Debu Cintayana – Bab 7 Tiga Pucuk Surat

Debu Cintayana – Bab 7 Tiga Pucuk Surat

Debu Cintayana – Bab 7 Tiga Pucuk Surat.

“Toar! Jangan bikin kaget kakakmu!”

“Cuman bercanda, Bunda.”

“Iya, Bunda ngerti, tapi jangan dibiasakan, ya.”

debu cintayana“Kenapa Bunda?”

“Nanti sehabis mengerjakan PR, kita ngobrol-ngobrol, ya. Ev juga.”

“Ada apa, Bunda?” tanyaku, walaupun dadaku masih terasa sesak sehabis dikagetkan oleh Toar beberapa detik yang lalu.

“Sudah, nanti saja Bunda jelasin. Sekarang Toar siapin meja makan, Ev bantu Bunda di dapur,” perintah Bunda sambil beranjak meninggalkan kami.

Aku segera bergegas menuju dapur, terlihat Bunda tengah menyiapkan makanan yang sudah matang. Mak Inah, begitu dia ingin dipanggil, seorang perempuan tua sebatangkara yang dulu ditolong oleh Bunda. Mak, sebuah nama panggilan dari bahasa Jawa, entah Jawa bagian yang mana, yang berarti ‘ibu’. Jawa memang pulau yang tidak besar, bahkan dibandingkan dengan pulau S tidak ada setengahnya. Suku Jawa menjadi suku mayoritas yang mendiami pulau Jawa, tapi suku Jawa sendiri di berbagai tempat tidak sama bahasanya, bahkan dalam satu daerah juga bahasa Jawanya terbagi dalam beberapa tingkatan. Ah, entahlah, aku sendiri masih belum mengerti benar sejarah kebudayaan Jawa.

Saat itu Bunda yang masih aktif sebagai dokter muda, ditugaskan ke sebuah daerah di pulau Jawa yang terkena bencana alam. Seluruh keluarga dan harta Mak Inah musnah. Melihat Mak Inah yang sebatangkara itulah Bunda lalu mengajaknya untuk tinggal di kota G ini. Jauh memang dari asal Mak Inah, tapi tentu ini lebih baik daripada terlunta-lunta di sana.

Mak Inah pandai sekali memasak, dan kali ini pun masakan khasnya itu sudah siap. Bunda dan aku membantu menyiapkannya di meja makan. Sebuah meja panjang yang sengaja ditempatkan di ruangan terbesar dari rumah ini. Dan setelah semuanya siap, Bunda pun mulai memanggili anak-anak asuhnya beserta empat orang yang bekerja di panti asuhan ini, total semuanya berjumlah hampir dua puluhan. Kecil memang bila dibandingkan dengan panti-panti asuhan yang lain, tapi Bunda memang sengaja hanya mengambil anak-anak asuh yang ada di sekitar sini saja.

“Ayo, hari ini giliran siapa memimpin doa sebelum makan?” tanya Bunda kemudian. Suasana pun sedikit riuh, namun sejurus kemudian semua menunjuk ke arah di mana Toar duduk.

“Kamu ya, Toar?”

“Iya, Bunda.”

“Ya udah, silahkan dimulai,” kata Bunda menyilakan. Suasana sesaat menjadi hening, semua mempersiapkan untuk mendengar doa Toar.

“Tuhan, terima kasih atas rejeki yang selalu Kau limpahkan pada kami. Terima kasih, karena masih mengijinkan kami untuk masih bisa berkumpul bersama. Terima kasih, tolong berikanlah kesehatan yang melimpah pada tangan-tangan yang sudah menyajikan makanan ini.”

Beberapa kalimat doa yang lain keluar dari mulut Toar, dan sebelum mengakhiri doanya, Toar mengucapkan permohonan yang cukup mengejutkanku.

