Debu Cintayana – Bab 4 Peristiwa di Tepi Jalan

Debu Cintayana – Bab 4 Peristiwa di Tepi Jalan

Debu Cintayana – Bab 4 Peristiwa di Tepi Jalan.

Tulisan detik di argometer itu terlihat cepat bagiku. Pembicaraan kami masih belum ada satu menit, tetapi di sana sudah tertulis lima ribu rupiah lebih. Aku harus menyelesaikan perbincangan ini kalau tidak ingin kehabisan uang, uang yang diberi Bunda sebagai peganganku selama satu bulan ke depan. Bunda memang berpesan agar aku segera menghubungi beliau begitu tiba di kota ini. Memang tidak langsung, sebab aku keburu tertidur tadi siang. Tetapi setidaknya sudah kulaksanakan malam ini, untuk sekaligus menepis rasa homesick yang belum-belum sudah datang.

debu cintayana“Sudah ya, Bunda.”

“Ya sudah, kamu jaga diri selalu ya, Ev,” suara Bunda berpesan di ujung sana.

“Ya Bunda, assalamu’alaikum.”

Wa’alaikumussalam.”

Suara klek terdengar sekaligus menghentikan argometer yang lincah itu. Mungkin argometer itu kecewa karena aku menghentikan detiknya, mungkin lucu juga bila seandainya argometer itu bisa bicara dan memprotes tindakanku barusan. Beberapa lembar uang seribuan dan gemirincing uang koin berwarna kuning kusam dan perak kuterima sebagai uang kembalian.

Lantas aku keluar dari wartel kecil itu. Suasana masih terasa cerah bagiku, walaupun harus kuakui lebih terasa panas jika dibandingkan dengan kota G. Wartel ini terletak di pinggir jalan di luar kampung tempat kosku, sekitar dua puluh meter dari gerbang kampung.

Di pinggir jalan kembar yang di tengahnya dibelah oleh sungai kecil ini, banyak berdiri toko-toko dalam berbagai bentuk dan usaha. Maklum saja, ini kan kawasan sekitar kampus, bahkan warnet yang di kota kelahiranku saja bisa dihitung dengan jari, di sini seperti menjadi lahan subur tempat tongkrongan kesukaan bagi mahasiswa. Jadi jangan heran kalau warnet bergelimpangan di sekitar jalan ini.

Kulangkahkan kakiku menuju tempat kosku, gerbang kampungnya pun sudah kulihat di depan sana. Ku berjalan di tepian, melawan arus. Tapi tiba-tiba sebuah sepeda motor yang ditumpangi seorang penumpang dari kejauhan terlihat melaju lebih cepat dari yang lain. Sedikit terhuyung kelihatannya, perasaanku terasa tidak nyaman. Semakin tidak nyaman saat kulihat motor itu terhuyung semakin ke tepi, bahkan sedetik kemudian sorot lampunya sudah ada tepat di depanku. Refleks kulontarkan tubuhku menjauh dari sorot itu. Tidak sekedar terlontar, tapi batu-batu kecil dan butiran tanah sudah terasa menempel di siku tangan kananku. Aku lolos dari bahaya tertabrak motor gila itu, tapi pengendara motor itu pun lolos dari dampratan orang-orang di pinggir jalan yang lain. Lolos dan menghilang dari pandanganku, tak ada yang berusaha mengejar, atau lebih tepatnya tak ada yang bisa mengejar. Sedangkan aku sendiri masih kaget dengan kejadian yang cepat ini. Rupanya aku terjatuh.

“Kamu tidak apa-apa?” tanya seorang laki-laki yang dengan cepat sudah menghampiriku.

Aku pun masih belum bisa menjawab pertanyaan itu. Kejadian yang cepat itu membuat dadaku naik-turun dengan cepat juga, suara degup pun masih terasa berat di dada kiriku. Laki-laki di depan ini lalu membantuku duduk di trotoar yang terletak lebih tinggi dari jalan raya. Ada sesuatu yang kurang nyaman, tapi aku masih belum tahu apa itu.

“Tidak apa-apa, kok,” jawabku kemudian setelah sedikit bisa menguasai napasku. Tapi laki-laki ini seperti tidak mendengar kata-kataku, dia mengeluarkan sebuah saputangan warna biru dari dalam saku celananya. Lalu tangannya meraih tangan kananku, serpihan tanah yang menempel di sikuku dibersihkannya. Entah kenapa, kubiarkan tingkah lakunya. Begitu hilang serpihan tanahnya, terlihat darah merah pelan-pelan telah keluar dari sana. Baru kurasakan perih menggantung di tangan kananku, ternyata ini sesuatu yang kurang nyaman yang kurasakan sejak tadi. Sapu tangan biru itu lalu ditempelkannya tepat di sikuku yang berdarah, lalu tangan kiriku dipandunya untuk memegang dan menekan saputangan. Orang-orang yang sedari tadi melihat dan mengerubungiku berangsur-angsur bubar dan meninggalkan kami.

