Debu Cintayana – Bab 3 Metropolitan nan Cerah

Debu Cintayana – Bab 3 Metropolitan nan Cerah

Debu Cintayana – Bab 3 Metropolitan nan Cerah.

Hari ini hari Kamis, tanggalnya pun masih awal bulan Agustus. Semua data admistrasi untuk pendaftaran sudah diselesaikan di kota G beberapa minggu yang lalu. Aku hanya menyerahkan berkas-berkas kelulusan dari SMU saja kepada staf perwakilan dari universitas yang akan menjadi tempat kuliahku. Sepertinya universitas itu bekerjasama dengan pemkot di kota G, mungkin juga dengan pemkot-pemkot kota yang lain, sehingga siswa-siswa yang kurang mampu sepertiku bisa mendapatkan kesempatan seperti ini. Tapi itu semua tentu ada timbal baliknya: pada saat aku sudah lulus sebagai sarjana nanti aku diharuskan untuk menerapkan keilmuanku sebagai pegawai di pemkot.

debu cintayanaMemang terkesan seperti paksaan, tapi bukankah hal ini seperti kejatuhan durian runtuh. Sudah bisa kuliah dengan gratis, lulus langsung dipekerjakan pula, bukankah sekarang lapangan pekerjaan sangat terbatas hingga banyak sarjana yang belum mendapatkan pekerjaan. Memang gaji pegawai pemkot mungkin lebih kecil dari gaji pegawai di perusahaan swasta, tapi aku sendiri melihat hal ini sebagai berkah dari Tuhan.

Ternyata bukan hanya aku yang mendapat beasiswa dari pemkot kota G; ada sekitar lima siswa SMU yang bernasib sepertiku. Tapi anehnya, semuanya laki-laki, hanya aku yang perempuan. Tiga orang akan kuliah di Fakultas Teknik dan dua orang lagi di Fakultas Ekonomi. Hanya aku yang kuliah di Fakultas Sastra. Mereka semua memang siswa kurang mampu yang sudah tentu cukup berprestasi di sekolah masing-masing. Bangga juga bisa termasuk dalam orang-orang seperti mereka.

Bersama kami, ada seorang pegawai muda pemkot yang ditugaskan untuk menjadi guide kami di kota S. Tentu tidak selamanya, dia hanya mengantar kami hingga kampus dan tempat kos dalam sehari ini saja. Katanya, dia dulu juga mahasiswa penerima beasiswa seperti kami, mungkin bisa jadi salah satu di antara kami akan mendapat tugas seperti pegawai muda ini nantinya.

Ciuman Bunda masih hangat terasa di keningku, tangisan beberapa adikku yang masih kecil juga masih terngiang-ngiang di telingaku. Sebenarnya mata Bunda juga terlihat berkaca-kaca, tapi sepertinya Bunda tak ingin menjatuhkan air matanya. Mungkin beliau tak ingin membuatku sedih. Itulah bundaku yang selalu mengajarkanku agar selalu menjadi perempuan yang tegar. Beda dengan Mak Inah, perempuan tua tujuh puluh tahunan itu menciumi keningku beberapa kali, air mata yang membasahi pipinya pun bisa kurasakan. Mulai sekarang masakan Mak Inah pun tak bisa lagi kukecap. Mungkin masakan itu adalah masakan terenak yang pernah kurasakan. Suasana kota G yang sejuk, satu-satunya kota kelahiran yang penuh dengan kenangan manis dan indah, sudah kutinggalkan tadi. Sampai jumpa kotaku, aku akan mengejar impian keingintahuanku, suatu saat nanti aku akan kembali bermain-main dengan debu tanahmu, bercanda dengan udara sejukmu.

Dengan penerbangan pertama, kami sampai di kota S. Matahari sendiri belum meluncurkan sinar teriknya. Cerah, itu kesan pertamaku akan kota yang kata orang-orang akan menjadi kota tandingan bagi ibukota negara ini. Ini pijakan kaki pertamaku, wahai kota yang ‘kan menjadi tumpuan keingintahuanku, terimalah aku menjadi muridmu yang semoga takkan pernah lupa untuk menghormatimu. Dan ini sentuhan tangan pertamaku, wahai pulau yang ‘kan menjadi sandaran kekhilafanku, jadikan aku anakmu yang ‘kan selalu merawat dan mendoakanmu. Bunda pun kemarin malam berpesan padaku, agar selalu menghargai bumi, jangan hanya memanfaatkan, tapi juga merawatnya, sebab bumi itu hidup seperti manusia. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.

