Debu Cintayana – Bab 2 Amplop Putih Pembawa Berita

Debu Cintayana – Bab 2 Amplop Putih Pembawa Berita

Debu Cintayana – Bab 2 Amplop Putih Pembawa Berita.

Ilmu pengetahuan manusia saat ini semakin cepat saja dalam perkembangannya. Kalau dulu pada akhir abad ke sembilan belas, kalau boleh diibaratkan, ilmu pengetahuan manusia masih merangkak dan berdiri tertatih-tatih layaknya balita. Tapi sekarang pada awal abad dua puluh satu ini, ilmu pengetahuan seperti berlari, saling kejar-mengejar dengan usia bumi itu sendiri. Mungkin jika bisa berbicara, ilmu pengetahuan akan berkata, selagi bumi masih kuat menopang maka ilmu pengetahuan tertinggi harus segera dimunculkan. Sebab jika bumi sudah tidak kuat menopang lagi, bisa dipastikan hanya ilmu pengetahuan tertinggi yang bisa menyelamatkan manusia. Tapi, bagaimana ilmu pengetahuan tertinggi itu berbentuk?

debu cintayanaApa seperti kereta api shinkansen, kebanggaan bangsa Jepang yang mampu menempuh Osaka-Nagoya yang berjarak dua ratus lima puluh kilometer, bisa ditempuh hanya dalam waktu lima puluh tiga menit saja, itu pun ditempuh dengan suara yang sangat minim. Bagaimana bisa tidak berisik, shinkansen pada saat berjalan sama sekali tidak menyentuh bumi. Memang tidak bisa dikatakan terbang juga, tapi dengan lebih dari satu inci di atas rel sudah cukup bagi shinkansen untuk bisa berlari melebihi kecepatan terbang pesawat-pesawat penumpang yang ada saat ini. Seperti itukah? Atau masih kurang?

Belum lagi dokter-dokter di benua Eropa yang saat ini sedang mengembangkan teknologi nano, sebuah teknologi yang menggunakan semacam chip atau robot super mini yang akan dimasukkan ke dalam tubuh manusia untuk menemukan secara langsung letak penyakit, dan sekaligus membunuh penyakit itu dengan obat-obatan yang dibawanya. Bisa dibayangkan seberapa kecil teknologi nano itu jika harus dimasukkan dalam tubuh manusia tanpa merusak atau mengganggu tubuh manusia itu sendiri.

Dokter-dokter itu percaya jika teknologi nano ini berhasil dikembangkan, maka para penderita penyakit dalam yang akut semacam kanker akan bisa tersenyum dengan tenang. Sebab pengobatan kanker pada saat ini yang masih menggunakan metode kemoterapi, terbukti banyak menimbulkan efek samping; sel-sel sehat yang ada di sekitar sel-sel kanker akan ikut musnah terkena sinar-X yang digunakan. Tentu saja jika teknologi nano itu sudah berhasil dikembangkan, maka akan banyak penyakit-penyakit dalam akan dengan mudah teratasi, itu harapannya.

Semua teknologi itu sebenarnya bermuara pada dua kata, yakni ilmu pengetahuan. Tapi apa sebenarnya ilmu pengetahuan itu sendiri? Apa dia sudah ada sebelum manusia ada? Atau ilmu pengetahuan itu sendiri sudah ada di dalam manusia. Sebab bisa dilihat dalam sejarah peradaban manusia, teknologi atau ilmu pengetahuan sudah ada pada keberadaan setiap generasi manusia, dan tentu saja di setiap generasi itu akan berbeda dalam penerapan maupun tingkat pengetahuannya.

Tapi bukankah ilmu pengetahuan itu ada disebabkan sifat keingintahuan dari manusia itu sendiri? Tanpa keingintahuan, takkan ada yang dinamakan ilmu pengetahuan, walaupun mungkin ilmu pengetahuan itu sendiri sudah ada sebelum manusia. Entah keingintahuan itu dilakukan karena terpaksa untuk mempertahankan hidup, atau hanya sekedar temuan tongkrongan iseng tanpa sengaja manusia. Yang jelas sifat keingintahuan manusia yang besar itulah yang menumbuhkan ilmu pengetahuan semakin berkembang dan berkembang.

Dan atas nama keingintahuan itu, aku pun akhirnya terdampar di kota metropolitan ini. Memang keingintahuan yang aku rasakan saat ini tidak secepat keingintahuan insinyur-insinyur perancang shinkansen atau sedalam keingintahuan dokter-dokter pencetus ide teknologi nano, tapi keingintahuanku ini bisa dikatakan sejajar dengan mereka dalam hal untuk mempertahankan hidup maupun niatan untuk membantu orang-orang yang sudah menyayangiku tanpa merasa untuk dibalas.