“Dan satu lagi Tuhan, maafkan aku karena tadi sudah membuat Kakak Ev terkejut, hingga membuat Bunda marah. Maafkan aku, amiin.”

Yang lain hanya tertawa kecil begitu bacaan doa yang terucap selesai. Tapi kemudian semua pun melupakannya, semua sibuk dengan makanan yang terhidang di meja itu. Lezat sekali makanan itu terasa di lidahku, acara ritual yang menjadi kewajiban bagi manusia itu pun tak berlangsung lama. Setelah itu semua sibuk dengan keperluan masing-masing, adik-adik pada sibuk dengan PR masing-masing. Pada saat itulah Bunda memanggil Toar dan aku, sebagai dua anak asuh terbesarnya.

“Ada apa, Bunda?” tanya Toar setelah kami bertiga duduk berkumpul di teras depan.

“Tadi Bunda kan sudah berjanji.”

“Oh iya, ya.”

“Kalian berdua dengarkan baik-baik. Terutama kamu, Ev.”

“Ev, Bunda?!”

“Iya, dulu Bunda kan pernah cerita soal kecelakaan yang dialami orangtua Evelyne.”

“Waktu Kak Ev umur tujuh hari itu kan, Bunda?”

“Benar, Toar. Tapi masih ada satu hal lagi yang belum Bunda ceritakan. Saat ini Bunda rasa sudah waktunya.”

“Apa itu, Bunda?”

“Akibat kecelakaan itu, sebenarnya Ev kena benturan yang cukup keras di bagian dadanya. Hingga berakibat ada bagian tulang di dadanya yang tertekan dan sedikit menjorok ke dalam sehingga sedikit menghimpit jantungnya.”

“Wah…”

“Iya, oleh karena itu Bunda tadi melarang Toar untuk mengejutkan Ev. Sebab kejutan-kejutan itu bisa membuat jantung Ev semakin kesulitan dalam memompa darah.”

“Akibat terhimpit tadi itu ya, Bunda?” tanyaku penasaran.

“Benar, Ev.”

“Apa tidak bisa diobati, Bunda?” ganti Toar yang bertanya dengan kekhawatiran terlihat di wajahnya.

“Bisa, tapi tidak dengan obat, tapi dengan olahraga, terutama olahraga di bagian dada, semacam senam pernapasan.”

“Begitu ya, Bunda.”

“Iya, dan itu pun tidak bisa langsung sembuh, tapi berlahan-lahan dan bertahap, karena yang disembuhkan bukan jantungnya, tapi tulang dada yang menghimpit itu.”

“Jadi agar bengkok ke arah luar, Bunda?”

“Benar sekali, jadi tolong ya, Toar, jangan lagi bikin kaget kakakmu.”

JANGAN LAGI BIKIN KAGET KAKAKMU! Kalimat terakhir dari ucapan Bunda ini selalu menjadi ingatanku, teringat agar menjadi pedomanku di mana saja bahwa aku bukan manusia yang normal.

Ingin kusampaikan hal ini kepada mereka, kakak-kakak panitia PENKAM yang saat ini sedang mendakwaku beramai-ramai. Tapi tidak kesampaian, sebab semua keburu malam, gelap, gelap, dan gelap…

Tapi perlahan-lahan secercah cahaya menyeruak masuk ke retina mataku, sedikit silau pada awalnya, tapi mataku kemudian bisa menyesuaikannya. Aku ada di ranjang yang mulai familiar di mataku, ini ranjang di kamar kosku. Apa yang terjadi? Apa aku baru bangun tidur?

Kucoba bangkitkan tubuhku, semua persendian tubuhku terasa tak bertenaga. Uh, lemas…seperti tidak makan dua hari saja. Tapi masih bisa, masih ada sisa sedikit tenaga ternyata. Ku duduk di pinggiran ranjang, kucoba biasakan tubuh dengan suasana sekitar. Tak lama kemudian seseorang membuka pintu kamarku.