Memang terlihat berbeda dengan kota G, dari bandaranya saja sudah terlihat jauh perbedaannya. Mungkin dua atau tiga kali lebih megah dari bandara kota M. Memang kota G belum memiliki bandara, mungkin beberapa tahun lagi. Oleh karena itu kami tadi harus berangkat dua jam sebelum tengah malam dari kota G, tentu untuk mengejar penerbangan pertama di kota M.

“Selamat datang,” sapa ramah seorang lelaki tua ketika kami sampai di pintu kedatangan, diturunkannya selembar kertas karton yang sedari tadi diacung-acungkannya, bertuliskan “Rombongan beasiswa dari kota G.”

“Terima kasih, Pak Ridho, bagaimana kabarnya?”

Alhamdulillah, baik-baik selalu, Nak Michael, sepertinya beberapa tahun ini Nak Michael yang bertugas mengantar, ya.”

“Iya, Pak. Sudah tiga tahun ini.”

Pegawai muda bernama Michael ini pun lalu memperkenalkan lelaki tua itu kepada kami semua. Seremoni sesaat ini kemudian dilanjutkan dengan menaikkan barang-barang bawaan kami ke dalam mobil yang diparkir tidak jauh dari pintu kedatangan.

Mobil buatan Jepang, bukan keluaran terbaru yang pasti, bagian atas berwarna putih, sedangkan bagian bawah berwarna merah bata. Tepat di sisi samping bagian tengah tertulis nama universitas yang akan menjadi tujuan kami, sebuah logo yang cukup besar terpampang di pintu depan. Pastilah itu logo universitasnya. Ada gambar burung hantu di sana; memang mitologi beberapa budaya di dunia pun memandang sosok burung hantu sebagai lambang ilmu pengetahuan atau sosok bijaksana yang berilmu. Perlahan tapi pasti, mobil pun bergerak meninggalkan bandara sesaat setelah tidak ada lagi bagian dari kami yang tertinggal.

Gerbang portal bandara beberapa saat yang lalu sudah kami lewati, jalan yang mulus, lebar dan panjang seperti menyapa kami dengan nyaman. Cukup lengang dan cukup sejuk juga. Sebab di jalan kembar yang lebar ini tepat di tengahnya dibatasi oleh taman yang cukup besar. Memanjang seiringan dengan panjang jalan ini. Tanaman yang ditanam tidak besar juga tidak kecil, berwarna mayoritas hijau, hanya beberapa saja yang berwarna merah atau kuning.

Tepat di perempatan berlampu, mobil diarahkan ke kanan. Berbeda dengan jalan tadi, kali ini sebuah jalan lebar dipakai sekaligus dua jalur yang berlawanan, membuatnya menjadi agak sempit. Semakin lama semakin menyempit rasanya, atau hanya perasaanku saja. Sedangkan di dalam mobil, suasana jet lag masih kentara kental. Maklumlah, bisa dipastikan perjalanan udara nan jauh ini menjadi pengalaman pertama bagi kami, kecuali Michael tentunya.

Michael sendiri terlibat obrolan dengan Pak Ridho, seperti teman lama saja. Tapi sesekali Michael menjelaskan sesuatu yang tampak di jalan, mirip guide turis. Sepertinya Michael tahu, walaupun minim sekali suara yang keluar dari kami. Tetapi dalam keadaan normal tentu kami akan sangat antusias memperhatikan suasana kota besar seperti ini.

“Ada satu hal yang harus kalian ingat,” ucap si pegawai muda tiba-tiba dengan suara yang lebih dikeraskan, seperti dia ingin meninggalkan sebuah pesan penting.

“Ingat ya, pemkot hanya memberi kalian kesempatan selama tujuh tahun saja untuk menyelesaikan kuliah.”

“Tujuh tahun?!”

“Ya, lebih dari itu, jika kalian masih belum lulus, pemkot akan angkat tangan. Kalian harus melanjutkan dengan biaya sendiri.”

“Tapi saya yakin, kalian tidak akan butuh waktu selama itu,” timpal Michael kembali sambil tersenyum. Memang, secara normal, kuliah bisa ditempuh selama empat tahun saja. Aku kira tujuh tahun adalah waktu yang lebih dari cukup untuk menyelesaikan kuliah. Bahkan aku pernah membaca, ada saja orang-orang yang mampu menyelesaikan hanya dalam tiga setengah tahun. Wow, apa aku bisa seperti itu?

