Debu Cintayana – Bab 6 Wangi…!

Debu Cintayana – Bab 6 Wangi…!

Debu Cintayana – Bab 6 Wangi…!

Beberapa anak kecil yang masih duduk di bangku SD datang mengerubutiku ketika aku memasuki pintu pagar rumah. Bahkan ada yang langsung dengan sigap mengambil tasku dan membawanya ke dalam.

“Sudah pulang, Ev!”

debu cintayana“Iya, Bunda,” sahutku sambil mencium tangan lembut wanita paruh baya yang masih terlihat sisa-sisa ketegaran, kecerdasan, dan kecantikannya ini.

“Hampir tiap hari sehabis sekolah langsung latihan paskibra, kamu tidak capek, Ev?”

“Tidak, Bunda.”

“Tidak takut jadi item?”

“Ah, gak pa pa kok, Bunda. Kan bawa baju ganti lengan panjang ama pake topi, lagian item juga cantik loh Bunda.”

“Iya, iya, tapi jangan sampai mengganggu sekolahmu ya, Ev.”

“Ev atur waktunya kok, Bunda, buktinya selama ini Ev selalu ranking tiga besar, kan,” jawabku dengan bangga. Wanita tua di depanku ini pun perlahan-lahan meletakkan tangannya di kepalaku, dengan gerakan remasan kecil beliau mengelus lembut kepalaku.

“Bagi Bunda, bukan rankingmu yang terpenting, Ev.”

“Loh, lalu apa, Bunda?” tanyaku keheranan, sebab teman-temanku pernah bercerita bahwa orangtuanya selalu menginginkan mereka menjadi ranking satu di kelasnya. Bunda tersenyum sejenak, sambil tidak menarik tangannya yang ada di atas kepalaku. Pandangannya lalu disapukan ke halaman depan, terlihat adik-adik asyik bermain dengan gembira. Beliau kembali tersenyum.

“Kamu sudah remaja dan semakin beranjak dewasa, Ev.”

Aku masih terdiam, sengaja karena menantikan penjelasan dari Bunda yang sebentar lagi pasti aku dengar. Dengan tajam kupandang wajah wanita tua di depanku ini, rasa penasaran masih berputar-putar di kepalaku.

“Yang terpenting adalah kamu bisa mengerti segala apa yang diajarkan di sekolah, juga mengerti apa arti dari sekolah itu sendiri. Dan satu lagi, kamu harus mempunyai rasa tanggung jawab akan keberadaanmu sebagai anak sekolah, Ev,” jelas Bunda.

“Wah, kok berat sekali penjelasan Bunda, yah…Ev cuman ngerti sedikit.”

“Tidak apa-apa, nanti juga kamu pasti mengerti. Yang pasti, Bunda percaya padamu, Ev!”

BUNDA PERCAYA PADAMU, EV! Tak terasa air meleleh dari mataku, rupanya aku bermimpi. Teringat kenanganku selama masih di kota G, kangen rasanya bila mengingat Bunda dan adik-adikku. Apalagi sama si Toar, adikku yang umurnya hanya beda satu tahun denganku. Dia selalu berusaha membuatku tersenyum, dia tidak pernah menolak keinginanku. Mungkin karena aku dan dia mempunyai nasib yang hampir sama, bahkan menurutku jalan hidupnya lebih berat daripada aku. Ibunya meninggal saat melahirkannya, sedangkan ayahnya sudah meninggal beberapa bulan sebelumnya karena melindungi ibunya yang sedang dirampok oleh kawanan perampok yang sedang menyatroni rumahnya. Kasihan Toar!

BUNDA PERCAYA PADAMU, EV! Sebuah kalimat yang selalu terngiang-ngiang di telingaku. Sebuah kalimat yang sudah kudengar pada saat umurku masih belia, entah mulai kapan Bunda mengumandangkan kalimat itu kepadaku. Sebuah kalimat yang selalu kusimpan kapanpun, dimanapun, dan bagaimanapun. Sebab bagiku yang hanya sempat merasakan kasih sayang dari orangtuaku hanya selama tujuh hari ini, walaupun hanya satu orang yang percaya padaku, itu sudah cukup. Cukup bagiku untuk bisa melanjutkan hidup ini dengan pandangan tajam ke depan. Cukup bagiku untuk mengembangkan layar impian dan harapanku. Satu orang yang percaya padaku, bundaku, itu sudah cukup bagiku!

