Debu Cintayana – Bab 5 Gadis Bernama Sakura

Debu Cintayana – Bab 5 Gadis Bernama Sakura

Debu Cintayana – Bab 5  Gadis Bernama Sakura.

“Uh, capek banget!” gumamku. Seharian diteriaki, diomeli, disuruh-suruh bahkan dihukum dengan hukuman yang aneh-aneh, sekalipun tidak jelas salahnya. Memang bukan aku yang dihukum, tapi tentu bukan pemandangan yang indah juga, walaupun ada yang sedikit lucu. Ada yang dihukum merayu pohon, atau berpuisi menghadap tiang bendera, pokoknya hukuman yang bikin malu.

Copy of debu cintayanaTapi mungkin memang begini nasib para mahasiswa baru yang selalu menjadi bulan-bulanan mahasiswa senior. Sekalipun pemerintah sudah melarang perploncoan di kampus, tetap saja replika-replikanya masih beredar dalam berbagai versi di berbagai kampus di negara ini. Bisa jadi ini adalah ajang untuk melampiaskan dendam terpendam dari mahasiswa senior yang tentu saja dulu juga mengalami hal serupa.

Tapi memang harus aku akui, bahwa perploncoan pada zaman dulu sangat berbeda dengan zaman sekarang. Kalau sekarang hukumannya lebih bersifat mental, mungkin dengan harapan agar mahasiswa baru lebih siap mental dalam mengarungi dunia perkuliahan dan perkampusan nanti.

PENKAM hari pertama sudah usai, dan kelas pun baru saja dibubarkan. Aku menuruni tangga gedung dengan hati-hati bersama Sakura, seorang mahasiswi baru juga yang aku kenal tadi pagi. Kebetulan nomor induk mahasiswa kami berurutan, hingga tempat duduk kami juga berurutan, dia tepat di depanku.

Sakura seorang gadis yang periang, walaupun sudah melalui hari yang berat, tapi aku lihat dia tetap tertawa ceria. Genitnya minta ampun, apalagi kalau ada kakak-kakak mahasiswa senior yang menjadi panitia PENKAM ini, dia pasti tersenyum genit dengan pandangan mata menerawang yang berbinar-binar pula. Seperti tidak pernah melihat cowok saja, pikirku.

“Ke sekret BEM, yuk!” ajak Sakura tiba-tiba sesaat begitu kaki kami mencapai lantai dasar.

“Aduh Sakura! Kamu ndak capek, ya? Ev pengan cepet-cepet pulang nih, capek!”

“Ah bentar aja kok, yuk, yuk,” sergahnya dengan cepat sambil langsung menggandeng tanganku tanpa menunggu persetujuan si empunya. Kuturuti ke mana langkahnya menuju, semoga benar-benar sebentar saja.

Sepertinya langkahnya tepat menuju kompleks gedung H yang model bangunannya sedikit berbeda dengan kompleks gedung yang lain. Di sini tidak bertingkat, tapi berlorong-lorong dengan ruangan di kanan-kirinya, mirip tempat kos.

Tanganku masih tergandeng olehnya, berjalan di samping agak ke belakang darinya. Beberapa meter di depan kami terlihat sebuah ruangan yang tidak terlalu besar, tapi setidaknya cukup muat bila dipaksakan untuk menampung lima belas orang. Kali ini hanya ada tiga orang kakak panitia yang standby di sekret ini.

Satu orang terlihat sibuk mengetik sesuatu di depan layar monitor sebuah komputer, sedangkan dua orang yang lain sedang duduk lesehan sambil mendiskusikan sesuatu, serius sekali mereka. Hendak kuurungkan langkahku, kutarik tangan Sakura. Tapi niatnya benar-benar sudah bulat, tarikanku dibalas dengan tarikan yang lebih kuat lagi.

“Selamat sore, kakak-kakak,” sapa Sakura dengan senyum yang ditebarkan dengan genitnya sesaat setelah sampai di depan sekretariat BEM. Semua yang ada di dalam ruangan itu sepertinya terkejut, mungkin mereka tidak akan menyangka bakal didatangi maba pada hari pertama PENKAM. Salah satu dari yang sedang berdiskusi itu kemudian berdiri.