“Setelah kalian lulus, pemkot pasti akan memanggil kalian. Tapi hanya waktunya saja yang tidak selalu sama.”

“Maksudnya?” tanyaku penasaran.

“Bisa langsung begitu kalian lulus, bisa satu bulan, bisa juga satu tahun baru dipanggil.”

“Lalu bagaimana dengan biaya tempat kos jika sudah lulus tapi belum dipanggil?” tanya yang lain.

“Soal itu selama masih belum dipanggil akan terus dibiayai oleh pemkot.”

“Sampai kapan?”

“Yang pasti ya sampai batas tujuh tahun itu.”

“Wah, enak sekali, ya.”

“Kecuali jika kalian ingin segera pulang, tapi tentu dengan biaya sendiri. Sebab surat panggilan nanti akan disertai tiket pesawat untuk pulang. Dan setahu saya, setelah lulus paling lama satu tahun baru dipanggil,” ujar Michael menjelaskan.

Sejurus kami terdiam, sepertinya semua mencoba untuk lebih mendalami makna penjelasan dari pegawai muda yang duduk di depan tepat di samping Pak Ridho, yang masih dengan telaten mencoba senyaman mungkin mengendalikan mobil yang kami tumpangi ini.

“Sekarang saya hanya akan mengantar kalian melihat kampus, juga tempat kos kalian. Di luar itu semua, kalian harus mencari tahu sendiri. Soal biaya kos, kalian tidak perlu memikirkan, semua sudah ada yang atur. Sedangkan soal biaya praktikum dan buku-buku yang harus dibeli, kalian hanya memberikan laporan ke BAAK, data beasiswa kalian sudah ada di BAAK.”

“Apa itu BAAK?” ujar beberapa dari kami hampir terdengar bersamaan, sebuah istilah yang sudah pasti masih terdengar asing di telinga kami. Michael hanya tersenyum, sebuah helaan napas panjang dilakukannya.

“Tuh, bahkan Pak Ridho juga tersenyum. Ayo tolong jelasin, dong,” pintaku.

“Semua istilah ini akan kalian dapatkan penjelasannya saat PENKAM nanti. PENKAM itu Pengenalan Kampus, ya semacam ospek atau penataran P4 pada zaman dulu.”

“Begitu ya. Jadi penasaran,” timpalku.

“Ingat, hari Sabtu besok kalian datang ke kampus jam delapan pagi. Tentu ke fakultas kalian masing-masing, untuk mengikuti Pra-PENKAM.”

“Pakai baju apa?”

“Ya, baju biasa saja, asal berkerah dan bersepatu. Baju putih-putih baru akan dipakai pada saat PENKAM minggu depan.”

Setelah menjelaskan, pegawai muda itu pun menyerahkan dua lembar kertas. Kertas kecil panjang adalah bukti pendaftaran, sedangkan yang satu adalah surat keterangan beasiswa dari pemkot kota G.

“Surat keterangan beasiswa itu kalian bawa sebagai pegangan kalian selama kuliah di sini, jadi jangan sampai hilang. Biasanya surat tersebut akan ditanyakan oleh BAAK nanti. Sedangkan bukti pandaftaran kalian bawa besok saat Pra-PENKAM, sebab pasti akan ditanyakan oleh panitia PENKAM.

“Jadi selamat menuntut ilmu, pesan saya, jangan hanya kuliah, makan dan tidur saja di sini. Ini kota besar, serap semua pengalaman yang bermanfaat selama kalian di sini. Jangan takut untuk bertanya, lebih baik terlihat bodoh dengan selalu bertanya daripada terlihat pandai tapi kosong otak, bukan begitu?” ujar Michael kembali. Kata-kata tersebut seperti bukan keluar dari mulut seorang pegawai muda, yang sepertinya menikah pun belum sempat dilakukannya.

“Ada pertanyaan?” sahutnya kembali.

Kami masih terdiam setelah mendengar penjelasannya, entah diam kebingungan hingga tidak ada pertanyaan, atau diam karena sudah mengerti hingga tidak ada pertanyaan yang perlu ditanyakan. Yang pasti, buatku penjelasannya sudah lebih dari cukup untuk saat ini.