Yah, memang masih sebatas itulah keingintahuanku saat ini, mungkin dengan berjalannya waktu tentu keingintahuanku akan semakin berkembang. Entah seperti apa perkembangannya nanti, tapi yang jelas keingintahuanku sendiri sebelum pendamparanku, sebenarnya sudah hampir pupus. Tapi pada siang itu semua berubah seratus delapan puluh derajat.

Saat itu seperti biasa dengan menggunakan sepeda miniku, aku menapaki jalan antara sekolahku dengan rumah. Hari ini aku pulang lebih cepat dari biasanya, beginilah hari-hari terakhirku di SMU. Ujian akhir pun sudah aku lakoni beberapa minggu yang lalu, sekarang hari-hariku di sekolah hanya menyelesaikan data-data pertanggungjawabanku sebagai Ketua OSIS. Hanya tinggal menambah sedikit data di sana-sini, bahkan data keuangan yang paling membuatku sedikit stress sudah terdata dengan baik.

Mungkin berkas ini akan aku serahkan besok, besok mungkin juga menjadi hari terakhir kepengurusan OSIS yang sudah kupimpin setahun terakhir ini. Kenapa masih mungkin, karena pada saat aku menyerahkan berkas pertanggungjawaban, aku juga akan disidang oleh guru-guru pembina OSIS beserta kepala sekolah dan perwakilan dari tiap-tiap kelas tentunya. Jika semua dianggap bagus, tentu berkas pertanggungjawaban itu akan diterima, dan tentu aku dan tim OSIS-ku akan dianggap berhasil dalam kepengurusan itu.

Memang sudah beberapa tahun ini, sekolahku menerapkan pengaturan kinerja OSIS semirip mungkin dengan organisasi-organisasi kemahasiswaan di universitas. Untuk pembelajaran siswa, kata kepala sekolah waktu memutuskan penerapan seperti itu dimulai. Saat itu aku masih baru saja memulai belajar di SMU negeri pertama di kota G ini, tapi sekarang setelah aku merasakan sendiri penerapan itu, terasa banyak sekali manfaat yang kuterima. Banyak berbagai macam problem dan konflik yang harus bisa diatasi, tapi walaupun tidak sesempurna yang diharapkan berbagai kalangan, aku beserta teman-teman berhasil menyelesaikan semuanya.

Sinar matahari masih bersinar cukup terik siang itu saat kubuka pagar depan, paman penjaga pintu pun kulalui dengan senyuman. Seperti biasa suasana di siang hari memang tidak seramai di sore hari, adik-adik masih banyak yang belum pulang dari sekolah mereka masing-masing. Bunda memang membiasakan semenjak kecil pada anak-anak asuhnya untuk menyukai kegiatan di luar jam sekolah, jadi rata-rata mereka pulang pada jam-jam menjelang sore hari. Kalau pun ada yang pulang, hanya untuk ganti baju dan makan siang saja, lalu kembali keluar untuk mengikuti kegiatan di sekolah. Kata Bunda kegiatan di sekolah itu baik yang berupa olahraga, seni, atau kegiatan siswa semacam OSIS mungkin bisa menjadi jalan alternatif bagi masa depan kami. Jangan pernah meremehkan bakat seni atau olahraga, kata Bunda di suatu waktu.

Sesaat setelah mengganti baju putih abu-abu yang menempel di badan dengan baju yang biasa kupakai di rumah, terdengar Bunda memanggilku dari arah ruang tengah. Aku mengiyakan sesaat setelah keluar dari kamar mandi, lalu aku pun beranjak ke arah suara Bunda tadi. Langkahku melewati sebuah lemari es tua yang masih bisa berdiri cukup kokoh di ruang tengah, sesaat kuhentikan langkahku, sebuah rasa yang menggelitik terasa menggodaku. Menggoda untuk sekedar menyapa lemari es itu, segera saja kubuka pintu dingin itu. Dan benar saja, apa yang menggodaku memang terlihat di sana. Bulat tak terlalu besar, paling-paling segenggam penuh tanganku, warna merahnya terlihat indah, dan sudah tentu akan terasa manis di lidah. Sebuah tomat ranum langsung kusambar, terlihat bersih—pasti karena sudah dicuci sebelum masuk di lemari es ini.