“Ada apa ini! Kenapa kalian kemari?!” bentak salah seorang kakak senior. Tuh kan, belum-belum sudah kena semprot. Bagaimana mau tebar pesona kalau dibentak-bentak seperti ini, dasar Sakura bodoh.

“Maaf Kak Seno, jangan marah, dong. Kami cuman pengen tau sekret BEM aja, kok,” rayu Sakura masih dengan senyuman genitnya, sementara aku sendiri sudah ingin pergi saja dari situ rasanya.

“Pengenalan BEM ada waktunya sendiri nanti! Ini daerah terlarang bagi maba! Sudah sudah, pergi, pergi!”

Kutarik tangan Sakura dan segera kuajak pergi dari tempat yang terasa panas ini, tentu tidak lupa kata-kata maaf kulontarkan sambil terus menebar senyuman pada kakak senior yang sok jago dan tidak kenal sopan santun itu.

“Tuh kan, sudah Ev bilangin jangan ke situ.”

“Hihihi, nggak pa pa, kok. Lagian gue seneng liat kakak-kakak senior yang cool-cool itu,” jawab Sakura dengan mata yang masih berbinar-binar. Dasar Sakura, masih saja ada cewek seperti ini. Kami pun tertawa kecil. Entah kenapa, walaupun baru kenal sepertinya aku merasa sudah sangat akrab. Ah, mungkin karena aku ini masih asing dan sendirian di kota ini. Di tempat kos pun, aku belum terlalu mengenal teman-teman satu kos. Jadi di tempat yang sangat jauh dari kota asalku ini, tentu saja aku membutuhkan teman yang bisa kuajak bercanda seperti Sakura ini.

“Rumah lo di mana?”

“Di sini Ev kos.”

“Kos? Jadi lo dari kota mana?”

“Kota G di pulau S, di seberang lautan sana.”

“Wah, anak kota G ternyata. Pantes lo beda dengan yang lain.”

“Sakura juga beda, kan?”

“Kalau gue memang dari orangtua JJ.”

“JJ?”

“Jakarta Jepang.”

“Hmm, dari situ nama Sakura, ya?”

“Iya, gue memang lahir di Kochi. Tepat saat musim bunga sakura lagi mekar-mekarnya,” ujar Sakura, di matanya terlihat sinar kebanggaan akan namanya.

Pintu gerbang kampus sudah tampak, dengan model seperti gapura Bali, atau gapura candi-candi di pulau ini yang pernah kulihat di majalah-majalah. Gerbang itu terlihat sangat berbeda dengan bangunan-bangunan lain yang ada di kampus ini. Sesaat kemudian Sakura terlihat menyapukan pandangannya ke kanan ke kiri, seperti sedang mencari sesuatu.

“Ada apa, Sakura?”

“Jemputan, gue nunggu jemputan.”

“Oke deh, Ev temenin ya.”

By the way, kos lo di mana?

Aku hanya tersenyum, lalu kukeluarkan buku kecil dari tas. Kutuliskan nama, alamat, dan nomor telepon kos di secarik kertasnya. Kusobek, lalu diberikan pada Sakura. Sambil menerima sodoran kertas kecil itu, Sakura pun memberikan sebuah kartu nama.

“Sakura Sastranegara, nama yang cantik, secantik orangnya.”

“Evelyne? Hanya Evelyne?”

“Iya, panggil Ev aja, itu nama yang dititipkan Papa pada ibu asuh.”

“Ibu asuh? Emang ortu lo di mana?”

“Mereka meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil, aku pun waktu itu juga ada di dalamnya. Papa masih sempat menitipkan aku pada dokter yang merawat pada waktu itu, dokter itulah ibu asuhku.”

“Oh, I’m sorry, Ev.”

Thanks, it’s OK. Itu masa lalu.”

“Tapi kok lo fine-fine aja nih…eh, bukan ngedo’ain yang jelek loh ya…,” kata Sakura dengan tawa kecil khasnya.

“Ev juga bingung soal itu, dua orang dewasa aja meninggal, apalagi hanya seorang bayi tujuh hari.”

“Tujuh hari! Sumpeh lo?!”