“Baiklah, kalau ada pertanyaan di kemudian hari, jangan telepon saya, ya. Tapi kalau Ev boleh menelepon saya kapan saja,” lanjut Michael tiba-tiba.

Semua yang ada di dalam mobil lantas tertawa lepas mendengar kalimat terakhir. Suasana jet lag sepertinya sudah semakin menjauh dari kami. Lagipula siapa yang ingin tahu nomor teleponnya…

Michael lalu kembali menolehkan kepalanya ke depan, dipandangnya suasana ramai dan macet yang terlintas di depan mobil. Senyuman terlihat di bibirnya—sepertinya ia teringat kenangan selama masih kuliah di kota metropolitan ini. Kami tidak tega untuk mengganggunya yang sibuk dengan dunianya sendiri, dan kami pun sibuk memperhatikan suasana di sekeliling yang sepertinya sudah mulai terasa panas. It’s OK, this is a metropolitan city…anyway.

* * *

Baru tadi siang aku tiba di rumah kos ini. Begitu memasuki kamar aku langsung tertidur; melelahkan juga ternyata perjalanan tadi. Hampir lima jam perjalanan darat dari kota G menuju kota M; istirahat sebentar lalu dilanjutkan perjalanan udara ke kota S ini. Perjalanan terpanjang dalam hidupku. Tapi sudahlah, bukankah aku mulai saat ini harus lebih kuat. Kulihat jam bekerku: jarum panjangnya berada di angka empat, sedangkan jarum pendeknya sedikit bergeser ke kiri dari angka enam.

Tubuh ini terasa segar sehabis mandi. Kuselesaikan sisiran rambutku, cukup panjang, lebih dari sebahu, tapi cukup mudah menatanya. Bedak tipis sudah cukup untuk wajahku; aku bukan tipe perempuan yang suka merias diri terlalu berlebihan. Badanku pun sudah wangi, wanginya mirip bunga melati yang segar, tapi terasa lebih segar.  Minyak wangi pemberian Bunda ini bukan minyak wangi bermerk. “Ini bibit minyak wangi,” kata Bunda waktu membelikannya untukku. Cara memakainya hanya dioles sekali-dua kali saja dengan jari. Wanginya bisa bertahan hingga dua-tiga hari.

Kusempatkan duduk-duduk di teras samping rumah bercat putih ini. Tadi aku juga sempat berbincang sebentar dengan ibu kos. Perempuan paruh baya itu cukup enak diajak bicara, cara bicaranya lugas dan renyah, membuatku teringat pada Bunda. Ah, belum-belum aku sudah terkena homesick seperti ini.

Suasana di jalanan kampung yang tidak begitu besar ini terasa cukup cerah dipandang mata; jalan-jalannya terlihat bersih. Ada beberapa bocah kecil yang sedang bermain di sana. Matahari memang belum beranjak tenggelam.

Tak jauh dari tempatku duduk, kulihat seorang perempuan muda, mungkin seumuran denganku. Sepertinya dia sedang membujuk seorang bocah perempuan. Entah untuk apa, tetapi aku tertarik pada mereka. Aku pun berdiri dan mendekat. Sang bocah terdengar sedikit merengek. Gadis cilik itu mungkin berumur tiga atau empat tahunan, sepertinya dia tak menginginkan ajakan dari perempuan itu. Ketika aku mendekat, sang perempuan muda terlihat tersenyum padaku, menandakan bahwa dia orang yang ramah.

“Ini, nggak mau mandi, Mbak. Sudah sore malah sukanya main kotor-kotor,” kata perempuan muda itu padaku. Dia seperti tahu akan keingintahuan yang membuatku penasaran pada mereka. Tepat di depan gadis cilik itu aku berjongkok, mencoba mengakrabkan diri dengannya. Rambutnya pendek tak melebihi leher, warna cokelat khas orang Jawa tampak benar di seluruh kulitnya.

“Kenapa, Adek?” sapaku.

“Ini, Mama nggak kasihan.”

Gadis cilik itu sedikit berlari menghampiriku, seperti ingin mengadukan perempuan muda yang ternyata ibunya itu. Benar, perempuan yang selintas kuperkirakan seumuran denganku itu memang ibu kandung si gadis cilik. Tampak benar kemiripan di wajah mereka berdua; kalau pun lebih tua dariku pasti jaraknya tak lebih dari dua tahun. Tetapi melihat dari fisik gadis cilik yang sebesar ini, bisa dibayangkan pasti pernikahan perempuan ini termasuk dini.