Laki-laki itu pun lalu meninggalkanku sendiri yang masih duduk di trotoar dengan tangan kiri masih sibuk memegang erat siku kanan bersapu tangan, ditambah dengan debar kencang jantungku seakan berlomba dengan keringat dingin yang mulai bercucuran. Dia menuju sebuah gerobak kelontong kecil di pinggir jalan yang tidak jauh dari tempatku duduk. Aku segera tersadar, bukankah aku tidak mengenal laki-laki itu. Ku berdiri walaupun masih sedikit terhuyung, tapi kurasa sudah tidak masalah lagi.

“Kamu sudah tidak apa-apakah?” tanya laki-laki itu sambil sedikit berlari kembali menghampiriku. Disodorkannya sebuah air minum mineral di sebuah gelas plastik, lengkap dengan sedotan plastik kecil yang barusan ditusukannya. Tanpa pikir panjang, kuteguk air itu. Kubutuhkan untuk menenangkan debar yang masih menggelayuti.

“Sudah tidak apa-apa, kok.”

“Benar tidak apa-apa?”

“Iya,” jawabku dengan senyuman yang kupaksakan karena menahan nyeri di siku.

“Rumahmu di mana? Jauhkah?”

“Dekat kok, masuk gerbang kampung ini,” jawabku sambil berusaha menunjuk ke arah gerbang yang sudah ada di depan mata.

“Yuk saya antar.”

“Ah, tidak usah, sudah tidak apa-apa, kok.”

“Ya sudah, kalau sampai rumah segera dibersihkan lukanya dengan air dan sabun, trus dikasih ini.”

Laki-laki ini lalu menyerahkan dua buah pembalut luka, bukan yang berukuran kecil seperti biasanya…. Sedikit kesulitan aku menerimanya, karena tangan kiriku masih sibuk memegangi siku kananku. Dia lalu membantu memegangi saputangan agar tidak terlepas, sambil menyerahkan pembalut luka itu ke tangan kananku. Aneh, ada rasa yang lebih nyaman saat dia memegang sikuku, walaupun nyerinya masih terasa menggangguku.

“Benar tidak mau diantar?”

“Tidak usah, sudah kuat, kok.”

Laki-laki itu hanya tersenyum saat kutinggalkan. Dengan segera kulewati gerbang kampung. Sambil berjalan pelan-pelan kutoleh arah belakangku, laki-laki itu masih berdiri di tempatnya tadi dengan senyuman yang masih ada. Sepertinya dia menungguku untuk berjalan lebih jauh lagi, kuteruskan kembali langkahku, beberapa meter lagi rumah kosku sudah menunggu.

Tapi, bukankah aku belum berterima kasih pada laki-laki itu. Sungguh jahat diriku ini, tidak mempercayai niat tulus seorang laki-laki itu. Walaupun sekedar ucapan terima kasih, tidak sempat kuucapkan untuknya. Apa salah bila aku bersikap hati-hati di kota besar yang baru beberapa jam saja kuinjak tanahnya ini?

Kubalikkan badanku untuk kembali menemui laki-laki itu, ucapan terima kasih dengan senyuman kukira sudah cukup untuk balasan atas pertolongannya, walaupun balasan yang setimpal nanti akan diberi sendiri oleh Sang Pencipta tentunya. Tapi, terlihat laki-laki itu sudah berlari menyeberangi jalan, dia berjalan ke arah kampus. Hanya baju hitamnya yang masih terlihat, semakin jauh dan akhirnya menghilang. Ah, mungkin suatu saat nanti aku akan bertemu dengannya lagi di kampus atau mungkin di jalan ini lagi, tentu dengan suasana yang lebih tenang, tidak seperti saat ini. Untuk sekedar mengucapkan terima kasih, sekaligus mengembalikan saputangan biru miliknya yang saat ini membalut sikuku dengan nyaman.

            Sampai di rumah kos, aku langsung membersihkan luka di sikuku. Perih, tapi tetap harus kubersihkan. Ku duduk di pinggiran ranjang di kamar kos saat kuletakkan saputangan biru itu di meja. Lalu kubuka pembalut luka yang diberikan oleh laki-laki tadi, kutempelkan. Masih terasa perih, tapi sedari tadi rasa hangat terasa di sikuku. Kudirikan tubuhku, tepat di depan dan menatap kaca yang menempel di lemari. Kucari-cari sesuatu itu, sesuatu yang terasa hangat di sekitar siku, tak ada apa-apa di situ.

Ah, kurebahkan tubuhku di ranjang setelah kumatikan lampunya, kulihat langit-langit, masih ada cahaya dari lorong yang masuk dari jendela kaca berselambu yang ada di kamarku ini. Lalu kumiringkan tubuhku, ke kiri. Samar-samar terlihat sebagian saputangan menjuntai ke bawah meja, warnanya tak lagi biru di mataku, lebih gelap. Itu saputangan yang menutupi lukaku, yang menahan agar darah tidak terus keluar, yang pemiliknya sendiri tidak kukenal. Seandainya benda itu bisa terbang, tentu dia sudah terbang menemui tuannya, untuk menceritakan bahwa aku baik-baik saja, sekaligus untuk membawa rasa terima kasihku yang tak sempat kuucapkan.