“Aduh Ev, kamu tidak boleh bangun dulu,” sergah seorang perempuan paruh baya padaku. Sekilas seperti bundaku, tapi setelah kutamatkan mataku dalam-dalam ternyata bukan, beliau ibu kosku ternyata.

“Ada apa, Bu? Kenapa dengan Ev?”

“Sudah, sudah, sekarang kamu berbaring dulu,” ujar perempuan paruh baya ini, beliau pun membantu aku berbaring kembali di ranjang.

“Kamu pingsan tadi.”

“Pingsan?”

“Iya, kamu tadi diantar pakai ambulans, lho, Ev.”

“Wah…”

“Iya, bikin Ibu kaget saja, Ibu sempat berpikir macam-macam.”

“Emang Ev sakit apa sampai pakai ambulans segala?”

“Ibu juga ndak tahu, mereka cuman bilang kamu kelelahan saja. Sekarang badan kamu terasa bagaimana Ev?”

“Ndak terasa sakit kok, Bu, cuman letih aja.”

“Berarti benar, tadi mereka juga bilang kalau kamu sudah bangun, segera diberi makan. Baiklah, Ibu ambilin bubur dulu, ya,” ucap ibu kosku tanpa menunggu persetujuan dariku terlebih dahulu. Bayangan perempuan paruh baya itu pun menghilang ditelan pintu kamar yang sedikit terbuka.

“Ibu suapin, ya,” ucap ibu kos beberapa saat kemudian ketika kembali, tentu dengan semangkok bubur hangat dengan asap yang masih mengepul ditangannya.

“Ah, ndak usah, Bu, terima kasih. Seperti pesakitan parah aja,” tolakku dengan tidak lupa senyum kusampaikan agar tidak menyinggung beliau.

“Bener ndak usah?”

“Benar, Bu, Ev cuman lemes di badan aja, kalau tangan masih kuat, kok.”

“Baiklah, ibu tinggal dulu, ya. Kalau sudah habis, mangkuknya taruh di meja saja. Setelah makan, minum obat yang diberi pihak rumah sakit tadi, ya. Itu di meja, obat beserta minumnya.”

“Iya, terima kasih, Bu, Ev sudah bikin repot Ibu.”

“Ah, ndak apa-apa. Sudah, kamu istirahat, ya. Ibu tinggal dulu,” kata ibu kos sambil beranjak meninggalkanku. Tapi belum sampai di pintu kamar, beliau kembali berbalik badan.

“Oh ya Ev, itu ada tiga surat untukmu. Ibu taruh tuh di meja, surat yang paling besar datang tadi siang pas kamu masih di kampus. Kalau yang lain barusan aja nyampe sebelum kamu bangun tadi.”

“Iya, terima kasih, Bu.”

Perempuan itu hanya tersenyum, lalu badannya kembali menghilang di balik pintu. Kali ini pintu itu ditutup dengan rapat dari luar. Kutolehkan pandanganku ke sisi kiri, terlihat sebuah meja tanggung tepat di samping ranjang. Di atasnya diselimuti dengan kain penutup meja berwarna hijau, warna kesukaan bundaku. Kain penutup meja itu memang pemberian Bunda, biar sewaktu belajar selalu teringat pesan Bunda, ujar Bunda waktu itu. Di atasnya ada sebuah mangkuk dengan bubur ayam hangat tersaji, samar-samar kepulan asap keluar dari bubur itu, sepertinya lezat juga. Segera kusambar mangkuk itu, lapar memang, dan memang benar bubur ini lezat.

Sambil menikmati hidangan bubur ayam nan hangat itu, mataku masih penasaran dengan meja di sampingku. Sebungkus plastik kecil khas dari rumah sakit, itu pasti obatnya, pasti pahit rasanya. Tepat di samping si plastik obat, segelas air putih dengan tutup gelas yang tak ketinggalan juga. Kenapa orang-orang menyebutnya air putih, padahal airnya sama sekali tidak berwarna putih. Bening, malah karena beningnya itu aku bisa melihat menembus ke belakang gelas itu.

