Debu Cintayana – Bab 1 Debu Cintayana

Debu Cintayana – Bab 1 Debu Cintayana

Debu Cintayana – Bab 1 Debu Cintayana.

Dahaga akan keingintahuan telah menerbangkanku dengan tega
Untuk membelakangi Limboto-ku dan hanyut meneguk air Sungai Emas

budi hermantoHingga di jalan remang-remang itu kutemukan dirimu
Pahlawan yang sudi menepis debu
Dia, adalah matahari yang bisa membenih
Benih-benih yang terlalu cepat tumbuh berkembang untuk terbang

Wahai Yang Terkuat…
Mampukah aku menahan pasungan-Mu ini
Pasungan teragung dalam hidupku
Tolonglah aku…
Kirimkan setetes angin semangat-Mu atau mungkin sebutir air keyakinan
Yakin untuk lewati lorong malam tanpa pagi ini
Hingga gerbong kesucian hidup akan terus berjalan

Wahai Yang Terkasih…
Pantaskah aku menerima ciuman-Mu ini
Sungguh indah, hingga tak ingin kudapatkan dari yang lain
Tolonglah aku…
Jangan biarkan bayi arogan ini telanjang dan hanya bisa menghitung bintang
Tanpa bisa menghentikan tangisan merdunya
Hingga berprasasti bahasa bumi

Wahai Yang Terkaya…
Sampaikan salamku untuk dia, dia, dan dia
Mungkin, akan segera kususul
Tolonglah aku…
Pilihkan malaikat pendamping untuk melewati jalan rambut nan tajam ini
Untuk menyampaikan kerinduan terwangi dalam hidupku
Inilah kerinduan yang dia titipkan

debu cintayanaNamun, dia memang matahari
Yang singgasananya semestinya di atas sana
Bawa serta aku…
Ajak jemput aku…
Jangan tinggalkan aku
Tidakkah dirinya rindu
Pada si Debu kesayangan ini
Yang selalu menginginkannya…
Wahai sang Cinta…

 

Tanpa mengalphakan Sang Mpu dari ruang dan waktu

Sesungguhnya masa depan manusia tergantung dari usaha dan pilihan manusia itu sendiri

Tapi senihil mungkin, usaha dan pilihan itu jangan sampai menyiksa yang lain

Kita, manusia, tidak berdiri sendirian di bumi ini

Budi Hermanto on blog

Use Facebook to Comment on this Post