Kuseka air yang keluar dari mataku, masih seminggu lebih aku di kota ini, tapi rasa kangen pada Bunda dan adik-adik sudah menyelimuti, belum lagi nikmat masakan Mak Inah masih saja menggoda di mulutku.

Sudah jam empat pagi, rupanya Bunda membangunkanku lewat mimpi. Tidak di sana tidak di sini sama saja, Bunda selalu menyempatkan untuk membangunkanku bila aku terlambat bangun. Dan sepertinya hari ini akan menjadi hari yang lebih cerah bagiku, hari yang selalu cerah. Terima kasih Tuhan, sudah Kau panjangkan hidupku lagi. Terima kasih Bunda, Ev mandi dulu ya, gumamku sendiri. Hmm, bahkan harum minyak wangi yang biasa dipakai Bunda bisa kucium hingga saat ini. Wangi…!

* * *

“Hai, maba! Kamu tahu apa kesalahanmu?!”

“Tidak tahu, Kak.”

“Apa?! Tidak tahu?!”

“Iya.”

“Di hari Pra-PENKAM kan sudah diberitahu! Selama PENKAM dilarang membawa minyak wangi! Ingat itu!”

“Ingat, Kak.”

“Tapi kenapa kau melanggar?!”

“Tidak, Kak.”

“Apa tidak!”

“Ev, tidak melanggar, Kak.”

“Tidak melanggar katamu?!”

“Iya, Kak.”

“Trus dari mana asal bau wangi di badanmu ini?!”

“Ev pakai tadi pagi sebelum masuk PENKAM, Kak.”

“Bohong!”

“Benar, Kak, Ev tidak bohong.”

“Ah, kamu pasti bawa! Ayo di mana kamu simpan?!”

“Tidak Kak, Ev memang tidak bawa minyak wangi.”

“Kamu melawan saya! Nantang ya?!”

“Tidak, Kak.”

“TUNDUK! Semua tunduk!” sebuah suara yang lebih keras dan mengejutkan terdengar dari arah belakang.

“Semua tunduk! Lihat ke bawah! Dan diam!” suara itu terdengar semakin dekat denganku, bahkan mungkin sudah tepat di samping. Deg, tak terasa jantungku berdetak semakin keras dan cepat. Kutundukkan kepala rapat-rapat.

Baru beberapa menit yang lalu apel pagi selesai, tapi pada saat para maba hendak digiring menuju ke kelas, kakak-kakak panitia dari sie-DIET tiba-tiba datang dan melakukan pemeriksaan barang bawaan dari para maba. Dan apabila dianggap melanggar, maka maba itu akan disuruh maju dan berbaris berhadap-hadapan dengan barisan maba terdepan. Dan anehnya, aku termasuk maba yang disuruh maju. Hukuman yang dibuat-buat, gumamku dalam hati.

“Kalian di sini bukan untuk main-main, ya!” suara itu terdengar masih terasa keras memecah keheningan sesaat barusan.

“Orangtua kalian mengirim kalian kemari adalah untuk menuntut ilmu! Ingat itu!” lanjutnya.

Suara itu terasa melewati barisan maba yang dihukum di depan, terlihat sekilas dua buah sepatu hitam dan licin bergerak saling bergantian maju. Gerakannya pelan tapi pasti, seperti sepasang tikus hitam yang sedang bercanda. Lalu serentetan suara yang berasal dari satu orang terdengar dengan sangat jelas olehku:

“Dan di sini tugas kami, para panitia PENKAM!”

“Adalah untuk mempersiapkan kalian para maba!”

“Mengenalkan dunia perkuliahan dengan disiplin!”

“Kenapa disiplin?!”

“Sebab barangsiapa yang tidak disiplin!”

“Akan menjadi mahasiswa yang tidak berkualitas!”

“Yang hanya akan membuat negara ini semakin jatuh!” oceh pemilik sepasang sepatu hitam itu. Dia terdengar seperti ngomong sendiri, walaupun sebenarnya aku sendiri tidak bisa menyalahkan apa yang dia ocehkan tadi.

Langkah yang tegap itu semakin dekat, pelan tapi pasti semakin mendekat. Terlihat sepasang sepatu itu telah tepat di depanku. Hitam legam warnanya, pasti belum lama sepatu itu disemir. Tak terlihat debu atau tetes air yang berani menempel. Bagian depan sepatu kanan bergerak-gerak naik turun, terlihat seperti mencemoohku.