Tak jauh dari dua benda itu, ada beberapa surat yang saling bertumpukan, yang paling besar ada di bawah. Penasaran juga, surat dari siapa, tak sampai dua minggu di kota metropolitan ini aku sudah mendapat surat. Mungkin sebaiknya kuselesaikan makanku ini, agar segera bisa membaca surat-surat itu dengan tenang.

Ah, ternyata hanya obat-obat semacam multivitamin saja, bukan obat-obatan yang aneh. Kuminum dua macam obat, masing-masing sebutir, sama sekali tidak terasa pahit karena semua obat berbentuk kapsul. Kapsul, salah satu hasil teknologi dalam dunia obat yang diciptakan untuk mempermudah manusia. Bisa dibayangkan zaman dulu saat pil kina ditemukan pertama kalinya. Orang-orang meminumnya sambil menutup hidungnya. Mungkin rasanya pahit benar, aku sendiri tidak pernah meminumnya. Jangan sampai aku meminumnya, mencobanya saja tak pernah terpikirkan olehku. Begitu kuselesaikan menengguk air yang terasa segar itu, segera kuraih tiga surat seperti yang dikatakan ibu kos tadi. Kuputuskan untuk membaca surat terkecil yang berada paling atas, sedangkan dua surat yang lain lalu kuletakkan di ranjang tepat di samping kananku.

Surat yang pertama berbalut amplop kecil berwarna pink, bau wangi tercium dari kertasnya. Pasti dari seorang cewek, pikirku. Kubalik, di bagian belakang amplop tertulis nama yang beberapa hari ini sudah tidak asing lagi bagiku, Sakura. Sempat-sempatnya dia menulis surat seperti ini, seperti besok tidak bisa ketemu saja. Kurobek sisi kanan dari amplopnya, tipis dan memanjang, hingga terbukalah ruang untuk melepas kertas yang ada di dalamnya. Hanya selembar, kertas berwarna pink juga. Sempat kucium wangi kertasnya, sebelum kubuka dan kubaca.

S, 18 Agustus 2002

Hai Ev,

Gue harap lo segera sembuh.

Maafin gue karena ndak isa bantu lo tadi.

Semua yang dilakuin kakak-kakak panitia tadi sebenarnya hanya sandiwara.

Ntar aja gue critain kalo lo uda sembuh.

Buruan sembuh ya, Ev.

Oh ya satu lagi, Ev.

Met ultah.

Tamba gede tamba caem aja.

See U on campus

Sakura

NB: Gue tunggu traktirannya

Ku tengadahkan kepalaku sesaat setelah membaca, kupandangi poster seorang aktor lokal nan tampan yang terpampang di dinding kamarku. Poster yang kubawa dari kota G, kubeli saat sedang hang out bersama teman-teman SMU-ku. Kutemukan di sebuah lapak di pinggir jalan, harganya cukup murah. Tapi bukan sekedar murahnya yang aku suka, melainkan gambar yang terpampang adalah gambar yang sudah kuimpikan sebelumnya.

Pose aktor kesayanganku di sebuah film layar lebar, Ada Apa Dengan Cinta. Pintar, tidak banyak ngomong, tampan lagi. Tapi ada satu lagi kesukaanku akan akting dia di film itu; dia kalau melihat cewek tidak seperti seekor kucing yang melihat ikan. Padahal sembilan puluh sembilan persen cowok ya seperti kucing. Itu kata orang, sih…

Kembali kulayangkan pandangku ke surat wangi di tangan kiriku. Kubaca lagi walaupun isinya masih terngiang di otakku. Mungkin ingin kuhafal isinya, tapi yang jelas aku masih tidak mengerti. Apa yang terjadi tadi pagi denganku, hingga Sakura menyempatkan menulis sebuah surat seperti ini. Seriuskah kejadiannya? Parahkah sakitku? Kan hanya pingsan, tapi kalau sekedar pingsan, kenapa hingga sore menjelang malam aku baru diantarkan pulang ke tempat kosku ini, menggunakan ambulans dari sebuah rumah sakit lagi…. Apa mungkin ambulans rumah sakit itu juga bagian dari sandiwara mereka?