Aku tersenyum mengiba, terlihat gadis cilik ini di kedua tangannya menggenggam sesuatu. Tangan-tangan mungil itu terasa tidak menggenggam dengan benar, ada celah-celah yang sepertinya sengaja dibuka.

“Apa itu, Adek?”

“Ini, Kak…”

Genggaman tangan-tangan mungil itu terbuka. Sosok kecil berwarna hijau terlihat sedikit menggeliat di sana. Ah, cukup kaget juga aku…tapi segera kututupi agar gadis cilik ini tidak terkejut juga; bisa-bisa dia jadi takut padaku. Seekor ulat berwarna hijau ada di genggamannya, cukup gemuk dan sama sekali tak membuat gadis cilik ini jijik. Padahal aku sendiri jijik.

“Ini akan jadi kupu-kupu, Kak.”

Kuberanikan diri untuk menyambut tangan mungil ini. Memang tak kusentuh sang ulat hijau; tanganku hanya memegangi bagian bawah tangan gadis cilik ini. Kulirik sang ibu. Dia hanya terdiam melihat kami, dengan senyuman yang sepertinya sengaja terus dia perlihatkan padaku.

“Lihat…cantik, kan, Kak. Apalagi kalau sudah jadi kupu-kupu.”

“Lalu kalau sudah jadi kupu-kupu, mau Adek apakan?”

Gadis cilik di depanku terdiam sesaat, seperti memikirkan sesuatu. Sedangkan si ulat hijau terlihat berusaha keluar dari genggaman tangan mungil, tapi tak bisa karena selalu dihalangi oleh gerakan tangan gadis cilik ini. Mata gadis cilik ini berusaha menjelaskan sesuatu yang tak bisa dia katakan.

“Ya, aku lepaskan, Kak.”

“Terus sekarang mau diapain?”

“Aku rawat…”

Aku tersenyum. Wajah polos gadis cilik ini sangat jujur terasa. Apalagi ditambah dengan sorot matanya yang penuh dengan keingintahuan itu. Perlahan kualihkan tangan kiriku ke kepalanya, kuusap dengan lembut rambut hitam sebahunya.

“Ulat cantik ini juga punya rumah, Adek. Kalau dia dicari mamanya, gimana?” kataku sambil menunjuk lembut si ulat hijau.

“Mamanya siapa, Kak?”

“Ya tentu kupu-kupu yang cantik juga, Adek.”

Si gadis cilik lalu memandangi ulat hijau itu; matanya terlihat sedikit gusar. Tetapi yang jelas, perasaan sayang tampak jelas di sana sedari tadi.

“Jadi harus dikembalikan ke rumahnya, ya, Kak?”

“Iya, dong. Tadi Adek temukan di mana?”

“Di sana, Kak,” dengan isyarat bibir dan matanya, gadis cilik ini menunjuk sebuah tanaman yang tak terlalu besar dan tak begitu jauh, yang memang sengaja ditanam di sebuah pekarangan kecil di depan sebuah rumah yang persis di samping rumah kosku.

“Aku kembalikan ya, Kak.”

Tanpa menunggu jawabanku, dia berlari menuju ke sebuah tanaman. Sang ibu mengekor di belakangnya; aku pun jadi berdiri dan mengikutinya pula. Terlihat tangan-tangan mungil itu berusaha menuangkan ulat hijau ke sebuah daun yang cukup lebar. Begitu selesai, dipandanginya ulat tersebut sesaat, lalu ia berlari kembali ke arahku.

“Sudah, Kak.”

“Nah, kalau sudah, sekarang…eh, nama Adek siapa?”

“Ai…”

“Aisha, nama lengkapnya, Mbak,” sahut sang ibu.

“Kakak panggil Ai, ya.”

Gadis cilik ini hanya mengangguk, matanya terlihat berbinar-binar diterpa cahaya matahari sore. Terlihat tangannya masih saja membentuk genggaman. Apa mungkin ulat hijau itu membuat kulitnya gatal-gatal? Tapi tak terlihat warna merah di sana. Sepertinya ulat hijau itu berbeda dengan ulat bulu yang biasanya bisa membuat kulit merah-merah dan gatal.

“Nama kakak Evelyne, panggil aja Kak Ev.”

“Kak Eve…,” diulangnya nama panggilanku itu, seperti ingin menegaskan.

“Nah, sekarang Adek Ai harus mandi, biar cantik seperti ulat tadi.”