Sementara itu sepasang sepatu yang lain terdengar melangkah mendekati sepasang sepatu yang ada di depanku. Suasana kembali hening, hanya sayup-sayup suara keramaian kota dari kejauhan sana. Lalu dua orang pemilik sepatu-sepatu di depanku itu terdengar seperti berbisik, tak terdengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan. Mungkin sudah capek dengan sarapan ocehan yang terdengar barusan. Malah suara kicau burung-burung kecil di pepohonan taman kampus bisa mengalahkan suara bisikan mereka hingga terdengar menenteramkan bagi para maba yang sepertinya akan mendapat hukuman itu.

Setelah PENKAM berlangsung selama lima hari, sepertinya pagi ini aku akhirnya terkena hukuman. Memang semenjak hari pertama aku tidak pernah terkena hukuman, tentu saja disebabkan aku selalu menyiapkan segala keperluan PENKAM dengan teliti.

Tapi di mana Sakura? Bukankah dia yang biasanya menjadi sorotan dengan keceriaan dan kegenitannya yang luar biasa itu? Ah, sempat-sempatnya aku memikirkan Sakura, padahal aku sendiri lagi dalam kesulitan, dan sewaktu-waktu bisa saja hukuman yang aneh-aneh siap menimpaku sebentar lagi. Jantungku terdengar masih berdeguk dengan kencang, napasku pun keluar masuk tidak selancar seperti biasanya, bagian atas kening pun mulai dihinggapi keringat dingin. Ya Tuhan, jangan sampai aku pingsan pagi ini, pasti memalukan.

“Hmm…maba Evelyne, ya,” gumam pemilik sepatu hitam legam tiba-tiba.

“Apa yang kamu lihat?!”

“Tidak lihat apa-apa, Kak.”

“Kamu lihat sepatuku, ya!”

“Tidak, Kak,” jawabku. Iih, ge-er banget cowok ini, lagian kan tidak sengaja melihat sepatu jadul itu. Gimana tidak sengaja, kan disuruh tunduk dan lihat ke bawah, otomatis yang terlihat hanya sepatu-sepatu milik mereka yang berteriak-teriak di depanku ini.

“Kamu tahu apa salahmu?!”

“Tidak, Kak.”

“Lalu ngapain kamu di sini?!”

“Menurut kakak yang tadi, Ev bawa minyak wangi.”

“Trus mana minyak wanginya?!”

“Ev tidak bawa, Kak.”

“Trus siapa yang suruh kamu ke depan sini?!”

“Kakak yang tadi.”

“Iya siapa namanya?!”

“Hmm…,” aduh, aku lupa namanya. Padahal tadi aku sudah sempat melihat nametag kakak panitia yang menyuruhku tadi; ini bisa jadi pemicu hukuman.

Aham ehem! Di kampus dilarang individualis!”

“Perhatian semua maba! Kalian harus saling kenal! Juga dengan semua panitia PENKAM! Tanpa terkecuali!” ujar kakak panitia yang kege-eran ini, sepertinya ocehan tadi akan kembali terdengar olehku, bedanya kali tepat di depanku hingga terdengar layaknya singa yang sedang mengaum.

“Kenapa?!” lanjutnya lagi, “Sebab nanti di perkuliahan, dosen pasti akan memberi tugas kelompok!”

“Bagaimana bisa bikin kelompok kalau kalian tidak saling kenal!”

Sejenak kakak panitia pemilik sepatu hitam legam itu terus mengeluarkan ocehannya. Sedangkan aku sendiri berusaha secepatnya agar dapat mengingat nama kakak panitia yang mendakwaku. Duh siapa ya namanya, kalau tidak salah…

“Kak Dadang.”

“Siapa?!”

“Kak Dadang namanya, Kak,” jawabku dengan mantap, karena aku sudah mengingatnya.

“Aku sudah tahu namanya Dadang! Tapi siapa yang menanyaimu!”

“Kan tadi kakak yang nanya.”

Spontan suara tertawa yang tertahan terdengar dari barisan para maba di depanku, sepertinya mereka tertawa setelah mendengar pembelaanku yang terdengar seperti ocehan anak kecil.

