ngincer gue buat lo jadiin pacar, sepertinya gue mau, deh,” kata Sakura dengan senyum manisnya yang selalu mendampingi mata bulat sipitnya.

“Ah, apaan, sih. Ngaco, deh,” jawabku, lagi-lagi tawa-tawa kecil menyeruak di antara kami dan lagi-lagi mahasiswa-mahasiswa yang ada di sekitar kami kembali memandang ke arah kami.

“Trus-trus, sampai kapan lo akan begini?”

“Saat ini Ev belum berpikir ke arah situ, Ev juga ndak pernah narget harus punya pacar kapan atau seperti siapa.”

“Wah, wah.”

“Kalau emang sudah saatnya, Ev pengen terjadi sealami mungkin, nggak ada paksaan, nggak ada deadline.”

“Surat kabar kalee…”

“Wew…”

“Mengalir seperti air ya, Ev.”

“Untuk hal yang satu ini Ev jawab, iya.”

“Ternyata lo orangnya ndak mau ribet, yah.”

“Ya begitulah,” jawabku sambil tersenyum.

Kami hanya saling membagi senyum, lalu mengubah arah tubuh kami menghadap ke lapangan yang sedari tadi mengarah ke aula. Bosan juga mungkin. Pandangan kami tertuju ke lapangan yang terasa lebih luas dan lapang, di sana terlihat kakak-kakak panitia dari berbagai fakultas sedang berkumpul di panggung, sepertinya mereka sedang latihan, entah latihan apa, mungkin drama, tapi yang pasti akan mereka pentaskan untuk acara penutupan PENKAM nanti sore.

“Kalau ama kakak-kakak panitia yang tadi bagaimana?” tanya Sakura kembali memecahkan pandanganku.

“Yang mana?” tanyaku balik.

“Tadi, yang di pengenalan panitia sastra, ada yang nyantol, ndak?”

“Hmm, belum ada sepertinya, walaupun ada beberapa yang terlihat baik dan pintar, sih,” jawabku.

“Masak sih ndak ada?”

“Iya, benar.”

“Bener apa bener?” ujar Sakura sambil mencoba menggelitik perutku. Sesaat kami saling menggelitik satu sama lain, sempat menjadi tontonan mahasiswa yang ada di sekitar kami.

“Tapi masih kurang satu yang Ev belum kenal,” kataku kemudian.

“Oo, Kak Arist yang tidak hadir tadi, ya.”

“Iya, yang katanya sedang ada tugas menyiapkan acara penutupan nanti.”

“Iya tuh, gue sebel juga, sih.”

“Kenapa?” tanyaku.

“Abis sok sibuk banget sampai-sampai tidak ada waktu buat fakultasnya. Dia lebih mentingin acara universitas, emang siapa sih dia?” celoteh Sakura kemudian sambil mempraktikkan dengan kacak pinggangnya.

“Mungkin aja dia benar-benar ada tugas, Sakura.”

“Tapi kan harusnya tidak begitu, tadi kan acara fakultas dia juga, kan.”

“Iya juga, sih.”

“Kalau dia sih, gue jamin ndak kan nyantol juga, kok.”

“Kenapa, emang Sakura sudah pernah ketemu?”

“Sudah, kemarin waktu lo pingsan,” kata Sakura menjelaskan, lalu dilanjutkannya, “Memang dia keliatannya baik, juga tegas, sih.”

“Trus?”

“Tapi arogan kayaknya.”

“Begitu, ya.”

“Tapi kalau tidak ada dia mungkin sesuatu yang buruk akan menimpa lo waktu itu.”

“Loh, kok bisa?”

“Ah sudahlah, besok-besok saja gue ceritain. Yang pasti wajahnya standar-standar aja,” jawab Sakura tanpa mau menceritakan lebih lanjut. Aku jadi semakin penasaran, bukan penasaran ingin ketemu dengan kakak panitia yang dipanggil Arist itu. Tapi karena sudah dua orang yang menyebut namanya, sekaligus tidak mau menceritakan kelanjutannya saat kutanyakan. Tadi Kak Anggun, sekarang Sakura. Sepertinya ada sesuatu yang belum aku ketahui tentang kejadian kemarin.

Kami pun lalu kembali kelas kami, waktu dua jam yang disediakan seakan terasa cepat berlalu. Matahari sudah condong sedikit ke arah barat, acara penutupan pun sebentar lagi akan dimulai. Ya sebentar lagi, sebentar lagi aku akan menyandang nama mahasiswa, membuang nama baru yang ada di belakangnya. Sebentar lagi aku akan bisa sejajar dengan kakak-kakak panitia itu. Ya, sebentar lagi…

Use Facebook to Comment on this Post