Atau mungkin tak ada yang perlu dikhawatirkan, mungkin hanya Sakura saja yang terlalu romantis hingga sakit biasa saja dia tanggapi dengan sebuah surat nan wangi ini. Yup, pasti hanya perasaanku saja yang aneh-aneh, pasti kebetulan saja. Lagipula besok pagi aku kan harus ke kampus, tentu bisa ketemu dengan Sakura. Bukankah besok hari terakhir PENKAM, acara penutupan besok pasti ramai.

Dan satu hal lagi yang membuatku semakin bingung, bagaimana bisa Sakura mengetahui kalau hari ini aku ulang tahun. Tidak ada seorang pun di kota S ini yang sudah aku beritahu, aku pun selama ini tidak pernah mengiklankan hari ulang tahunku. Bagaimana bisa?

Kertas warna pink itu pun kembali masuk ke dalam amplopnya, pink juga. Kuletakkan di meja, lalu tangan kananku meraih surat kedua yang ada di ranjang. Berukuran lebih panjang dari surat pink tadi, kali ini berwarna putih dengan gambar dan tulisan yang biasa tercantum pada sebuah surat resmi.

Wow, ini surat resmi dari panitia PENKAM, apa pula ini, sampai-sampai surat resmi nyasar di kamarku. Tapi tidak, memang tidak nyasar, sebab namaku tertulis di amplop depannya. Seperti biasa kusobek tipis memanjang di samping kanan amplopnya, lalu kukeluarkan kertasnya. Selembar juga, kubaca dengan perlahan-lahan, sebab ku takut ada yang ketinggalan jika kubaca dengan cepat.

Sebuah permintaan maaf dari panitia PENKAM, sebegitu merasa bersalahkah mereka? Hingga mereka tuangkan di sebuah surat yang resmi seperti ini, bahkan orang-orang yang berkompeten pun sempat membubuhkan tanda tangannya di sini. Ketua PENKAM fakultas, Ketua BEM fakultas, Dewan Penasehat PENKAM, dan bahkan Pembantu Dekan III juga. Kaget juga, apakah hanya gara-gara dakwaan tak terbukti yang membuatku pingsan tadi? Pingsan saja sudah membuat Pembantu Dekan sampai turun tangan, semudah itukah?

Tapi menurut Sakura, itu semua sandiwara. Apa surat ini juga sandiwara? Berani benar kalau hal itu benar adanya. Tapi bagaimana dengan pingsanku, itu benar-benar pingsan bukan sandiwara. Atau mungkin, sepertinya pingsanku sudah membuyarkan sandiwara yang sudah mereka susun.

Di surat ini juga tertulis bahwa aku diberi dispensasi untuk tidak melanjutkan PENKAM. Wah, enak banget bikin keputusan seperti ini. Lagipula aku tentu saja tidak ingin pengalaman mengikuti PENKAM hilang di depan mata. Pahit-manisnya mengikuti PENKAM adalah suatu pengalaman yang tak tergantikan selama hidup, belum tentu aku akan mengalami pengalaman seperti PENKAM di hari esok nanti. Lagipula dispensasi ini hanya berlaku bila aku masih sakit, sudah kuputuskan bahwa besok aku akan kembali mengikuti PENKAM, bukankah mengikuti PENKAM itu juga hakku sebagai mahasiswa baru. Aku yakin besok pagi aku sudah kuat, sudah sehat kembali, sekarang saja sudah menghabiskan semangkuk bubur ayam.