“Diam!!” bentakan keras kembali terdengar. Suara bentakan yang tidak sampai satu meter dariku itu kembali membuat jantungku berdetak semakin keras dan cepat.

“Diam semua! Kalian senang teman kalian dihukum?! Atau kalian mau ikut di depan sini?!” bentak pemilik sepatu hitam legam ini sekali lagi, suasana kembali sepi.

“Baik! Perhatian semua yang ada di depan sini! Kembali ke barisan semula!” perintahnya, lalu, “Kecuali maba Evelyne yang individualis ini!”

Apa pula ini, semua maba yang jelas-jelas melanggar disuruh kembali, sedangkan aku yang tidak jelas salahnya malah tetap dihukum. Bukankah tadi mereka sudah menggeledah tasku, bahkan Kak Nadiva, salah satu sie-DIET yang cewek juga sudah memeriksa kantong-kantong yang ada di bajuku. Dan tentu saja tidak ditemukan botol minyak wangi yang menjadi dakwaan. Tapi mengapa sampai sekarang aku masih saja disandera di depan barisan seperti ini…?

Kakak panitia PENKAM yang lain sepertinya hanya diam dan menonton dari kejauhan. Sepertinya hanya kakak panitia dari sie-DIET saja yang ada di lapangan. Dan kakak panitia yang ada di depanku ini yang sedari tadi terus membentak-bentak adalah pemimpin dari sie-DIET, itu berarti dia koordinator sie-DIET. Sudah pasti kakak panitia yang ada di depanku ini adalah kakak panitia yang aku dan Sakura temui di sekret BEM pada waktu hari pertama PENKAM.

Jangan-jangan dia masih marah dengan kejadian waktu itu, hingga sekarang akulah yang jadi tumpahan kemarahannya. Tapi kenapa Sakura tidak dihukum juga di depan sini, berarti bukan karena kejadian waktu itu. Terus kenapa?

“Maba Evelyne! Jadi kamu masih tidak merasa bersalah!”

“Iya, Kak.”

“Begitu ya! Kenapa kamu tidak bersalah!”

“Karena Ev tidak membawa minyak wangi, seperti yang dituduhkan Kak Dadang.”

Kakak panitia di depanku ini terdiam sesaat, sepertinya dia kehabisan kata-kata untuk mendakwaku. Selintas terlihat dia berjalan memutariku, dan pasti pandangan matanya tidak lepas dariku. Entah apa yang ada di benaknya saat ini.

Lalu terdengar sepatu-sepatu yang lain dengan cepat mendekat, entah dari arah mana asalnya. Sepertinya datang untuk menemani dua pasang sepatu hitam yang sudah ada tepat di depanku. Oh tidak, aku salah, ternyata sepatu-sepatu itu datang untuk mengelilingiku.

“Maba ini bohong!”

“Jadi bohong!”

“Kamu nantang saya, ya!”

“Dasar maba genit!”

“Maba tidak berkualitas!”

“Tidak, Kak,” ujarku, dua kata pembelaanku sepertinya tidak berguna dengan cercaran kata-kata yang dilontarkan oleh entah berapa orang yang tiba-tiba sudah berada di sekitarku.

“Apanya tidak?!”

“Sudah jelas-jelas!”

“Pembohong!”

“Hukum saja!”

“Ya hukum!”

“Hukum seberat-beratnya!”

“Ti…”

Jawabanku seperti tenggelam di dalam entah berapa suara yang mengelilingiku. Suara-suara menggelegar terus mendakwaku. Awalnya dakwaan itu masih terdengar jelas olehku, walaupun asal pemilik dakwaan itu sama sekali tidak kuketahui.

Jantungku semakin terdengar ingin melompat keluar dari dadaku, oksigen yang kuhirup pun terasa semakin tipis, keringat dingin juga seperti berlomba-lomba ingin keluar dari tubuhku. Bumi yang kupijak pun terlihat semakin gelap, apa hukuman ini sudah sekian lama berlangsung hingga tak kurasakan lagi malam sudah menghampiri, padahal kan baru beberapa saat yang lalu apel pagi dibubarkan. Kurasakan semakin malam dan suara-suara tadi sudah berubah menjadi suara desiran angin dingin yang dirasakan kulitku. Anehnya aku merasa ingin tidur walaupun tidak terasa kantuk sama sekali. Tapi, memang gelap, gelap, dan…

Use Facebook to Comment on this Post