“Begitu ya, Kak?”

“Iya dong. Lihat, Kakak sudah mandi juga, cantik nggak?”

“Iya, Kak Eve cantik.”

“Ya sudah, mandi gih sama Mama.”

“Ya…ya,” sahut Ai sambil langsung menyambut tangan sang ibu, gadis cilik itu dengan riangnya langsung menarik-narik tangan ibunya untuk segera membawanya pergi dari situ. Sang ibu sendiri hanya sempat tersenyum padaku, karena harus segera menuruti tarikan tangan Ai. Rumah tepat di samping rumah kosku sepertinya adalah rumah mereka. Ai terlihat bercericau dengan kata-kata yang tidak dapat dengan jelas kumengerti. Dan ketika hendak memasuki pintu rumah, Ai terlihat membalikan badan dan berteriak ke arahku.

“Aku akan mandi dan cantik seperti Kak Eve…!”

Aku hanya tersenyum. Bayangan dua orang sedarah itu lalu hilang di dalam sana. Ah, ternyata suasana kota S ini cukup menyenangkan juga, walaupun hawa panas ini masih akan terasa hingga menjelang malam ini. Sebaiknya aku segera bergegas menuju kamarku, ada ritual yang harus kujalani sebentar lagi.

Dan sebuah lantunan suara menggema di angkasa sekitar rumah bercat putih ini, tepat ketika warna merah menyeruak di atas sana, di langit sana. Bukan merah benar, tapi bias warna oranye dan kekuningan juga tampak di sana. Sebenarnya itu adalah bias cahaya matahari yang sedikit demi sedikit mulai tertutupi oleh daratan. Rotasi bumi memang memungkinkan hal itu. Bagi manusia yang berdiri di bumi ini, mataharilah yang terlihat bergerak dan seperti tenggelam. Padahal bumilah yang berputar mengelilingi matahari. Tetapi pernah kubaca dalam sebuah artikel, matahari sendiri juga bergerak mengelilingi pusat galaksi Bima Sakti, karena memang sistem tata surya tempat bumi berada hanya merupakan salah satu bagian dari Bima Sakti. Bahkan ada yang pernah berujar kalau Bima Sakti sendiri juga bergerak. Ah! Ya, bergerak mengelilingi suatu…entahlah apa namanya, sebab para ilmuwan sendiri juga masih belum bisa menamakan. Sebut saja langit. Nah, yang menjadi pertanyaan sekarang, seberapa besar langit itu, hingga para galaksi itu hanya menjadi salah satu bagian dari isinya. Entahlah, semakin dipikirkan semakin bingung saja. Yang pasti itulah kekuasaan Tuhan. Mungkin manusia harus bertanya sendiri pada Tuhan, jika ingin benar-benar mengetahuinya.

“Ada depot kecil di dekat pintu gerbang kampung ini,” jawab ibu kosku ketika aku bertanya tentang tempat makan sederhana yang biasa dicari oleh para mahasiswa di sekitar sini. “Kanan jalan dari sini, rumahnya bercat merah,” timpalnya lagi.

Seperti kebanyakan rumah kos, tempat ini juga hanya menyewakan kamar tidur dengan fasilitas kamar mandi dan listrik saja. Sedangkan untuk makan dan minum harus membeli di luar. Aku sempat bingung juga…. Bagaimana tidak, di bagian rumah yang menjadi kamar-kamar yang disewakan untuk mahasiswi ini tak ada seorang pun yang tinggal. Bukannya tidak ada yang menempati, tapi semua sedang liburan pulang kampung. Hanya aku seorang yang mahasiswa baru. Tentunya bagi mahasiswa lama, saat ini adalah saat yang menyenangkan setelah berjibaku dengan kuliah dan ujian.

Suasana di luar cukup cerah, bahkan bertambah terang dengan lampu-lampu di rumah-rumah penduduk di kampung yang cukup besar dan padat ini. Kebanyakan rumah di sini memang digunakan sebagai rumah kos bagi mahasiswa.

Benar juga, di ujung jalan tepat di sebelah kanan gerbang kampung ada sebuah depot kecil yang dijaga oleh seorang perempuan paruh baya. Keadaan di dalam depot masih sepi-sepi saja, hanya ada seorang laki-laki berbaju hitam yang duduk di pojok sana sambil menikmati makanannya.

“Selamat malam, Ibu.”