Kuraih gelas berisi air putih yang tinggal seperempat isinya itu, kuteguk dan sang air pun menghilang di balik bibirku. Baru dua surat saja yang kubaca, tapi sudah membuatku haus seperti ini. Surat pertama dan kedua sudah rapi kembali kuletakkan di meja, sedangkan surat ketiga masih kupandangi.

Ini bukan surat, lebih tepatnya ini adalah sebuah paket. Tebal, bentuknya tebal seperti buku. Apa isinya memang surat yang berjumlah berpuluh-puluh lembar, tapi siapa kiranya yang sempat menulis surat sebanyak ini. Kuambil, terlihat tulisan besar-besar di atasnya, ternyata dari kota G. Segera kubuka, lebih tepatnya kusobek-sobek sebab kali ini karena tebal aku tidak bisa menyobek tipis di sisi kanan seperti dua surat yang lain.

Perlahan-lahan isinya mulai terkuak. Ternyata sebuah buku yang masih dengan plastik transparannya yang menyelimuti. Bumi Manusia, dua kata tertulis besar-besar terlihat di sampul depannya. Ini kan novel yang kuinginkan selama ini, novel yang ingin kubaca tamat-tamat, novel yang ingin kubaca berulang-ulang, lagi dan lagi. Bukan novel yang kubaca dengan terburu-buru karena hanya dua hari waktu yang disediakan oleh perpus sekolahku waktu itu untuk meminjamnya, belum lagi antri dengan yang lain.

Novel yang sudah memikatku dengan roman percintaan di dalamnya, tapi sekaligus novel yang memberiku semangat belajar sebagai seorang perempuan. Semua bermula saat Pak Gendut, itu nama panggilan yang biasa teman-temanku menyebutnya, guru bahasaku di SMU memberi tugas agar membaca karya tiga tokoh sastrawan Indonesia angkatan ‘45. Hingga akhirnya Aku karya Chairil Anwar, Jalan Lain Menuju Roma karya Idrus, dan Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer harus aku baca. Awalnya memang jenuh juga, tapi tiga buku itu membuka mataku. Akan adanya manusia-manusia legenda dari Indonesia yang ternyata mampu membuat karya sastra berkualitas seperti itu. Tidak sekedar cerita roman cinta-cintaan yang disukai remaja-remaja seusiaku, tapi juga banyak menyelipkan makna-makna kehidupan nyata yang pasti akan kutemui kelak baik secara langsung atau tidak.

Kudekap si buku, senang rasanya seperti menemukan saudara tua yang tak pernah kutemui sebelumnya. Mungkin jika buku ini hidup tentu dia bisa mendengar detak jantungku yang berdetak kegirangan. Mataku pun terkatup nyaman seperti ikut merasakan yang dirasakan jantungku.

Sejurus kemudian bayangan kecantikan Annelies, seorang Indo yang selalu ingin disebut pribumi, melintas di depan mataku. Bahkan sosok Nyai Ontosoroh, seorang ibu yang tidak sempat mengenyam bangku sekolah tapi bisa sepintar aristokrat Eropa pun seperti tersenyum padaku. Tapi semua itu langsung menghilang saat bayangan Minke menyeruak di antara keduanya. Bagaimana mungkin Annelies bisa jatuh cinta padanya, sebuah misteri kehidupan yang masih ingin kuketahui, tentu saja dengan membaca novel ini aku mungkin bisa mendalaminya. Sekalipun aku sendiri sudah pernah membacanya, itu pun baru sekali, tergesa-gesa lagi.

Kuturunkan sang buku dari dadaku, kuletakkan di pangkuan. Perlahan kulepaskan plastik pembungkusnya. Kubalikkan lembar sampul depannya, ternyata ada sebuah kertas terlipat dengan rapi terselip di dalamnya, tentu ini pesan dari si pengirimnya.