Rasa hangat dan nyaman semakin terasa, mulanya hanya di siku kananku tepat di sekitar luka, tepat di tempat yang disentuh oleh laki-laki tadi. Tapi kemudian menjalar ke jari-jari, hangat, terasa seperti gatal tapi bukan, entah apa. Lalu dadaku pun seperti ikut-ikutan merasakan, seperti ada jari-jari yang menggelitik hangat di sana. Seperti menyuruhku untuk berbuat sesuatu, yang sesuatu itu aku sendiri tidak tahu.

Bayangan laki-laki penolong tadi kembali terlihat melintas, padahal sudah kupejamkan kelopak mataku sedari tadi. Wajahnya terlihat khawatir saat membersihkan debu yang ada di tanganku, bahkan senyuman itu kembali terlihat saat kutinggalkan tadi. Seorang laki-laki penolong yang mungkin takkan pernah aku bisa mengucapkan terima kasih padanya. Seorang laki-laki penolong yang sudah meninggalkan rasa hangat, gatal, menggelitik tapi nyaman ini. But, he’s still a stranger…Ev!

 

* * *

Matahari belum menampakkan sinarnya, bahkan ayam-ayam pun baru satu-dua ekor saja yang sudah mulai terbangun, sedangkan sisanya masih terlelap di peraduan hangatnya. Memang sudah menjadi kebiasaan bagiku bangun sepagi ini, sebab dulu saat masih tinggal di kota G, biasanya tumpukan panci dan alat masak kotor sepagi ini sudah menyapaku. Walaupun memang tidak ada piring kotor yang masih tersisa, sebab sudah menjadi kebiasaan adik-adik sehabis makan langsung mencuci piring masing-masing. Tapi, walaupun sedikit alat-alat masak yang harus aku cuci, tetap lumayan berpeluh ria di pagi hari, oleh karena semua alat masak itu berukuran tidak normal alias besar-besar. Maklum saja, di panti asuhan itu ada hampir dua puluh kepala yang harus dihidupi, termasuk ibu asuh dan empat orang pegawai. Memang tidak sebesar panti asuhan yang lain, sebab semua dana berasal dari swadaya ibu asuh sendiri.

Mulai empat hari yang lalu sudah tidak ada lagi panci-panci yang menungguku di pagi hari. Agak canggung juga, apa yang mesti aku lakukan. Luka di siku kananku mungkin sekarang sudah mulai mengering; memang terakhir kali kuganti pembalutnya masih terasa perih. Bayangan si penolong waktu itu pun masih cukup lekat di mataku.

Kejadiannya cukup cepat bagiku, dan suasana malam juga semakin tidak mendukungku untuk lebih jelas lagi mengingatnya. Yang kuingat dengan jelas hanya kacamata dan baju hitamnya, baju hitam dengan sebuah gambar huruf ‘e’ kecil yang terbakar dengan api yang warnanya seperti bendera Inggris. Wajahnya sulit kuungkapkan dengan kata-kata, juga tidak bisa kugambarkan dengan coretan, hanya kalau bertemu lagi saja aku pasti mengenalnya.

Ah, mungkin sebaiknya aku melihat kembali barang bawaan yang telah aku siapkan untuk PENKAM hari ini. Terlihat jarum pendek jam wekerku mendekati angka empat, tapi aneh sepagi ini sama sekali tidak terasa dingin. Yah inilah kota S, salah satu kota metropolitan di Indonesia. Pohon-pohon semakin jarang, berganti dengan mall-mall yang bertebaran. Efek rumah kaca semakin terasa di kota ini, berbeda sekali dengan kota G di seberang sana. Sekalipun kota kelahiranku itu termasuk salah satu kota besar di propinsi, tapi masih jauh bila dikatakan mendekati kota metropolitan seperti kota S ini.

Hanya empat angka, itu pun hanya dua angka berbentuk kembar. Si kembar pertama berbentuk bulat-bulat lonjong seperti telur, diapit dua buah angka, kembar juga berlekuk-lekuk sekilas seperti angsa yang terlihat anggunnya. Yah, itulah empat angka yang terpampang di nametag PENKAM. Sederet angka yang akan menjadi kenangan hidupku bahwa inilah saat aku memulai kuliah di tempat yang terpisah lautan dan daratan dengan tempat kelahiranku. Sederet angka yang oleh pencipta bentuknya biasa disebut dua ribu dua ini, kan menjadi kebanggaan diriku dan teman-teman seangkatan di almamaterku.

Semua sudah lengkap, semua sudah terbawa di dalam tas, termasuk saputangan biru yang sudah kucuci dengan bersih, bahkan kuoles dengan sedikit minyak wangi. Mungkin sewaktu-waktu aku bertemu dengan laki-laki penolong itu, hingga aku bisa memberikan saputangan ini. Tapi aku harus bergegas segera mandi dan berbenah. Tentu aku tidak ingin terlambat di hari pertama PENKAM, tentu hukuman yang aneh-aneh sudah menunggu di sana. Yah, mulai saat ini aku harus benar-benar mandiri, kuat, dan tentu saja semangat. Ganbatte, Ev…!

Budi Hermanto on blog

Use Facebook to Comment on this Post