Memang dari kecil aku suka sekali mengunyah buah tomat mentah-mentah seperti ini, apalagi yang sudah merah benar seperti ini, terasa manis sekali. Buah yang oleh sebagian orang dipandang bukan sebagai buah, tapi sebagai sayur, hanya karena tomat biasa digunakan dalam acara masak-memasak. Sebuah pandangan yang salah, ada perbedaan yang sudah pasti antara buah dan sayur. Buah tumbuh dari bunga yang sudah dibuahi, pertemuan putik dan benang sari itulah yang kemudian menjadi buah. Sedangkan sayur, sudah jelas merupakan daun dari sebuah tanaman.

“Bunda memanggil Ev?” tanyaku sesaat setelah sampai di depan beliau. Bunda hanya mengangguk lembut, senyum khas di bibirnya selalu tersedia. Lalu beliau memberi isyarat agar aku duduk tak jauh dari beliau.

“Ev, sebentar lagi kamu lulus, kan?”

“Iya Bunda, Senin depan pengumumannya.”

“Bunda yakin kamu lulus bahkan dengan nilai di atas rata-rata.”

“Ah, Bunda selalu begitu.”

“Iya, Bunda yakin itu.”

“Siapa dulu dong Bundanya.”

“Hmm, balas, nih.”

Aku hanya tersenyum saat Bunda meletakkan tangan kanannya di kepalaku. Ada perasaan nyaman saat tangan itu mulai bergerak lembut tepat di ubun-ubunku.

“Terus apa rencanamu, Ev?”

“Ev akan cari kerja, Bunda.”

“Kamu tidak ingin kuliah, atau daftar SPMB?”

“Keinginan itu ada Bunda, tapi…”

“Tapi kenapa, Ev?”

“Ev merasa egois kalau ingin kuliah.”

“Kok bisa begitu?”

“Sebab untuk biaya sekolah dan makan seluruh adik-adik aja, Bunda sudah pontang-panting mencari donatur untuk tambahan biaya. Apalagi kalau Ev kuliah nanti.”

Bunda memandang mataku lekat-lekat, senyum khasnya tetap tak tergantikan. Tangan kanannya beranjak menuju pundakku, dengan gerakan seperti memijit tangan itu pun seperti berusaha membuatku nyaman.

“Coba seandainya dulu, kamu terima pinangan orang kaya yang ingin menjadikanmu sebagai anak,” mata Bunda memandang jauh.

“Apa Bunda menginginkan hal itu?” tanyaku gusar.

“Tidak, tentu tidak. Setiap anak yang Bunda asuh di sini, sudah Bunda anggap layaknya anak Bunda sendiri. Bunda hanya menginginkan yang terbaik buatmu, Ev. Sekalipun yang terbaik itu mungkin bersama orangtua lain.”

“Tidak Bunda, bukan itu yang terbaik. Yang terbaik bagi Ev adalah di sini, bersama Bunda.”

Mata Bunda terlihat seperti berair, beliau lalu memelukku. Air mataku tak terasa sudah mengalir, membasahi baju beliau, bercampur dengan wangi tubuh beliau. Memang, di sini aku tidak pernah merasa seperti di panti asuhan, tapi seperti rumah biasa layaknya. Aku dan adik-adik selalu diberi keleluasaan untuk memilih, kalaupun memilih untuk tetap tinggal di sini, tentu harus bisa berbagi dengan yang lain, tidak bisa semaunya sendiri. Itulah yang kulihat, jika aku melanjutkan ke jenjang kuliah tentu beban Bunda akan semakin berat saja.

Sekalipun Bunda sendiri pernah mengatakan, akan berusaha menyekolahkan kami semua hingga sarjana. Kalau dulu mungkin masih bisa, tapi sekarang Bunda sudah pensiun dari dinas kedokterannya. Bahkan untuk tetap bekerja di beberapa rumah sakit swasta seperti dulu saja sudah dihentikan beliau satu tahun yang lalu, karena tubuh beliau sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Memang sudah saatnya beliau mengistirahatkan tubuhnya, tubuh tuanya itu sudah lebih dari lima puluh lima tahun hadir di bumi ini. Saat ini, hanya dokter praktik di rumah ini saja yang bisa beliau dedikasikan.

Tapi, dari dulu Bunda memang rajin, menurut beliau tabungannya masih sanggup untuk menyekolahkan kami semua. Walaupun begitu, aku masih merasa tidak benar jika tetap menginginkan kuliah. Tentu sebaiknya dana di tabungan beliau digunakan untuk biaya sekolah adik-adik yang lain. Aku adalah anak tertua di rumah ini, dan masih ada sekitar dua belas anak yang tentunya tidak sedikit biaya hidup mereka. Bukankah biaya sekolah selalu naik setiap tahunnya. Memang para donatur setia yang kebanyakan merupakan teman-teman Bunda semasa aktif di kedokteran masih banyak yang membantu mendanai kami. Tapi bukankah hal itu tidak bisa dipastikan ada, jadi dengan berat hati kuurungkan niatku untuk kuliah.