Kubuka dan lalu kubaca: Kota G enam belas agustus dua ribu dua. Kak Ev, semoga novel ini sampai di sana tepat pada tanggal delapan belas. Hanya novel ini yang bisa Adik persembahkan untuk Kak Ev. Novel yang setahu Adik, sangat Kak Ev sukai. Memang mencarinya sedikit sulit, Kak, tapi tidak apa-apa, yang penting Kak Ev suka. Selamat ulang tahun, Kak Ev, semoga baik-baik saja di sana. Di sini semua juga baik-baik saja, kok, walaupun tidak seramai dulu waktu masih ada Kak Ev. Hehehe. Tetap semangat ya, Kak Ev. Dari adik yang paling nakal tapi ganteng, Toar.

Hadiah dari Toar ini sedikit melupakan rasa penasaranku akan apa yang terjadi tadi pagi, tentang pingsanku, tentang rumah sakit, ambulans. Lebih baik sekarang aku segera tidur, agar besok pagi terasa kuat lagi. Besok kan kutanyakan, Sakura pasti akan bercerita. Kupandangi sampul novel di tanganku ini, sekilas wajah Toar terlihat seperti sedang tersenyum di sana.

Toar, adik yang sering menjahiliku, tapi juga adik yang paling berusaha menyenangkanku. Umurnya sendiri hanya berbeda satu tahun denganku, dia sangat menyukai sepak bola, dari kecil memang sudah terlihat kesenangannya itu. Bunda pun pernah menjewernya karena dia memecahkan kaca di samping rumah.

Tapi semenjak SMP, hobinya itu semakin serius saja sepertinya. Dia direkrut sebuah sekolah sepak bola, gara-gara pelatih sekolah sepak bola itu melihatnya di sebuah turnamen sepak bola antar SMP sekota G. Bahkan semenjak SMU dia sudah tidak mau berboncengan sepeda lagi bersamaku jika ke sekolah, dari SD dia selalu satu sekolah denganku, sekalian agar bisa menjagaku katanya. Walaupun prestasi akademiknya memang tidak sebagus aku, tapi entah kenapa dia selalu berhasil diterima satu sekolah denganku, mungkin prestasi dalam sepak bola itu.

Setiap pagi dia selalu berlari menuju ke sekolah. Sudah pasti tiap hari dia selalu membawa baju ganti. Pihak sekolah pun mengetahui hal ini, bahkan mendukung dengan memberi dispensasi bila ada kegiatan yang menyangkut sepak bolanya. Tiap hari dia rutin lari pergi-pulang, katanya ini yang dilakukan David Beckham waktu kecil, seorang pemain bola dari Inggris yang saat ini menjadi pemain yang sedang digandrungi oleh dunia.

Tapi sampai kapan dia akan bermain sepak bola, apa sepak bola di negeri ini sudah bisa dijadikan lahan kehidupan? Toar pernah berkata bahwa saat ini sepak bola Indonesia sudah semakin maju, dia pun yakin beberapa waktu ke depan bukti-bukti bahwa sepak bola juga bisa dijadikan pekerjaan akan semakin nyata.

Apa mungkin itu terjadi di negeri ini, bukankah masih banyak kerusuhan-kerusuhan di pertandingan sepak bola? Apa penonton sepak bola sudah bisa bertindak sportif seperti penonton di sepak bola Eropa? Apa mungkin nanti pemain sepak bola Indonesia bisa berpenghasilan seperti pemain sepak bola dari Eropa yang justru banyak diburu artis-artis karena kekayaannya. Bagaimana tidak diburu, sudah kaya, tampan, gagah, dan tentu yang pasti sehat pula. Rentetan asesoris laki-laki yang bisa membuat perempuan terbuai. Semoga apa yang diimpikan Toar akan bisa tercapai. Yang pasti sekarang aku sangat senang dengan kirimannya, kiriman terindah untuk hari yang sedikit berat ini.

Use Facebook to Comment on this Post