“Malem, Nak? Mau makan apa?” tanya ibu penjaga depot sambil mempersilahkanku duduk.

“Makanan yang ada apa aja, Bu?” tanyaku balik.

“Hmmm, itu tertulis di menu,” jawab si ibu sambil menunjuk ke arah kertas besar yang sepertinya sengaja ditempel di tembok. Kubaca sesaat, tapi aku malah jadi bingung. Tak ada nama-nama makanan yang biasa kumakan di kota G. Sepertinya mulai saat ini aku harus membiasakan makan makanan di sini.

“Sayur sop saja, Bu,” jawabku. Kupilih sop karena kupikir pasti penuh dengan sayur-sayuran.

“Lauknya apa, Nak?”

Kucoba memelototi lauk-lauk yang terlihat disajikan di berbagai piring di dalam sebuah kotak besar yang berdindingkan kaca.

“Ikan tongkol, aja Bu. Oh ya, nasinya setengah aja, ya, Bu.”

Perempuan paruh baya di depanku itu tersenyum mendengar kata-kataku yang terakhir. Dengan sigap tangan-tangan tuanya bergerak menyiapkan pesananku. Walaupun sudah banyak kerut-kerut urat yang terlihat di tangannya, tapi masih terlihat bahwa itu adalah tangan kuat yang sudah mengalami berbagai pahit-getir kehidupan. Umurku sendiri pasti belum ada sepertiga dari pengalaman ibu ini.

“Oh ya, Nak, ini dimakan di sini atau dibungkus.”

“Dimakan di sini, Bu.”

“Biasanya mahasiswi-mahasiswi yang beli di sini mintanya dibungkus, Nak,” kata si ibu, tidak menghentikan pekerjaan tangannya.

“Hmmm, saya mahasiswa baru, Bu.”

“Pantas, sebab sekarang kan masih liburan.”

“Iya Bu, oh ya, nama saya Evelyne, tapi panggil saja Ev.”

“Saya Bu Tijah, Nak Ev,” kata si ibu sambil menyerahkan makanan pesananku, cepat juga kerja tangan ibu ini.

“Ev kos di rumah Pak Sastro.”

“Oh ya…ya,” jawab Bu Tijah sambil mengangguk-anggik, sepertinya nama Pak Sastro sudah tidak asing lagi baginya. “Minumnya apa, Nak Ev?”

“Es teh saja Bu, tapi tanpa gula.”

“Teh tanpa gula?” ulang Bu Tijah seperti keheranan, “Apa tidak pahit?”

“Tidak Bu, sudah biasa dari kecil.”

“Apa Nak Ev dari Sunda?”

“Bukan Bu, hanya kebiasaan bunda Ev saja, kok.”

“Oh, begitu.”

Suara bongkahan-bongkahan kecil es batu saat terjatuh di gelas kosong terdengar bergemerincing. Lalu air teh yang sudah terseduh langsung meluncur menyapa es batu yang sudah menunggu sedari tadi. Perempuan paruh baya itu pun bergegas menghampiriku sambil membawa teh pesananku.

“Ev dari kota G, Bu.”

“Wah, jauh sekali, Nak.”

“Biasa aja, kok, Bu, hanya menyeberangi laut dan selat saja,” jawabku sambil tersenyum.

“Terus Nak Ev nanti kuliah di fakultas apa?”

“Sastra, Bu.”

“Hmmm, memang kebanyakan mahasiswi yang kos di tempat Pak Sastro itu anak-anak sastra.”

“Benarkah itu, Bu?”

“Iya. Ya sudah, silahkan dinikmati makanannya,” kata Bu Tijah sambil berbalik badan meninggalkanku. Sedikit terlihat di mataku, laki-laki berbaju hitam di pojok seperti menoleh sesaat ke arahku saat kukatakan aku akan kuliah di Fakultas Sastra, padahal sedari tadi laki-laki itu seperti tidak menghiraukan kehadiranku. Mungkin karena dia mahasiswa sastra juga.

Tidak lama kemudian, laki-laki berbaju hitam itu pun bergegas membayar makanannya. Bayangannya lalu hilang berbelok ditelan gerbang kampung di depan sana. Ah, apa urusannya denganku, yang penting kan aku tidak mengganggu orang lain. Aku pun sibuk dengan nasi sayur sopku, cukup enak juga walaupun masih sedikit terasa asing bagi lidahku.

Budi Hermanto on blog

Use Facebook to Comment on this Post