“Sekalipun Ev lolos SPMB dan mendapat beasiswa misalnya, biaya buku dan biaya yang lain-lain di luar biaya kuliah tentu lebih besar dari biaya sekolah di SMU, Bunda,” sahutku sesaat setelah Bunda melepaskan pelukannya.

“Tapi Tuhan Maha Mengetahui, Ev,” kata Bunda tiba-tiba, tapi pandangannya disapukan ke teras depan rumah seperti mencari rumput-rumput liar di kebun depan untuk kemudian dipotong.

“Ev tidak mengerti maksud Bunda.”

“Tuhan tahu kalau kamu ingin kuliah, Ev.”

“Hmm…”

“Lalu Dia mengirimkan surat ini,” disodorkan sebuah surat beramplop.

“Apa, Bunda?”

Aku semakin keheranan dengan kata-kata yang terlontar dari bibir perempuan tua yang selalu tak ketinggalan untuk menunjukkan senyum khasnya ini. Belum habis keheranan yang berputar-putar di syaraf-syaraf otakku, kuterima surat yang disodorkan Bunda, sebuah surat yang dibungkus dengan amplop putih panjang.

“Surat apa ini, Bunda?”

“Kamu baca dulu.”

Tangan-tangan mungilku dengan sigap segera membuka amplop putih itu, ada dua lembar kertas di dalamnya. Sejenak suasana hening, aku sibuk membaca surat sedangkan Bunda tak sedetik pun meninggalkan pandangannya kepadaku.

“Wah, beasiswa kuliah, apa benar ini Bunda?”

“Iya Ev, itu memang dari Dinas Pendidikan Pemerintah kota G.”

“Tapi bahkan Ev kan belum lulus?”

“Ini tanda bahwa kamu sudah pasti lulus, sekarang pasti data mengenai kelulusan sudah di tangan pemkot. Tentu saja mereka lebih mengetahui hal ini, dan tentu mereka sudah memantau kamu selama ini.”

“Menurut Bunda gimana?”

“Ya, walaupun bukan di universitas negeri seperti kalau kamu mengikuti SPMB, biaya kuliah termasuk biaya buku, praktikum, dan biaya yang lain yang menyangkut perkuliahan, semua ditanggung oleh pemkot. Bahkan kamu juga tidak perlu memikirkan biaya kos, Ev.”

“Wah, wah…”

“Coba kamu baca perinciannya di lembar kedua, Ev.”

Keterkejutanku masih belum reda saat kubaca lembar kedua dari surat itu. Di sana tertulis semua perincian biaya kuliah dan biaya praktikum yang akan ditanggung oleh pemkot. Bahkan tertulis juga, mahasiswa penerima beasiswa mendapatkan tempat kos yang sudah disediakan.

“Hanya biaya makan tiap bulannya yang harus Bunda sediakan.”

“Apa Bunda berkenan?” hatiku tiba-tiba menjadi segar, ada sebuah harapan baru untuk mewujudkan keinginanku untuk kuliah.

“Kalau hanya biaya makan sehari-hari, Bunda masih mampu, Ev.”

“Benarkah, Bunda?” tanyaku sambil tersenyum. Bunda mengangguk pelan.

“Bagaimana? Kamu bersedia?”

“Kalau Bunda merestui, tentu Ev bersedia.”

“Tapi ada satu hal yang kamu pikirkan juga, Ev.”

“Apa itu, Bunda?”

“Di situ tertulis kamu tidak bisa memilih fakultas dan jurusan sendiri.”

“Oh, nggak apa-apa, kok, Bunda, sebab fakultas yang pemkot pilihkan memang sesuai dengan keinginan Ev.”

“Oh iya ya, tentu mereka melihat kamu sebagai siswa berprestasi dari kelas bahasa.”

“Ah, Bunda bisa saja, ini cuman kebetulan.”

“Tidak, Ev, ini bukan kebetulan, ini anugerah dari Tuhan.”

Kata-kata Bunda yang terakhir ini membuatku merasa bersalah. Bersalah karena sempat melupakan Dzat yang selalu menemaniku, Dzat yang selalu melindungiku. Tentu semua ini sudah menjadi rencana-Nya, yang tentu saja aku tidak bisa mengetahui apa rencana-Nya selanjutnya. Aku hanya harus selalu bersyukur dan menjalaninya dengan semangat dan optimisme, bahwa yang terbaik menurut-Nya-lah yang sedang menungguku di sana.

“Bunda merestuimu, Ev.”

budihermanto.com

Use Facebook to Comment on this Post