“Iya, waktu itu Mama memang baru aja melahirkan Ev.”

Miracle!”

“Kehendak Tuhan,” timpalku. Kami pun saling berpandangan lekat-lekat sambil bertukar senyuman.

“Hei, maba!” sebuah teriakan kecil di belakang kami cukup mengagetkan. Seorang kakak panitia dengan baju almamater kebesarannya terlihat berlari-lari kecil ke arah kami. Ada apa lagi, nih? Apa kami membuat kesalahan lagi? Kami saling berpandangan keheranan.

“Kalian yang tadi di sekret BEM sastra, kan?” tanya kakak panitia itu begitu sampai di depan kami.

“Iya, Kak. Ada apa ya, Kak?” jawabku singkat.

“Gini, tolong dimaafkan dan dimaklumi ya sikap Kak Seno tadi.”

“Ah gak pa pa kok, Kak,” sahut Sakura dengan tebaran senyum genitnya, lagi.

“Soalnya Kak Seno itu koordinator sie-DIET Sastra, tau kan?”

“Disiplin dan etika, benar kan, Kak?” kata Sakura.

“Yup, jadi itu udah bagian dari tugas dia,” jelas kakak panitia di depan kami ini.

“Tapi, kan seharusnya…”

“Ah gak pa pa kok, Kak. Kami ngerti, kok,” sahut Sakura memotong perkataanku yang hendak protes.

“Baiklah, thanks ya udah ngerti. Oh ya, kenalin, namaku Nicholas.”

Nicholas! Cukup kaget aku mendengarnya, berani benar cowok satu ini datang sambil minta maaf buat temannya. Jarang-jarang ada kakak panitia yang sudi melakukan hal seperti ini, apalagi masih dalam suasana PENKAM. Atau, mungkin dia ada maksud lain. Dasar kakak panitia, pasti dia lagi tebar pesona.

“Evelyne.”

“Kalo gue Sakura, lengkapnya Sakura Sastranegara. Oh ya, Kak Nicho jadi sie apa?” sergah Sakura dengan genitnya.

“Ada deh, ntar juga kalian pasti tau.”

“Wah, Kak Nicho pake rahasia-rahasiaan, nih,” ujar Sakura yang semakin bersemangat melihat kakak panitia yang sok akrab di depannya.

“Eh, kalian kok nggak pulang? Apa nunggu jemputan? Atau mau kakak antar?” goda kakak panitia satu ini. Tuh kan, mulai kelihatan maksud tersembunyinya.

“Bener nih, Kak Nicho mau nganter pulang gue?” sahut Sakura berbinar-binar.

“Boleh juga. Hmm…kalau Ev gimana?”

“Dia kos dekat sini kok, Kak!” potong Sakura.

“Iya jalan kaki aja, Kak,” tegasku.

“Hmm, gitu ya…”

Dasar Sakura, main potong omongan orang aja... Tapi aku mengerti maksud Sakura, sepertinya aku harus segera meninggalkan Sakura bersama kakak panitia satu ini.

“Eh, maaf ya, Kak Nicho.”

“Ya, ada apa, Ev?” sahut Kak Nicho.

“Ev duluan ya, udah mau Maghrib, nih.”

“Oke deeeh, tha-tha, Ev! Besok jangan telat, ya,” sahut Sakura dengan mata berbinar-binar.

Setelah melempar senyum pada keduanya, aku pun melangkahkan kaki menuju rumah kosku yang memang tidak jauh dari kampus. Hanya menyeberangi jalan dari gerbang timur kampus, lalu memasuki kampung yang tidak terlalu kecil. Sekitar lima puluh meter kemudian ada sebuah rumah bercat putih yang cukup besar dengan halaman di depannya.

Ternyata suasana kota ini tidak separah bayanganku, masih cukup banyak pepohonan di tepi-tepi jalan. Itu pun masih terasa panas. Mungkin karena jumlah penduduknya yang sangat padat, belum lagi kendaraan bermotor yang lalu-lalang di jalan. Gerah sekali rasanya, sampai-sampai keringat mulai menyapaku. Aku harus segera sampai ke rumah kos untuk mandi.

Use Facebook to Comment on this Post